Dalam khazanah Islam klasik negeri Syam merupakan sebuah teritorial luas yang kini telah terbagi menjadi beberapa negara yaitu Suriah, Jordan, Libanon dan Palestina. Wilayah yang juga disebut sebagai negeri para nabi karena banyaknya nabi dan rasul yang diutus di antaranya Ishak, Luth, Sulaiman, Zakaria dan Isa AS. Selain dikenal sebagai negeri para nabi, negeri Syam adalah tempat lahirnya agama-agama besar dan beragam sekte dari agama  Islam, Kristen, Yahudi, Zoroaster hingga Rafidhah.

Maka, bagi agama samawi negeri Syam adalah tempat yang disucikan sekaligus sebagai simbol dari peradaban, spiritualisme dan persatuan umat. Catatan yang terukir dalam setiap lembar sejarahnya dapat dipetik sebagai pelajaran berharga yaitu  tentang bagaimana saling mengasihi, menghormati dan menghargai antar golongan bahkan antar umat sekalipun.

Dari kisah Umar bin Khattab, Nuruddin Zanki dan Salahuddin al-Ayyubi kita dapat belajar bahwa pada prinsipnya persatuan harus diletakkan di atas kepentingan pribadi, kelompok atau agama itu sendiri.  Melalui tangan mereka, Islam, Yahudi dan Kristen yang sekian lama berseteru dapat hidup rukun dan damai. Dari kisah mereka tercermin bahwa nilai kemanusiaan adalah puncak dari setiap ajaran agama.

Namun, negeri para nabi itu kini menyisakan duka mendalam yang tak pernah terjadi sebelumnya. Negeri sakral telah menjelma menjadi arena konflik berkepanjangan yang entah kapan ujungnya. Bahkan ironisnya telah terjadi pembiaran akibat pesimisme masa depan kondisi negara yang kian hari makin memprihatinkan. Pembunuhan massal yang disuguhkan melalui beragam media akhirnya sebatas  solidaritas tanpa wujud nyata upaya  mengakhiri krisis kemanusiaan itu.

Wajar jika saya katakan, manusia saat ini telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Bagaimana tidak, rakyat Palestina yang sekian lama diembargo Israel sebatas informasi tanpa aksi. Di Suriah tujuh tahun sudah konflik sektarian berlangsung, konflik paling ganas yang menyebabkan setengah  populasi negara menjadi pengungsi akibat kecamuk konflik.

Oleh sebab itu, saya menganggap konflik berkepanjangan yang terjadi di Suriah dan Palestina akibat dari hilangnya identitas kemanusiaan itu yaitu  identitas saling menghargai dan meletakkan rasa kemanusiaan berada di atas kepentingan apapun. Sebaliknya, menjadikan kepentingan pribadi atau satu golongan dan rela mengorbankan nyawa tak layak disebut sebagai manusia sebab Tuhan telah menciptakan dalam setiap diri manusia rasa solidaritas antar sesama.  

 

Persoalan yang dihadapi Palestina dan Suriah memang bukan persoalan sederhana. Sulit menemukan komposisi yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung lama ini, meski demikian akar konflik dua negara itu karena adanya kepentingan politik, bahwa konflik Israel-Palestina dan konflik sektarian di Suriah secara umum karena adanya intervensi dari luar yang semakin memperkeruh suasana,  keterlibatan Hamas yang didukung oleh Iran dan kelompok radikal transnasional yang telah mendapat simpatisan  masyarakat makin menambah rumit keadaan.  

Berhenti Bicara Agama

Selama ini narasi tentang konflik Suriah dan Palestina melulu dilihat dari kacamata tunggal yaitu agama. Seringkali agama memberikan justifikasi bahwa konflik Suriah dan Palestina merupakan tanda-tanda dari dekatnya hari kiamat. Setidaknya itu yang saya lihat dan dengar selama ini. Para ustadz itu dengan lantang mengatakan “Kecamuk Suriah dan Palestina menjadi sebuah pertanda akhir zaman dan kita harus siap untuk berperang” lebih parahnya ditambah dengan kata-kata “kafir” dan “laknatullah” seperti Bashar al-Assad laknat atau  Syiah Rafidhah adalah kafir yang berarti mereka boleh dibunuh.  

