Membaca berita penganiayaan yang dilakukan oleh seorang siswa SMU di Sampang-Madura hingga mengakibatkan kematian sang guru membuat saya terhenyak. Sudah sedemikian brutalkah remaja kita sekarang?

Tindakan pelajar yang menganiaya gurunya hingga tewas dikategorikan sebagai tindakan ekstremisme. Suatu perilaku yang melampaui batas kewajaran sehingga bersentuhan dengan jalur hukum.

Dalam menangani kasus semacam ini biasanya pihak berwenang sebelum menghadapkan tersangka ke meja sidang, mereka akan memeriksa kondisi psikologis tersangka. Keterangan saksi ahli akan dijadikan sebagai rujukan untuk menentukan seberapa berat hukuman yang kelak akan dijatuhkan.

Alangkah seringnya kita mendengar hal ini. Seorang anak tega membunuh orang tua kandungnya sendiri atau seorang anak tumbuh dengan kepribadian temperamental. Setelah diadakan pemeriksaan secara psikologis, rata-rata penyebab timbulnya sikap menyimpang itu adalah kondisi keluarga yang tidak kondusif atau kehidupan keluarga yang tidak harmonis. 

Sebenarnya semua berawal dari rumah. Bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita, di sana pula kita akan menuai hasilnya.

Mengapa Kedekatan Batin antara Guru dan Anak Didik Mulai Luntur?

Maraknya kekerasan yang terjadi antara guru vs murid, seolah menyiratkan bahwa kedekatan batin di antara pengajar dan anak didik telah mencapai tahap memprihatinkan. Kedudukan guru sebagai pengganti orang tua di lingkungan sekolah kiranya tidak lagi mendapat tempat istimewa di hati para siswa. Siswa cenderung menanggapi nasehat atau teguran sebagai sikap ketidaksukaan sang guru. Bukan lagi sebagai ungkapan kasih sayang.

Tak jarang ketika sang guru memberi teguran yang dirasa agak keras, siswa menanggapinya dengan sikap frontal.

Mengapa hubungan yang seharusnya terjalin baik antara guru dan siswa mengalami kesenjangan?

Jawabannya bisa jadi kurangnya jalinan komunikasi yang baik di antara keduanya. Sebab tak jarang seorang guru memegang egonya sedemikian rupa. Merasa lebih berpengalaman dan berpendidikan dibanding siswa asuhnya sehingga merasa wajib dan perlu dihormati. Segala kemauan dan perintahnya harus dilaksanakan.

Sedang siswa, terutama mereka yang mulai beranjak usia remaja, di mana kondisi kepribadinya masih dianggap labil, lebih menonjolkan emosi dalam berfikir dan bertindak. Terutama siswa laki-laki yang memang cenderung memiliki fisik lebih kuat ketimbang siswa perempuan.

Mari menengok kembali peristiwa tragis yang menimpa guru muda dari Sampang tersebut. Kronologi diawali dari teguran sang guru karena siswa bersangkutan mengganggu teman-temannya tanpa mengindahkan pelajaran yang diberikan. Rupanya teguran halus sang guru diacuhkan. Hal tersebut membuat sang guru memilih bertindak menggunakan cara lain yakni mengoles cat gambar pada pipi siswa yang membandel itu. Keributan tidak terelakkan lagi. Siswa tersebut merasa dipermalukan di hadapan teman-temannya, kemudian bertindak nekat tanpa memikirkan dampak yang diakibatkan. Ia memukul kepala gurunya hingga sang guru harus meregang nyawa.  

Kisah yang sangat miris dan tragis bukan?

Namun semua sudah terlanjur terjadi. Tidak ada gunanya saling melempar kesalahan. Yang tertinggal hanya hikmah dari peristiwa yang seharusnya masih bisa dihindari andai salah satu dari guru maupun murid tersebut mau mengalah.

Seberapa Penting Menjaga Hubungan Baik antara Guru dan Siswa? 

Menjalin hubungan baik antara guru dan siswa, pihak sekolah seharusnya mengambil inisiatif untuk memulai. Guru sebagai pemegang kendali dunia pendidikan hendaknya tidak segan memahami karakter siswa-siswinya sejak awal mereka dititipkan. Yang perlu diingat, dalam memahami karakter mereka hendaknya tidak semata-mata menilai kepribadian anak didik berdasarkan pengamatan dari luar. Adakalanya anak didik yang tampak baik-baik saja di permukaan ternyata menyimpan suatu masalah yang bisa berdampak buruk bagi perkembangan mentalnya di kemudian hari.

