Dua bulan lalu, saya bertemu dengan Toshi Kazama—fotografer profesional etnis Jepang yang telah menjadi warga negara Amerika Serikat—saat diskusi mengenai hukuman mati di Plaza Indonesia. Saat itu, Toshi sedang tur kampanye stop hukuman mati dengan tagline “End Crime Not Life”, yang memuat hasil jurnalisme fotografi terhadap 20 tahanan hukuman mati di Alabama.

Toshi memberikan saya perpektif baru mengenai hukum, dan itu menjadi semacam lentera dari banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya mengenai hukum dan kemanusiaan.

Sebelum bertemu Toshi, saya ada di posisi setuju dengan adanya hukuman mati atas beberapa kasus. Well, perspektif saya, seseorang dijatuhi hukuman mati pasti karena kejahatan yang memiliki ekskalasi luas atau telah merugikan atau membahayakan banyak orang.

Akan tetapi, presentasi Toshi mengantarkan saya pada penyelidikan terhadap “mengapa kejahatan bisa terjadi”. Perspektif mengapa kejahatan terjadi inilah yang menjadi penting, sebelum pada akhirnya kita merenungkan paradigma dan realitas hukum yang tengah berlangsung.

Mengenai Toshi Kazama dan Proyeknya

Toshi adalah seorang ayah dari tiga anak, dan sudah lama menetap di Amerika Serikat. Toshi bekerja sebagai fotografer profesional untuk beberapa majalah, dan terkadang mendapat kesempatan untuk membuat portrait tokoh ternama di Amerika Serikat.

Jadi, ceritanya, Toshi tergerak untuk memberikan kontribusi terhadap keadaan sosial setelah ia mengalami tragedi pemukulan oleh orang tak dikenal, yang menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran pada telinga kirinya. Toshi koma selama tiga hari, dan setelah bangun dari “kematian sementara”nya, Toshi bertekad untuk melakukan perubahan. Ia memilih untuk mengangkat realitas hukuman mati di Alabama.

Pada awalnya, Toshi ditolak untuk melakukan fotografi terhadap tahanan hukuman mati. Namun, setelah menghubungi salah seorang birokrat militer dan pengacara yang meyakinkan bahwa tidak ada aturan yang tidak memperbolehkan seorang warga negara untuk melakukan fotografi di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas), proyek kemanunusiaan Toshi akhirnya dimulai.

Toshi menemui dua puluh tahanan hukuman mati, membuat fotografi mereka, dan mewawancarai mereka secara personal. Here are 2 of them.

Pertama, Michael Shawn Barnes. Ia adalah laki-laki berumur 16 tahun dengan IQ sebesar 67. Michael dijatuhi hukuman mati atas kasus pembunuhan sadis terhadap dua orang dewasa karena polisi menemukan sidik jarinya di tempat kejadian perkara (TKP).

Toshi menyangsikan hukuman mati terhadap Michael—yang mengalami pelecehan seksual selama di penjara—sebab ia seringkali tak mengerti apa yang Toshi tanyakan. "I cant imagined how was this boy murder people, he didn't even understand his sentence," kata Toshi.

Toshi menceritakan bahwa para juri sebenarnya menjatuhi hukuman seumur hidup kepada Michael, tetapi hakim menetapkan hukuman mati.

Kedua, sebut saja Edie, karena Toshi menyembunyikan nama aslinya. Edie menggantikan hukuman mati adiknya yang membunuh seseorang dengan cara yang brutal dan sadis. Toshi menyayangkan mengapa orang tak bersalah dapat dibiarkan menggantikan hukuman mati seseorang, yang sebenarnya, motif pembunuhan sampai saat ini tidak berhasil dibongkar.

Toshi menyesalkan apa yang terjadi pada Michael dan Edie dengan menyimpulkan, "Police only want to close the case. Prosecutors only want to win the case. And the judge's job is to reassure the public.” Polisi hanya ingin menutup kasus dengan cepat, hakim hanya ingin memenangkan suatu kasus, dan juri hanya bertugas meyakinkan publik.

Toshi kemudian mengabarkan bahwa hukuman mati di Amerika Serikat, berdasarkan penelitiannya, hanya dijatuhkan kepada warga negara dengan latar belakang kelas bawah dan tidak berpendidikan tinggi. Ini menjadi pelengkap daftar hitam dari penegakkan hukum, ditengah kesalahan paradigma hukum dan kelamnya realitas di dalam penjara, yang menjadi pembahasan utama dari tulisan ini.