Cara pandang  agama seperti ini menurut saya adalah pesimisme dan merelakan bahwa konflik Palestina dan Suriah adalah suatu yang tak dapat dihindarkan dan dikendalikan. Akhirnya, jawaban yang muncul adalah “biarkan mereka, tugas kita hanya mendoakan, toh juga Palestina dan Suriah sudah takdir Tuhan”.

Saya tegaskan berhenti bicara agama untuk persoalan Palestina dan  Suriah. Karena agama tidak memberi solusi sama sekali. Konflik sektarian tidak pernah diselesaikan melalui agama, namun konflik dalam sebuah negara harus melibatkan instrumen negara baik secara hukum dan dialog dari pihak bertikai.

Jangan lagi hubungkan Palestina dan Suriah dengan perintah dan larangan agama, sebab persoalan yang sedang dihadapi terkait kemanusiaan yang artinya adalah tanggung jawab kita semua, sebagai manusia yang tidak rela saudaranya menjadi tumbal kepentingan sekelompok orang yang telah kehilangan identitasnya sebagai manusia. Masalah Palestina dan Suriah dapat diselesaikan melalui langkah konkrit dari semua pihak dan adanya komitmen bersama untuk segera mengakhiri konflik.  

Palestina dan Suriah adalah Kita 

Kita tidak perlu agama untuk membantu sesama, tidak perlu agama untuk menyelesaikan konflik, atas nama  kemanusiaan kita harus melepas atribut sosial dan agama untuk saling membantu. Atas nama kemanusiaan, jangan sampai rasa kemanusiaan kita hanya ditujukan pada golongan dan agama tertentu, sudah sepantasnya rasa kemanusiaan kita melewati batasan-batasan keyakinan dan primordialisme.

Palestina dan Suriah memanggil kita karena mereka telah kehilangan segalanya. kehilangan orang tua, harta bahkan air mata tidak lagi sanggup menggambarkan kepedihan dan penderitaan yang mereka rasakan. Masih terbayang dalam benak, ketika saya melihat anak-anak di Aleppo, Suriah mengais makanan di antara puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Ketika ditanya oleh seorang wartawan apa yang kalian cari? Dengan wajah lugu, mereka menjawab kami sedang mencari makan, beberapa hari kami tidak makan.

Hati saya merasa terkoyak, melihat bagaimana perjuangan anak-anak Suriah untuk hidup ditengah situasi kecamuk konflik yang tidak memandang mana lawan dan kawan. Tanpa ampun, menjatuhkan bom Barmil yang menghancurkan bangunan hingga tingkat dasarnya, lantas jika demikian kemanakah mereka akan mencari perlindungan. Maka, Penderitaan yang dirasakan warga Palestina dan Suriah adalah penderitaan kita bersama.

Sebuah Harapan 

Beragam upaya ditempuh untuk menyelesaikan konflik yang melanda dua negara ini. Mulai dari mediasi, menciptakan zona de-eskalasi hingga perundingan Astana yang melibatkan pihak oposisi belum mampu meredam gejolak dari konflik  Suriah, Palestina pun demikian. Apa langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi Palestina dan Suriah?

Pertama, melibatkan siapa dalang dari kekacauan ini. Penyebab dari konflik Palestina dan Suriah karena intervensi Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat  mempersenjatai kelompok separatis dan teroris di Suriah untuk menumbangkan pemerintahan Bashar al-Assad yang sejak negara Suriah berdiri dekat dengan Uni Soviet, Rusia saat ini. Sehingga apapun caranya, keluarga al-Assad harus mempertahankan kekuasaannya. Maka, adanya dialog dan komitmen bersama antara dua kubu seteru ini akan mengubah kondisi dan bukan tidak mungkin konflik dapat diredam.

Kedua, selain melibatkan Rusia dan Amerika, Arab Suadi, Qatar dan Iran harus berunding bagaimana langkah menyelesaikan konflik Palestina dan Suriah sebab negara Teluk dan Persia juga ikut andil mendanai kelompok teroris dan milisi lokal sebagai proxy war. Negara-negara Teluk jelas memasok senjata untuk mempertahankan wilayah strategis, kilang minyak dan tambang.

Oleh sebab itu, dua langkah ini menurut saya menjadi harapan terakhir untuk mengakhiri konflik yang terjadi di Palestina dan Suriah. Saya tegaskan kembali, derita Palestina dan Suriah adalah derita kita bersama.