Belajar dari tindak kekerasan yang tidak saja dialami oleh siswa namun bisa juga dialami oleh guru, setidaknya mampu memberikan perenungan dan pembelajaran bagi kita semua bahwa hubungan baik antara guru dan siswa itu sangat penting. Terutama bagi proses tumbuh kembang mental anak didik di masa mendatang.

Cara Pandang dan Metode Pendidikan Sudah Waktunya Dibenahi

Menghadapi siswa yang nakal dan memperlakukan mereka secara intoleransi, atau menjadikan mereka sebagai subyek yang memiliki individual differences bukanlah suatu tindakan yang bijaksana. Memberlakukan kekerasan sebagai cara jitu untuk mengendalikan siswa agar menjadi generasi penurut, kiranya harus secepatnya dibuang jauh-jauh ke laut.

Cara efektif menjaga hubungan baik antara guru dan siswa di sekolah bisa dilakukan dengan sistim pendekatan. Bersikap lembut da cepat tanggap terhadap sikap siswa yang mendadak mengalami perubahan. Terutama perubahan yang menjurus ke arah brutalisme.

Bicara dari hati ke hati, berlaku selayak orang tua kandung terhadap anak didik adalah upaya lain untuk membantu mereka menemukan jati diri. Tak segan mencarikan solusi terbaik jika terbukti siswa mengalami masalah serius tanpa mengikutsertakan gerakan ringan tangan (baca:memukul/menempeleng), sangat membantu membentuk karakter anak didik menjadi lebih baik dan terarah.

Memang perubahan mencolok dunia pendidikan antara zaman old dan zaman now terletak pada metode pembelajarannya. Pada dunia pendidikan tempo dulu, menghukum siswa dengan melayangkan tangan atau menjemur mereka di tengah lapangan sambil berdiri dengan satu kaki dianggap hal yang wajar. Dipastikan tidak akan ada perlawanan dari siswa atau pihak orang tua. Apalagi sampai mempersoalkannya hingga ke jalur hukum.

Tapi di masa kini, di mana Undang-undang Perlindungan Anak sudah diberlakukan, jangankan melayangkan tangan, membentak anak didik dengan ujaran yang tidak pantas bisa langsung dipersoalkan.

Upaya-upaya yang Bisa Dilakukan untuk Membina Hubungan Baik antara Guru dan Siswa 

Kemesraan antara guru dan siswa akan sulit terjalin jika salah satu pihak tidak ada yang mau mengalah. Di sini sikap toleransi sangat diperlukan. Menghargai keinginan yang lebih muda, mencoba memahami dengan mengedepankan sikap ngemong, serta melibatkan pihak orang tua tanpa embel-embel kekerasan merupakan langkah awal yang bijaksana.

Sementara pihak orang tua hendaknya tidak menutup mata. Tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan putra-putrinya di tangan pihak sekolah. Sebab bagaimanapun juga peranan orang tua dan lingkungan keluarga di rumah sangat berpengaruh terhadap perkembangan sikap dan mental anak didik.

Tidak ada salahnya orang tua maupun guru membuka hati, berlapang dada untuk bersama-sama mendengarkan setiap keluhan-keluhan anak didik untuk kemudian bersedia membantu mengantarkan mereka hingga pencapaian pendidikan berkarakter sesuai dengan yang diharapkan.

Sudah terlalu kenyang kita mendengar kenakalan remaja yang diakibatkan oleh buruknya sistem pendidikan yang diterapkan di rumah maupun di sekolah.

Siapa pun tidak menginginkan tindak kekerasan yang menimpa guru dan siswa terus berlanjut. Mata rantai harus segera diputus. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan sia-sia.

Menciptakan suasana menyenangkan, aman dan tentram dalam lingkaran proses belajar mengajar di sekolah hendaknya menjadi prioritas utama, dipikul sebagai tanggungjawab yang wajib diemban bersama pula.

Terakhir merangkul masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkompeten untuk ikut berpartisipasi, berperan serta dalam menanggulangi tindak kekerasan yang timbul di sekolah secara preventif harus segera diwujudkan. Bukan hanya sekadar wacana tanpa tindakan.