Tertawa ialah obat mujarab ketika dunia sedang 'menertawakan' kita. SUCRD atau kependekan dari Stand Up Comedy Raditya Dika bisa dijadikan 'pil penenang' hidup yang kadang berduka ini.

Stand up comedy atau komedi tunggal (komtung) menyajikan 'santapan' yang enak dimakan dalam beragam kondisi hidup. Karena pada dasarnya manusia itu suka tertawa dan menertawakan. Betul apa betul?

Komedi tunggal menjadi sasaran empuk para komika untuk tertawa bersama penontonnya. Dengan prinsip 3S: 'Senang-Sama-Senang'. Si komika senang mendapat fulus dan si penonton senang mengeluarkan fulus. Ha-ha-ha.

Satire ke'goblok'an itu disampaikan langsung oleh Radit dalam konten YouTube-nya yang berjudul SUCRD - 2019 berdurasi 01:05:49 dengan epik. Dia bermonolog yang berbunyi begini:

"Tiga bulan yang lalu gua cerita ke istri gua. Gua bilang, 'Gua udah makin tua, temen gua udah sedikit. Tapi, gua punya banyak cerita pengen gua ngobrolin ke orang. Gimana, ya caranya?' Terus dia bilang, 'Kamu kan komedian; kamu dikenal; follower-nya banyak, kamu jual tiket aja biar orang bayar untuk dengerin kamu curhat."

Dan, hanya sekali InstaStory tiketnya ludes. "Betapa 'goblok' dan tidak punya waktu pembeli tiket itu," sindir si komika, penulis, dan YouTuber tersebut. Tidak heran, Radit adalah komedian yang berciri khas. Dia komika yang "pintar".

Jangan salah, lho. Menjadi seorang komika tidak bisa asal-asalan. Dia harus pintar. Pintar menyampaikan materi; pintar mengatasi grogi; dan pintar membuat orang tertawa atau 'ngelucu'. Tidak semua orang berbakat monolog seorang diri di depan umum.

Risiko paling riskan adalah kencing berdiri (tidak usah dibayangkan). Dan, betapa itu tragedi yang benar-benar akan menjadi komedi. Jadi, komika itu riskan sekali.

Raditya Dika mengawali komtung-nya sejak 24 tahun. Sekarang dia sudah hampir berumur 35 tahun (lahir pada 28 Desember 1984). Karyanya masih laku sampai sekarang, dan ini membuktikan bahwa dia memang komika yang "pintar".

Menurut saya, meskipun tujuan nonton komedi tunggal adalah untuk ngguyu (tertawa), tetapi ngguyu-nya harus yang bermutu. Memangnya 'ngguyu yang bermutu' itu seperti apa? Yang mengandung pesan-pesan moral. Dengan demikian, tertawa tidak sembarangan tertawa. Ngguyu kudu ngilmu (tertawa ada ilmunya)!

Apalagi, mencari materi komedi itu tidak semudah menggoreng telur mata sapi. Seorang komika bertanggung jawab penuh atas premis lawakannya supaya aman; tidak menyakiti hati orang lain; tidak berbasis SARA; dan sebagainya. Tetapi, dituntut tetap 'cair'.

Bagi saya, Raditya Dika adalah salah satu komika yang melawak dengan 'ilmu'. Ada pesan-pesan positif untuk para penontonnya. Dalam SUCRD - 2019 pun, Radit memasukkan poin-poin penting agar tertawa tetap berkualitas. Berikut rinciannya:

Semakin lama berkomedi, semakin malas. Karena dikit-dikit orang tersinggung.

Meskipun, Radit merasa sebagai komedian yang 'aman', paling tidak ada 1 orang yang tersinggung menonton lawakannya. Ya mau gimana, segala sesuatu ada pro dan kontranya.

Dia menjelaskan bahwa saat prosesi lamarannya, ada pertanyaan wartawan mengenai jumlah anak yang diinginkan Radit nantinya. Dijawab dong, "Pengen punya anak 11 biar kayak Gen Halilintar."

Niatnya becanda, tetapi jadi headline juga. "Ini ngeledek, ya?" Amuk fans Gen Halilintar. Padahal, menurut Radit, pernyataan itu sebagai bentuk penghargaan Radit bahwa dia mengagumi Gen Halilintar.

