Dasar dan inti dari lapisan-lapisan masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengarahannya d iantara anggota masyarakat. ~ Pitirin A. Sorokin

Karya sastra merupakan sebuah bentuk karya seni yang dituangkan melalui tulisan dalam berbagai aspek. Karya sastra difungsikan sebagian masyarakat sebagai manifestasi kehidupan bermasyarakat. Karya sastra dibentuk, sesuatu yang dibuat, sesuatu yang diciptakan, dan sesuatu yang diimajinasikan (Tarigan, 1984: 120).

Fenomena-fenomena yang diangkat oleh seorang sastrawan dalam karya sastra hampir meliputi segala aspek kehidupan yang dialami dalam masyarakat. Sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia. 

Salah satu masalah masyarakat yang sering diangkat dalam karya sastra adalah masalah lapisan masyarakat (stratifikasi sosial). Dalam setiap masyarakat selalu ditemukan perbedaan-perbedaan, baik perbedaan dalam individu maupun kelompok.

Istilah stratifikasi berasal dari kata strata dan stratum yang berarti lapisan. Sehingga stratifikasi sosial diartikan sebagai pelapisan masyarakat. 

Stratifikasi sosial adalah sistem pembedaan individu atau kelompok dalam masyarakat yang menempatkannya pada kelas-kelas sosial yang berbeda-beda secara hierarki dan memberikan hak-hak serta kewajiban yang berbeda-beda pula antara individu pada suatu lapisan dengan lapisan yang lain. Pelapisan sosial tidak berlaku umum, sebab setiap kelompok masyarakat masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakteristik masyarakat majemuk yang menghasilkan adanya stratifikasi sosial atau pengelompokkan suatu masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu secara vertikal. 

Stratifikasi sosial sebenarnya sudah ada sejak zaman Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang. Koloni mengelompokkan masyarakat Indonesia ke dalam golongan-golongan tertentu sesuai dengan rasnya. Akan tetapi di zaman sekarang sekarang stratifikasi sosial tidak lagi dikelompokkan berdasarka ras.

Stratifikasi sosial di Indonesia lebih mengarahkan penggolongan suatu masyarakat yang dinilai dari segi status sosialnya seperti jabatan, kekayaan, pendidikan, atau sistem feodal pada masyarakat. seperti Aceh dan kasta masyarakat Bali. Sedangkan ras, suku, budaya dan agama termasuk ke dalam penggolongan horizontal.

Mas Marco dan Student Hidjo

Mas Marco Kartodikromo atau yang biasa dikenal dengan Mas Marco. Lahir pada tahun 1890 di Cepu, dan meninggal di Boven Digul, Papua, pada 18 Maret 1932. Mas Marco berasal dari kalangan priyayi rendahan. Ia sempat mengenyam sekolah bumiputera angka dua di Bojonegoro. Ia sudah mulai menulis setidaknya pada tahun 1914 novel, salah satunya yang terkemuka ialah Student Hidjo yang ia tulis dengan mengunakan bahasa Melayu Pasar.

Student Hidjo (1918) adalah salah satu karya Mas Marco yang paling popular. Novel ini dianggap sebagai bacaan liar karena novel ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme yang berkembang pada waktu itu. Novel ini menceritakan tokoh utama pribumi yang bernama Hidjo anak saudagar di Solo yang akan melanjutkan pendidikannya di Belanda guna mendapatkan gelar insinyur, dengan harapan agar kelouarganya tidak dipandang rendah oleh orang lain.

Mas Marco merupakan bagian dari kaum muda yang diciptakan dalam sistem kolonial, dan ia bersikeras mendobrak hierarki yang ada. Mas Marco merupakan salah satu tokoh penting dalam khazanah sastra, pers, tokoh pergerakan, dan juga kelompok pengarang liar di tahun 1920-an. Karena pengaruhnya sebagai sastrawan dan wartawan yang sering kali berbeda pendapat dengan pandangan kaum kolonial. 

Mas Marco berani menentang penguasa kolonial dan orang-orang pergerakan yang dianggap berkolusi dengan rezim kolonial sehingga ia empat kali keluar masuk penjara karena tulisannya yang beraliran marxis, yang tidak lain ideologi yang dimusuhi orde baru.

Strata Sosial Dalam Student Hidjo

Hidjo seorang laki-laki pribumi yang dipaksa orang tuanya, terutama ayahnya pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di sana dengan alasan agar dapat mengangkat derajat keluarganya dan tidak dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai pemerintahan. Dapat dilihat dalam kutipan:

“Saya ini hanya seorang saudagar. Kamu tahu sendiri. Waktu ini orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang orang-orang yang menjadi pegawai Gouverment.” h. 2

Dalam kutipan di atas terlihat bahwasannya pada masa tersebut menciptakan kelas sosial yang digunakan untuk membeda-bedakan anggota masyarakat yang dapat dilihat melalui pangkat atau kehormatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Disebutkan olehnya bahwa pegawai Gouverment di sana memiliki kekuasaan tertinggi sehingga dengan begitu ia seenaknya menganggap seorang saudagar lebih rendah dari dirinya. Dapat dilihat dalam kutipan:

“Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouverment, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani.” h. 3

Dalam kutipan di atas terlihat bahwasannya posisi dalam strata sosial itu berbeda-beda, tergantung pada hak dan kewajibannya. Hal tersebut biasanya ditentukan oleh gaya hidup seseorang atau kelompok masyarakat yang membedakan perbedaan status. 

Seperti halnya pegawai Gouverment yang tidak mau kumpul atau bergabung dengan orang yang memiliki status sosial lebih rendah darinya meskipun saudaranya, di sana ia menganggap rendah para saudagar bahkan meskipun itu saudara sendiri mereka tidak akan mengaggap saudagar tersebut tidak ada.

Dalam novel ini Mas Marco menggambarkan perbedaan kelas dalam masyarakat. Kaum proletar adalah kelas sosial bawah yang lemah secara ekonomi. Kaum borjuis atau kelas atas yang mempunyai kekuasaan yang tinggi.