Kita hidup pada era baru, era disruption. Era ini mengharuskan setiap perusahaan melakukan hal yang lebih dari sustaining innovation. Ya, era ini menuntut kita untuk melakukan apa yang disebut  disruptive innovation. ~ Rhenald Kasali, Tomorrow is Today

Saya sengaja mengutip Rhenald Kasali dari bukunya Tomorrow is Today (2017), yang menggambarkan perubahan yang memporak-porandakan kehidupan manusia di abad 21 ini. Dalam buku tersebut, pembahasan terfokus pada bagaimana perusahaan-perusahaan saat ini harus selalu siap untuk membuat inovasi yang merusak (disruptive). 

Dalam arti, strategi perusahaan tidak cukup hanya inovatif membuat sesuatu yang baru. Namun, yang baru itu juga harus bisa membuat perubahan drastis dalam tatanan bisnis. Tentu saja, situasi disruptive innovation ini menuntut individu di setiap perusahaan untuk berani berisiko mengeluarkan strategi yang belum pernah dikeluarkan oleh perusahaan lain. 

Sebagai seorang pendidik, benak saya langsung berpikir bagaimana anak didik saya nanti menghadapi situasi ini. Sudah siapkah mereka menjadi individu yang bisa melakukan disruptive innovation? Mungkin pertanyaan lebih tepatnya ditujukan kepada saya dan dunia pendidikan pada umumnya, sudahkah memberikan kemampuan yang diperlukan oleh anak didik menghadapi situasi yang disruptive di abad 21 ini?

Di awal tahun 2018, saya menulis artikel di Bernas.id dengan judul “Kurikulum Merangkul Kegagalan: Yang Lupa Diajarkan Untuk Jadi Kreatif di Abad 21”. Dalam artikel tersebut, saya menjelaskan bagaimana sebuah sekolah swasta di Melbourne, Australia mengadakan kegiatan dengan tema: “Minggu Kegagalan”. Siswa dan guru selama seminggu diminta untuk menguasai satu keterampilan baru yang belum pernah dipelajari dan berbagi pengalaman kegagalan yang mereka alami. 

Kesan yang saya tulis saat itu adalah bagaimana siswa dan guru bukan berlomba untuk menjadi sempurna. Namun, mereka berani mengambil risiko untuk mencoba dan mampu memotivasi diri untuk bangkit dari setiap kegagalan. Sifat gigih dan pantang menyerah ini merupakan satu sifat yang membedakan arah langkah seseorang meraih kesuksesan. 

Seharusnya akan wajar bila sekolah menerapkan silabus “Kegagalan”, yang bukan semata sebagai kegiatan satu minggu, tetapi diajarkan dan dikembangkan selama setahun pembelajaran. Sebagai seorang pendidik, saya setuju bahwa memupuk jiwa kreativitas dalam diri seseorang tidak hanya sekadar teori kosong tanpa makna. 

Kreativitas pun bukan cuma tentang bagaimana seseorang berbakat di bidang seni atau aktivitas fisik saja. Namun, meliputi kemampuan untuk bisa menciptakan terobosan dan temuan baru di berbagai bidang ilmu pengetahuan yang bisa bermanfaat bagi manusia. Untuk mencapai ini, di balik kreativitas tentu akan banyak kegagalan. Yang patut diperhatikan adalah bila perjuangan bangkit dari kegagalan ini malah membuat siswa putus asa dan berhenti.

Nah, penasaran dengan bagaimana silabus “Kegagalan” bisa diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, terdamparlah saya di laman sebuah artikel milik kontributor New York Times, Jessica Bennet yang berjudul “On Campus: Failure is On the Syllabus”. Dalam pemaparannya, Bennet mencantumkan ada 3 sekolah tinggi dan universitas di Amerika Serikat yang sudah mulai menerapkan silabus “Kegagalan” ini. 

“Failing Well” merupakan program orientasi mahasiswa di Smith College, yang bertujuan untuk mencabut stigma bahwa jika mereka gagal berarti mereka menjadi manusia tidak berguna. Selama waktu tertentu, Smith College memaparkan kegagalan dari para mahasiswa dan bahkan para profesor pada sebuah layar lebar. Kegagalan dalam ujian, pernah drop-out dari program, termasuk seorang profesor yang mengaku karyanya ditolak oleh 21 jurnal akademik. 

