Pagi-pagi saya membaca di salah satu feed Instagram media online terkemuka, tentang penjelasan Istana soal unggahan gambar Pak Jokowi di Instagram beliau. Gambar seorang pria yang menenteng lampu badai, yang disertai dengan himbauan agar masyarakat tidak lengah menghadapi pandemi.

"Jangan pernah lengah. Selalu kenakan masker, jaga jarak, hindari kerumunan dan tidak keluar rumah bila tak ada keperluan mendesak”, demikian pesan di caption Presiden RI tersebut.

Namun dalam pembahasan selanjutnya, ternyata bukan himbauan tersebut yang dibahas, namun tentang gambar di unggahan tersebut. Seorang pria yang mengenakan hoodie dan membawa lampu badai dalam unggahan pak Presiden tersebut, disebutkan oleh netizen pernah diunggah di salah satu media Turki. 

Kata netizen, jika dibandingkan, perbedaannya terletak pada masker rangkap yang dikenakan pria tersebut di unggahan Presiden,  serta tambahan tulisan ‘waspada selalu’ dan virus corona di dekat telinga si pria.

Di akhir berita, ditampilkan penjelasan pihak Istana, bahwa ilustrasi Instagram Pak Jokowi berasal dari situs konten kreatif digital berbayar yang sudah lazim dipakai dimanapun. Mereka yang berlangganan bisa memakai dan memodifikasi sesuai dengan kebutuhan, dan kebetulan tim istana sudah berlanggan konten tersebut sejak lama.

Dengan gemas, saya lantas mengemukakan isi hati ke suami saya. Netizen dan media di Indonesia kadang membesar-besarkan sesuatu yang tidak penting, dan terkadang malah mengaburkan pesan pentingnya.

Selain perdebatan tentang gambar pria di unggahan Pak Jokowi, contoh lain pesan tidak penting yang sering saya temui di media-media adalah cerita 'gosip' tentang koleksi tas mewah atau baju branded seorang artis. Koleksi dengan harga ratusann juta bahkan milyaran itu, hadir tanpa penjelasan lain, yang kemudian hanya akan membuat pembacanya iri. 

Kenapa saya tidak bisa sekaya artis itu? Wah jadi artis mungkin bisa cepat kaya nih, pengen jadi artis aah ... pikiran-pikiran semacam itu, bisa jadi berkelebat di benak para pembacanya. menciptakan semacam ilusi, bahwa salah satu jalan tercepat untuk menjadi kaya, adalah menjadi artis. 

Sebenarnya tidak masalah punya cita-cita jadi artis, tapi yang salah ketika mereka tidak menemukan penjelasan, bahwa untuk menjadi sekaya dan sehebat artis itu, perlu proses. Tidak instan. 

Proses inilah yang jarang ditampilkan oleh media-media tersebut. Tanpa sadar media-media, turut membentuk pola pikir materialistis masyarakat. Ibarat sinetron, cerita tentang kekayaan sudah dipastikan akan laku dibaca masyarakat. Dan media akan terus memberi makan dengan info-info yang menurut saya cenderung tidak membawa pencerahan untuk pembacanya. 

selain di media cetak atau online, dunia perghibahan juga makin diperparah oleh story-story instagram influencer yang pengen ngetop. Dengan sengaja mereka menampilkan settingan atau gimmick, berharap direpost akun lambe-lambean dan dikomentari ribuan orang yang berusaha mencari kebenaran gosip tersebut. 

Dari pstingan akun centang biru dan komen netizen, kita akan melihat mayoritas pemikiran dan karakter mereka. Meski tidak bisa disamaratakan, tapi paling tidak itulah cerminan orang-orang yang aktif di media social saat ini.

Sangat sedikit, orang yang mengambil pilihan untuk menjadi akun centang biru yang bertanggung jawab, ataupun netizen yang bertanggung jawab.  

Dan saya jadi kuatir, dengan pembentukan karakter orang Indonesia, yang selalu dijejali dengan gosip, hoaks dan pesan tidak penting. Masak sih tidak ada yang lebih penting disampaikan selain ghibah ? 

Di tahun 2017, Majelis Ulama Indonesia sempat mengeluarkan fatwa, mengharamkan ghibah di dunia medsos.  Tapi mungkin ghibah sudah begitu merasuk dalam karakter orang Indonesia, sebagaimana ketika di dunia nyata, berghibah juga sudah menjadi salah satu aktivitas yang paling diminati.  Mulai dari emak-emak saat belanja di tukang sayur (seperti yang sering ditampilkan dalam sinetron kita) hingga di mengghibah bos di level pekerja kantor. 

Saya membayangkan jika ruang publik kita diisi oleh banyak pesan mencerdaskan yang  dipelopori oleh media-media resmi yang kerap menjadi rujukan masyarakat, mungkin masyarakat kita bisa lebih cerdas. 

Seperti pada saat tsunami di Jepang, media-media Jepang sepakat memberitakan tentang semangat untuk bangkit dari bencana. Tidak hanya dengan air mata mereka memikat pembaca/penonton, tapi juga dengan semangat untuk move on dan bangkit dari keterpurukan.  Sehingga masyarakat mempunyai motivasi bersama untuk segera pulih.  

Menurut saya, orang-orang atau hal-hal yang tidak punya manfaat, sebaiknya tidak usah diberi panggung berlebihan. Televisi juga tidak usah menghadirkan narasumber yang bisanya berdebat ngalor ngidul, sehingga mengajari penontonnya waton sulaya atau asal debat dengan argumen yang tidak beralasan.  

Memang tidak mudah, bersikap seletif di tengah era banjir informasi seperti sekarang. Tapi setidaknya kita yang mempunyai kesadaran, bisa lebih bersuara untuk menyampaikan kebenaran, dengan selektif mengonsumsi bacaan dan tidak tertipu dengan click bait yang digunakan untuk mendulang keuntungan semata. dan juga tidak asal membagikan info-info yang kita terima sebelum cek dan recek kebenarannya.

Walter Lippman, seorang jurnalis Amerika yang cukup berpengaruh di abad 20 pernah mengatakan bahwa masyarakat yang sehat, bergantung pada informasi yang diterimanya. Semoga saja semakin banyak masyarakat Indonesia yang sadar untuk memilah asupan yang dibutuhkan dan yang sepatutnya diabaikan.

Yook bisa yook !