Institusi Keluarga, Kekerasan, dan Tindak Kriminal

Analisis saya mengenai hubungan antara tindak kriminal dengan institusi keluarga dan kekerasan didasarkan pada rekaman program acara invetigasi “Born to Kill” dan “A Criminal Mind” di stasiun televisi Crime and Investigation (CI). Saya mengangkat empat kasus agar tidak terlalu panjang lebar.

Empat kasus tersebut cukup menegaskan bahwa sebagian besar pelaku tindak kriminal merupakan produk keluarga bermasalah, yakni keluarga dengan orangtua pemabuk, kasar, dan suka melakukan kekerasan. Bibit kekerasan tersebut, pada kemudian hari, ketika menemukan “trigger”nya, siap untuk menjatuhkan korban.

Pertama, kasus Patrick Mackay. Ayah Patrick adalah seorang mantan prajurit Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang mengalami trauma. Ia berusaha menghilangkan traumanya melalui minuman keras, dan itu merubahnya menjadi suami dan ayah yang kasar dan suka memukuli anggota keluarganya. Parahnya, tindakan kasar sang ayah turut membuat psikologis ibu terganggu sehingga Patrick dibesarkan dalam suasana kekerasan oleh keluarga.

Gangguan kejiwaan Patrick mulai terlihat pada usia sepuluh tahun ketika ia mendorong teman perempuannya hingga terluka tanpa merasa bersalah. Patrick juga sering menganiaya adik perempuan dan ibunya, sehingga ia dikirim ke tempat rehabilitasi yang sama sekali memperparah gangguan kejiwaannya.

Pembunuhan pertama Patrick dilakukan pada seorang pastur yang sebenarnya menjalin pertemanan hangat dengan dia. Patrick menikam pastur tersebut di rumahnya (rumah sang pastur) dan kemudian menaruh mayatnya di bak mandi. Ketika diinterogasi, Patrick mengatakan, “Adalah pengalaman yang indah saat melihat mayatnya menggenang di bak mandi penuh darah.”

Setelah pembunuhan pertama, Patrick melakukan pembunuhan terhadap dua orang lainnya, yakni perempuan tua asing yang ia bantu membawakan barang belanjaannya (dibunuh dengan cara yang sama seperti pastur), dan perempuan muda yang ia lempar dari kereta. Jawaban Patrcik sama, ia tak menyesal telah membunuh ketiganya.

Kedua, kasus si kembar Gloria dan Gretchen. Keduanya merupakan anak dari keluarga menengah bawah, dengan IQ rendah dan fisik yang kurang menarik, sehingga sering dibully oleh teman-temannya. Ayah mereka adalah seorang pemabuk yang kasar, yang membesarkan kedua anaknya dalam suana ketakutan.

Menjadi dewasa, Gloria memutuskan untuk berkeluarga dengan seorang montir, dan Gretchen menjadi pekerja seks komersial (PSK) yang kecanduan pada narkoba. Gretchen hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, yang dititipkan kepada temannya, Janet.

Setelah terjadi pertikaian antara Gretchen dengan Janet karena Gretchen sering tidak pulang ke rumah untuk mengasuh anaknya, Gretchen akhirnya menumpang di rumah Gloria. Anaknya, Shawn, tumbuh sebagai anak yang nakal dan sulit dikendalikan. Ia sering merusak barang milik suami Gloria, sehingga kondisi di dalam rumah Gloria menjadi kacau. Kekacauam bertambah ketika Gretchen ternyata selingkuh dengan suami saudara kembarnya.

Gretchen yang tidak berniat memiliki anak, sering mengunci Shawn di dalam kamar. Hingga pada suatu ketika, Shawn bermain dengan korek api dan itu membakar kamarnya. Shawn berteriak minta dibukakan pintu, tetapi Gretchen dan Gloria yang mendengarnya, memutuskan untuk membiarkan Shawn tewas terbakar di dalam rumah.

Keduanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Ketiga, kasus Charlie Manson bersama empat orang temannya. Seperti dua kasus sebelumnya, Charlie juga merupakan anak yang dibesarkan dalam keluarga bermasalah. Ia memiliki ketertarikan ganjil terhadap penafsiran bible, dan seorang rasis yang ingin memicu terjadinya pembantaian terhadap kulit hitam.

Charlie yang katanya memiliki kharisma eksentrik yang mampu mempengaruhi teman-temannya, meminta mereka melakukan pembunuhan terhadap orang-orang kaya di perumahan elit. Salah satu korban mereka adalah Sharon Tate, seorang aktris Hollywood yang sedang hamil dan merupakan istri dari produser film The Pianist dan Rosemary’s Baby, Roman Polanski.

Cahrlie juga membunuh sepasang suami istri yang menempati kediaman mewah yang pernah ditinggali oleh Walter atau Walt Disney secara brutal. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Keempat, kasus Wesley Shermentine. Wesley adalah anak dari keluarga kaya. Ibunya perempuan pemabuk yang kejam, yang pernah mematahkan hidung anak perempuannya dengan garpu BBQ dan memukul punggung anak laki-lakinya dengan tongkat hingga tongkatnya patah.

Wesley melakukan pembunuhan pertama kali pada 1985 dengan korban bernama Chevelle Wheeler. Ia kemudian melanjutkan pembunuhan berantai yang disertai dengan pemerkosaan dan penyiksaan. Ia bahkan memperkosa adik perempuannya dan menyiksa sejumlah hewan.

Polisi mencatat setidaknya terdapat 20 korban Wesley, dan terparah adalah pembunuhan terhadap perempuan hamil yang ia siksa dengan cara menusuk perut dalam keadaan terjaga. Wesley dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

……..

Sesaat saya berpikir bahwa yang melakukan pembunuhan karena kesenangan pantas dihukum seberat-beratnya, sebab bagaimana mungkin nyawa seseorang dihargai sangat murah, sementara pembunuhnya merasa tidak menyesal?

Akan tetapi, menyimak episode sepuluh hingga dua puluh tahun kemudian, ketika wawancara investigasi dilakukan kepada beberapa tahanan seumur hidup, mereka memperlihatkan kekosongan di matanya, dan hukuman penjara jelas tidak merehabilitasi mereka sama sekali. Apa yang membuat penyakit jiwa lebih parah daripada perlakuan kasar dan tindakan sewenang-wenang?

Paradigma Hukum

Sekarang kita bicara mengenai paradigma hukum. Bagaimana perspektif negara memandang definisi hukum, terutama hukum kriminal itu sendiri? Apakah hukum hanya dimaknai sebagai balasan atas tindakan yang telah merugikan, menghilangkan, atau membahayakan nyawa dan atau kepemilikan seseorang? Apakah benar yang dikatakan Toshi bahwa kepolisian hanya ingin menuntaskan kasus dengan cepat tanpa memeperhatikan aspek rehabilitasi?

Saya bertanya-tanya, apa tujuan diadakannya hukuman penjara? Apakah salah satunya ada tujuan rehabilitasi? Dalam arti, memberikan pelajaran sekaligus pembentukan kembali nilai-nilai kebaikan dan kemampuan untuk menjalankan kehidupan kepada tahanan yang akan dikembalikan kepada masyarakat?

Saya tidak sedang membicarakan tahanan seperti Miranda Gultom atau tahanan politik dan tahanan berkelas lainnya, yang di Indonesia, mendapatkan perlakuan yang manusiawi. Akan tetapi, tahanan kelas bawah yang biasanya beririsan dengan tindak kriminal, yang entah bagaimana nasibnya di dalam penjara.

Ada satu perspektif yang saya dapatkan dari film Shawshank Redemption, film yang diangkat dari kisah nyata. Perspektif itu dapat terangkum dari pertanyaan, “Ketika seseorang melakukan tindak kriminal, misalnya kasus pembunuhan yang banyak sekali motifnya, lalu ia dipenjara hampir separuh hidupnya, kemudian bebas pada usia kepala lima, bagaimana kemudian ia meneruskan hidupnya sebagai mantan narapidana?”

Adalah hal yang sangat beruntung apabila mantan narapidana masih memiliki keluarga yang mau menerima dan mengurus dia. Akan tetapi, bagaimana jika ia tak punya saudara dan tak punya keahlian apapun untuk meneruskan hidup?