Kasus lain, Radit pernah menyampaikan materi komtung-nya tentang pengalaman nonton di bioskop. Dia bete sama segerombolan cewek dan ada 1 banci yang spoiler. Pas setannya mau keluar (filmnya Pengabdi Setan), banci itu bilang, "Siap-siap. Siap-siap ..."

Lawakan Radit langsung mendapat hujatan, "2019 masih aja ngatain banci." Nah, kan. Jangan salah paham dahulu. Maksud Radit, ketika membedah joke itu jangan ditelan mentah-mentah.

Dalam situasi tersebut, objeknya adalah orang yang berisik di bioskop. Otomatis mengganggu penonton lain, 'kan? Jadi, bukan bancinya. Bukan! "Enggak ada masalah gua ngomongin banci. Bukan itu. Yang gua omongin, lu berisik di bioskop," papar Radit.

Kadang kita membela sesuatu yang tidak perlu dibela. Tapi, kita yang repot.

Deddy Corbuzier pernah membuat konten video yang berjudul Artis Kaya, tapi Norak. Dan, background-nya muka Radit. "Anjir, nih apaan," batin dia. Terus dia nonton, dong videonya. Ternyata berisi Raditya Dika punya prinsip hidup minimalisme. Dia akan membeli barang-barang yang perlu saja.

"Gua jarang sepemahaman sama orang, tapi gue sepaham sama Radit. Ada artis kaya yang norak." Kata DC dalam kontennya yang berarti dia memuji Radit. Hanya muka Radit saja yang nangkring di judul kontennya.

Banyak yang salah paham. Komennya rame belain Raditya Dika. "Emang om Deddy itu kaya gitu. Dia ga tau diri." Apaan sih! "Gua ga merasa perlu dibela. Ngapain lu repot?" jelas Radit.

Kalo mau ngomongin orang lain, gua bilang sama mereka.

Misal, dia izin dulu ketika mau komtungin Young Lex, "Gua fotoin tempatnya, mikrofon gua, buku materi gua. Gua kirim semua ke dia." Katanya lagi, "Yang (Young), gua mau stand up, nih. Ngomongin lu. Gimana?"

Young Lex pun mengizinkan. Nah, transparan, 'kan? Jadi tidak merasa diomongin dari belakang. Keren, nih, Bang Radit. Idola, dweh pokoknya!

Tetapi, Radit pernah komtungin Awkarin dan belum meminta izin unggah videonya. Dia kirim pesan via Instagram, tidak dibalas. Akhirnya nekad diunggah olehnya dan membuat dia uring-uringan karena dia tidak suka musuhan sama orang.

Pada suatu ketika, kebetulan dia dipertemukan dengan Awkarin di acara yang sama. Radit dengan gaya yang sok asyik (aku dia), berusaha mencairkan suasana. Dan, berhasil-berhasil-berhasil (gaya Dora). Mereka foto berdua dan diunggah di Instagram Raditya Dika yang menandai Awkarin dengan kepsyen: bareng Kak @awkarin, standup comedy di depannya gak nih?

Perempuan yang bernama Karin Novilda itu pun meninggalkan balasan di kolom komentar, "STANDUPIN LAH." Jadi, seorang komika juga bertanggung jawab terhadap subjek yang dijadikan objek dalam materinya. Terutama perihal izin boleh atau tidaknya.

Orang itu harus rileks dalam ngapa-ngapain.

Ketika Radit komtungin Young Lex atau Awkarin bukan berarti dia benci sama mereka. "Orang kita itu kurang rileks. Netizen kita terlalu ikut campur," komentarnya.

Prinsip hidup gua itu sederhana: gua enggak mau tahu urusan orang, dan gua enggak mau orang tahu urusan gua.

Misalnya, ketika Gading dan Gisel cerai dan beritanya pertama kali keluar. Saat itu Gading WhatsApp Radit untuk menanyakan hal lain. "Tapi, gua enggak nanya, tuh. Eh, lu cerai kenapa bro. Enggak tuh. Bodo amat."

Tetapi, orang-orang kebanyakan ikut campur. Menurut Radit, di Instagram Gisel ada yang komentar, 'ini pasti setting-an, buktinya mereka tidak pernah berantem di Instagram'. "Suami-istri goblok macam apa, yang ketika berantem kita boomerang dulu? Kan enggak mungkin. Goblok banget ya!" Ejek si komika.