Universitas-universitas besar seperti Stanford, Harvard, dan Princeton pun, yang memiliki profil siswa berprestasi dengan nilai tinggi, tidak luput dari siswa yang depresi karena tidak mampu menghadapi kegagalan dan memilih untuk bunuh diri. Princeton Prospective Project ditujukan kepada seluruh mahasiswa, dengan pesan bahwa setiap orang merasakan ketidakyakinan akan masa depan, bisa mengalami kegagalan, bahkan kemunduran.

Setiap mahasiswa seperti punya keyakinan bahwa mereka harus berprestasi di segala lini hidupnya, dari nilai akademik, hubungan asmara, hingga pergaulan sosial. Belum lagi, hidup di tengah gemerlap media sosial seakan menuntut pembaruan status yang hanya memaparkan indahnya hidup saja. 

Satu hal yang perlu dipahami bahwa bukan hal yang mudah bagi universitas selevel Harvard dan Stanford mau menerapkan program yang menerima kegagalan. Institusi pendidikan tentunya ingin mendapat kredibilitas baik, dengan prestasi bintang-bintang akademik bertebaran memenuhi dinding koridor. Coba, institusi mana yang mau diberitakan penuh dengan orang-orang yang gagal. 

Namun, universitas pun sadar bahwa perkuliahan yang menuntut mahasiswa untuk kreatif menuangkan ide baru penelitian, memproses data dan membuat tugas-tugas kuliah, akan dibayangi oleh banyak kegagalan. Jika mahasiswa merasa bahwa kegagalan mereka akan menjadikan diri mereka menjadi orang yang tidak berguna, maka mahasiswa akan berhenti untuk kreatif mencari terobosan. Jika ada tugas, mereka akan bertanya terus kepada profesor pengajar, dan tidak segera mulai mengerjakan tugas karena mereka takut salah.

Bagaimana dengan sekolah di tingkatan dasar dan menengah? Seharusnya atmosfer “it’s oke to make mistakes, but not oke to keep making the same mistakes” ini juga bisa diterapkan sejak dini. 

Hanya saja, untuk menerapkan silabus “Kegagalan” berarti sekolah sudah menerapkan kurikulum berbasis kreativitas. Sementara, walau beberapa sekolah mengaku menerapkan kurikulum kreatif, namun pada kenyataannya masih menerapkan pola lama. Di mana, pembelajaran berlangsung satu arah, siswa hanya menghafal dan mengerjakan soal. Siswa hanya tahu teori tanpa ada pemahaman bagaimana memproses teori tersebut menjadi hal yang bermanfaat. 

Saya rasa tidak salah jika Resolusi 2019 dalam dunia pendidikan memfokuskan pada pengembangan kreativitas anak didik yang juga memberikan ruang bagi mereka untuk berani gagal dan belajar bangkit dari kegagalan. Mengingat kreativitas menjadi modal utama bagi anak didik untuk bersaing di dunia yang disruptive. Sehingga, kurikulum kreatif harus bisa diterapkan di semua pelajaran. Tidak hanya untuk pelajaran seni, tetapi juga pelajaran dengan kognitif tinggi seperti sains dan matematika. 

Referensi:

  1. Kasali, R. (2017). Tomorrow is Today: Inilah Inovasi Disruptif Perusahaan Indonesia dalam Menghadapi Lawan-lawan Tak Kelihatan. Penerbit Mizan, Jakarta.  

  2. Kumala, F. (2018). Kurikulum Merangkul Kegagalan: Yang Lupa Diajarkan Untuk Jadi Kreatif di Abad 21. [DARING]. https://m.bernas.id/58144-kurikulum-merangkul-kegagalan-yang-lupa-diajarkan-untuk-jadi-kreatif-di-abad-21.html. Diakses tanggal 3 April 2018

  3. Bennett. J. (2017). On Campus: Failure on Syllabus. [DARING]. https://www.nytimes.com/2017/06/24/fashion/fear-of-failure.html. Diakses tanggal 31 Desember 2018.