Di film Shawshank Redemptionn, seorang mantan narapidana berusia sekitar 60 tahun bunuh diri beberapa hari setelah ia dibebaskan karna tidak punya keluarga dan merasa terlalu asing dengan dunia di luar penjara. Satu mantan narapidana lainnya, berusia sekitar 50 tahun, berpikir untuk melakukan kejahatan lagi agar dipenjara untuk kedua kalinya, karena latar belakang yang serupa seperti kasus pertama.

Ada hal yang perlu kita highlight dari berbagai kasus kriminal yang melibatkan pembunuhan. Saat saya di Mahkamah Konstitusi, saya bertemu dengan seorang pengacara bernama Samuel Sinambela. Samuel menceritakan pengalamannya sejak 1990an, salah satunya adalah investigasinya menemui banyak tahanan tindak kriminal di berbagai lapas di Jakarta.

Samuel mengatakan bahwa banyak sekali tahanan yang sebenarnya bukanlah orang yang pada dasarnya jahat. Di balik jeruji itu, banyak pencuri yang tertekan karena sulitnya perekonomian, tahanan-tahanan perempuan yang menjadi pembunuh karena tidak terima atas perselingkuhan suaminya, dan banyak lagi kasus penjebakan dan persekongkolan atas motif uang dan kekuasaan.

Lalu sekarang, pertanyaannya adalah, apakah kita memandang seseorang melakukan kejahatan dengan hanya fokus pada apa yang dia lakukan, dan melupakan MENGAPA ia melakukan kejahatan?

Dari kasus-kasus yang telah saya jabarkan di atas, saya menilai ada yang salah pada masyarakat, institusi keluarga, dan institusi hukum kita. Sampai kapan kita ada di perspektif yang memandang hukuman adalah balasan?

Kita perlu mengubah perspektif bahwa hukuman adalah pelajaran dan rehabilitasi. Membuktikan bahwa sekali pun seseorang telah melakukan kejahatan, dunia masih memiliki kebaikan untuknya, dan marilah berharap kebaikan itu menjadi proses rehabilitasi bagi orang yang telah melakukan kejahatan untuk kembali lagi ke masyarakat sebagai pribadi yang baru.

Pemerintah, keluarga, dan lingkungan di sekitarnya perlu introspeksi atas setiap tindak kejahatan yang dilakukan setiap orang. Individu adalah hasil keluarga, hasil lingkungannya, dan hasil kondisi sosial-ekonomi sebagai latar kehidupannya.

Seringkali Pemerintah melakukan “kejahatan” dalam insitusi dan kebijakannya, dan hal tersebut tidak dikatakan sebagai tindak kejahatan. Pemerintah melakukan pelanggaran terhadap kemanusiaan, dan itu tidak dikatakan sebagai kejahatan pada kemanusiaan.

Penjara jangan lagi dimaknai hanya sebagai tempat untuk menghukum orang-orang bersalah, pun jangan sampai menjadi tempat penyakit jiwa dan sosial semakin parah. Tak pernahkah kita dengar maraknya kasus pelecehan seksual dan kekerasan di dalam penjara? Di samping itu, telahkah hukum menghukum semua orang yang benar-benar bersalah? Orang-orang yang telah menciptakan “situasi kondusif” bagi lahirnya berbagai kejahatan.

Bentuk apapun dari hukuman, berilah hukuman yang memberikan efek jera tetapi tidak meninggalkan proses rehabilitasi di dalamnya. Korban dan keluarga korban tindak kriminal dan kejahatan lainnya memang menjadi pihak yang paling dirugikan. Beberapa mengalami trauma yang sulit disembuhkan.

Akan tetapi, maukah kita membalikkan persepektif kita dalam memandang hukum dan kemanusiaan? Dapatkah kita memandang orang yang telah selesai menjalani hukuman belasan atau puluhan tahun sebagai pribadi yang baru yang telah menebus kesalahannya?

Hukuman bukanlah tentang memberikan hukuman seberat-beratnya, tetapi memberikan pelajaran sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Banyak orang yang masuk penjara bukan karena ia pada dasarnya jahat. Oleh karena itu, resolusi pandang yang mendalam dibalik setiap kejahatan adalah mutlak diperlukan. Don’t be too fast to do judgement!