Hari ini saya mengikuti diskusi daring di salah satu group Facebook, LIKE Indonesia dengan tema “Stop Kekerasan pada Anak” atau sering disebut “Stop Child Abuse”. Seperti biasa, acara ini dipandu full team para founder komunitas ini.

Saya memang menunggu acara ini karena saya ingin mengetahui bagaimana sebenarnya dampak kekerasan pada anak terhadap psikologis si anak di kemudian hari. Saya ingin membandingkannya dengan diri saya, karena saya adalah anak yang juga mengalami hal tersebut.

Berbicara mengenai topik ini, langsung ingatan saya mundur ke belakang sekitar 40 tahun yang lalu. Saya mengalami sendiri kekerasan, baik fisik maupun verbal, luka yang tidak bisa sembuh ternyata.

Mungkin Anda pernah mendengar tentang kekerasan pada seorang anak bernama Arie Hanggara di tahun 1984? Kisah itu begitu memilukan saat itu, seorang anak kelas satu SD harus tewas di tangan ayahnya sendiri akibat child abuse tersebut. Jenis-jenis kekerasan fisik yang diceritakan dalam cerita Arie Hanggara tersebut sama persis dengan apa yang saya alami, bedanya hanya saya tidak sampai kehilangan nyawa.

Menurut inhouse psikolog di CCC (Chit Chat Chew), Agustina Untari yang lebih akrab dipanggil Mbak Ina, kekerasan terhadap anak itu ada empat macam, yaitu: 1. Kekerasan fisik, 2. Kekerasan seksual, 3. Kekerasan emosional, dan 4. Penelantaran. Banyak tanda-tanda jika seorang anak mengalami salah satu kekerasan tersebut.

Mbak Ina juga menjelaskan ciri-ciri dan juga dampak pada anak yang mengalami kekerasan secara terperinci. Intinya kalau boleh saya rangkum, kekerasan pada anak dalam bentuk apa pun sangat tidak disarankan karena tidak ada dampak positif yang bisa dihasilkan dari anak yang mengalami hal tersebut.

Mungkin hampir semua orang pernah melakukan kekerasan pada anak, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kekerasan tersebut kepada anak. Jika kita adalah mantan korban perlakukan kekerasan, maka berusaha untuk menghentikan sampai di diri kita saja, jangan dilanjutkan kepada anak kita. Kalau perlu kita minta bantuan ahli untuk membantu kita menyembuhkan luka tersebut agar perlakukan tersebut tidak diwariskan ke anak kita.

Jika kita sebagai orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak, maka hentikanlah. Ikuti kelas-kelas parenting yang ada, di sana kita akan belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang anak. Langkah awal yang bisa kita lalukan jika kita sudah memutuskan untuk menghentikan kekerasan pada anak, maka langkah awal adalah memaafkan diri sendiri yang sudah terlanjur jadi pelaku kekerasan,

Kesaksian Korban Kekerasan

Kesaksian pertama oleh seorang Ibu dengan empat anak. Dia menceritakan pegalaman masa kecilnya yang sangat sering mendapatkan perlakuan kekerasan, baik secara fisik, maupun secara verbal. Luka yang dialaminya saat kecil terbawa terus sampai dewasa, sehingga Ibu ini memutuskan untuk memutus mata rantai kekerasannya berhenti di dirinya.

Keputusan yang sulit tentunya, perlu banyak belajar untuk bisa melakukan. Beruntung sang suami yang ternyata juga memiliki masa kecil yang serupa mendukung keputusannya untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak sampai pada diri mereka saja.

Berikutnya adalah seorang wanita asal Pasuruan yang juga tembuh dari keluarga yang berkekurangan tapi melakukan kekerasan terhadap anak. Dia tumbuh sebagai anak yang insecure dan juga sebagai penderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat perlakuan kekerasan verbal saat kecil. Demikian juga dengan suaminya yang juga mengalami masalah yang tidak jauh berbeda dengan yang dialaminya.

Cerita Ibu ini menyadarkan bahwa tidak semua dari kita memperoleh cara parenting yang baik, dan keputusan yang diambil pasangan suami istri ini cukup tepat untuk pindah ke daerah baru dan mulai membentuk citra diri baru serta meninggalkan keluarga yang menjadi toxic tersebut.

Kesaksian berikutnya datang dari Tasikmalaya, seorang wanita tumbuh dari keluarga broken home dan besar oleh asuhan ibu yang verbalnya penuh sumpah serapah serta sering bergonta-ganti pasangan. Perilaku Ibunya ini membuat anaknya merasa rencah diri dan takut untuk membina sebuah rumah tangga. 

Walaupun akhirnya sang anak tetap membina rumah tangga karena desakan orang tua yang tidak mau terus menerus dibebani oleh sang anak, tapi rumah tangganya pun tidak berjalan harmonis, karena sang suami ternyata melakukan love affair dengan wanita lain. Ini membuat gangguan kejiwaan terhadap sang anak.

Kesaksian terakhir yang sangat “cetar” ini datang dari seorang anak yang masa kecilnya mengalami sexual abuse sejak usia lima tahun. Wanita ini tumbuh dari orang tua yang toxic pula. 

Walaupun saat ini sang anak tidak merasa memiliki masalah karena sudah bisa menanggulangi trauma masa lalunya. Pesannya hanya satu, sebagai orang tua, kita harus benar-benar menjaga anak kita dari hal-hal yang pernah dia alami.

Mungkinkah anak korban kekerasan tumbuh sebagai orang dewasa antikekerasan?

Tidak selamanya anak korban kekerasan menjadi orangtua yang juga melakukan kekerasan kepada anaknya kelak. Ada juga anak korban kekerasan yang menyadari bahwa apa yang ia terima bukanlah hal baik. Dengan begitu, pada akhirnya ia termotivasi untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang ia terima.

Justru bisa saja anak korban kekerasan lebih melindungi anak-anak mereka dari kekerasan. Anak korban kekerasan harus diberi tahu bahwa apa yang ia terima merupakan hal yang salah dan tidak baik dilakukan, sehingga ia tidak akan berlaku seperti itu kepada siapa pun.

Anak juga tidak boleh disalahkan terhadap kekerasan yang diterimanya, sehingga trauma anak tidak bertambah buruk dan lebih cepat pulih. Banyak korban yang dapat mengatasi trauma masa kecil dengan dukungan emosional dari orang terdekat atau terapi keluarga, sehingga mereka menyadari bahwa kejadian ini tidak boleh terulang lagi.

Anak korban kekerasan bisa diedukasi, diberikan pendampingan, dan terapi untuk memulihkan kondisi psikisnya. Saat sudah memasuki usia dewasa, anak korban kekerasan juga bisa mengikuti kelas parenting dan kelompok pendukung pengasuh untuk belajar bagaimana cara baik mengasuh anak.

Pesannya adalah dalam menjaga anak, kita tidak boleh luput dari hal sekecil apapun. Sebagai orang tua kita harus memasang alert semakimal mungkin, karena kekerasan terhadap anak bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang terdekat. 

Anak-anak hanya butuh disayang saja, mereka tidak meminta apa-apa selain itu. Kadang-kadang justru kita sebagai orang tua yang terlalu complicated berpikirnya. Mari ke depan kita bersama-sama menjaga anak-anak kita sebagai penerus bangsa.