Kasus lain, ketika ada artis yang hamil, netizen mulai sibuk menghitung tanggal lahiran si bayi versus tanggal nikahan dia. Maksudnya: hamil duluan apa enggak. Kan lucu, ya! Hamil duluan apa enggak juga enggak minta makan sama elu!

Yang menyakitnya bagi Radit adalah momen lamaran pas dia merasa ganteng banget (penampilannya beda dari biasanya, pakai jas, dll). Lalu, ada netizen yang komentar: Bang, jas lamarannya kayak almamater gua. Ha-ha-ha, mbok ya jangan terlalu sadis, wahai netizen.

Ada lagi yang lebih Afgan (sadis maksudnya), berita di infotainment (kata Radit) yang berbunyi: Lamaran, Raditya Dika Membuktikan Bahwa Cowok Humoris Mengalahkan Cowok Ganteng; atau Raditya Dika Lamaran, Simak 5 Foto Mantannya yang Ternyata Cantik. "Berarti gua jelek ya? Seakan-akan gua busuk banget gitu." 

• Lamaran simpel aja.

Ada sebuah lamaran di jalan Gatot Subroto yang viral pada November 2018 (detik.com). Si cowok melamar ceweknya pakai billboard besar bertuliskan Happy Birthday My Love, Will You Marry Me? Nadia Octavia. Aduh, jiwa-jiwa jomblo pasti meronta-ronta itu. Tttidaakkk!

"Pakailah buat katering duitnya. Gimana sih. Biasa-biasa aja, santai-santai aja gitu." Komentar Radit.

Ada juga lamaran yang penuh resiko (menurut Radit). Si cowok meletakkan cincin di makanan si cewek. Ya kalau si cewek tahu, kalau misalnya termakan terus tersangkut di tenggorokan bisa berabe. "Enggak usah banyak ide, deh. Biasa aja. Norak," kata Radit.

Nikah sederhana.

Radit menjelaskan, "Ketika gue datang ke kawinan, betapa pedesnya mulut orang-orang Indonesia. Mereka menilai dari makanannya. Ada somay, 'ih somaynya enggak enak. Pasti ikan sapu-sapu'. Ini kawinan orang, lu datang syukur. Ngapain lu hina-hina?"

Ya, begitulah faktanya. Menurut saya, pesta pernikahan sebagai ajang menyenangkan khalayak ramai. Jika makanan tidak enak, dikritik; jika makanan kurang, katanya pelit; jika riasan tidak cantik, dicibir. Sehingga, pesta pernikahan yang ideal menurut masyarakat adalah yang tanpa cela. Mana bisa?

Untuk riasan wajah, Radit menceritakan bahwa istrinya pernah meminta make up artist seharga 20 juta. "Siapa ini make up artist 20 juta? Bedaknya terbuat dari emas macam apa yang akan ditaburkan di muka kamu? Apakah ada minyak bumi di antara eyeliner? Siapa yang berani meminta 20 juta untuk nyoreng-nyoreng muka kamu?" Satire dia.

Menurut Anissa, istri Radit, riasan wajah yang bagus adalah yang bisa membuat wajahnya 'beda'. "Kenapa itu dianggap bagus ketika aku tidak bisa mengenali kamu siapa? Bukankah itu buruk." Sanggah si komika.

Jangan mengomentari pernikahan orang lain.

Biasanya, sehabis acara nikahan, orang-orang sibuk membincangkan 'malam pertama'. Radit berpendapat, bahwa acara pernikahan sudah cukup melelahkan untuk memikirkan macam-macam, "Enggak usah sejorok itulah."

Yang lebih merusak privasi, komentar tentang kehamilan. Si Anissa pernah dikomentari mandul gara-gara sudah 2 bulan menikah dan belum juga hamil. Gila, ya. Kalau mau komentar pakai otak juga, dong.

Dapat disimpulkan, komedi tunggal tidak bisa asal-asalan untuk 'tertawa'. Tertawa harus ada 'nutrisi'-nya dan efek yang positif. Sebab itu riskan, salah-salah bisa menimbulkan perpecahan.

Tertawa untuk perubahan dan tertawa untuk 'menertawakan' itu beti (beda tipis). Jadi, hati-hati, ya. Tetapi, SUCRD - 2019, petjah!