Dari akar sampai pucuknya, IMM bukanlah organisasi politik. IMM tidak akan pernah membentuk partai politik (parpol) apabila Muhammadiyah tidak terlibat dalam panggung politik praktis atau menjadi salah satu parpol. 

Selama Muhammadiyah mempresentasikan pencerahan kepada umat dan bangsa, selama itu juga IMM merepresentasikannya. Maka dari itu, jangan menguraikan keduanya. 

Seumpama burung, untuk terus bisa terbang mengarungi zaman, antara sayap perkaderan (Ikatan) dan badan (Muhammadiyah) tidak boleh terpisah satu sama lain. karena IMM adalah organisasi perkaderan yang melalui berbagai Komisariat dengan corak masing-masing, melebarkan sayap dakwah Muhammadiyah.

Sehingga dapat dikatakan IMM adalah tangan kanan Muhammadiyah. Biasa juga disebut IMM sebagai anak kandung Muhammadiyah.

Adapun terkait genjotan antara Ortom dan Omek yang ada di UMM bukanlah karena faktor politik praktis. Semua itu karena perenggutan lapangan dakwah yang tidak etis apalagi logis yang dilakukan oleh Omek. Antara Ortom dan Omek adalah organisasi yang berideologi yang memiliki tujuan menginternalisasikan ideologi masing-masing.

Membendung hal tersebut, tidak heran juga jika masing-masing komisariat IMM yang ada di UMM saling bergandengan, bekerja sama dalam melawan masuknya ideologi lain di dalam ruang dakwah mereka. Karena perbedaan ideologi dan perbedaan kiprah perjuangan membuat Ortom dan Omek di UMM tidak bisa berbaur lebih akrab.

Masing-masing Komisariat IMM di UMM melakukan perlawanan sejatinya karena menginginkan setiap organisasi, terutama Omek, bertindak sesuai dengan peraturan yang ada. Karena Omek sudah diberikan peluang dan tempat tertentu untuk melakukan proses rekrutmen.

Bagi Omek, seharusnya cukuplah dengan ruang dan tempat yang sudah ditentukan tanpa harus masuk lebih dalam dan melakukan tindakan yang agresif berupa memasuki ruang-ruang kelas. Padahal setiap Komisariat IMM yang ada di UMM yang resmi mendapatkan naungan serta perlindungan dari SK Rektor saja tidak melakukannya dalam ruang-ruang kelas demi menjaga keberlangsungan Civitas Akademik.

Andaikan Omek mau bertindak sesuai koridor yang ada, mendukung tujuan serta melebarkan sayap dakwah Muhammadiyah, saya berpendapat mereka akan dianggap saudara sepupu karena tidak serahim atau dianggap sebagai kakak beradik yang tidak sedarah. Akan tetapi, kejadian riil yang mereka aktualkan malah menjadikan mereka dianggap sebagai PGM (Penumpang Gelap Muhammadiyah).

Dikatakan PGM karena memaksakan tindakan selama hidup di dalam tubuh Muhammadiyah dengan membawa kepentingan pribadi. Parahnya lagi, mereka malah menentang peraturan, seperti melakukan rekrutmen sebelum SK Kemahasiswaan diberlakukan, dan berusaha memarginalkan Ortom yang saya sebutkan di atas sebagai anak dari Muhammadiyah.

Mengintegrasikan Komisariat

Adapun pengertian dari Komisariat, sesuai dengan ADM (Anggaran Dasar Muhammadiyah) pada BAB III, Pasal 10, nomor 1 tentang Susunan Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), sub poin a, ialah:

Kesatuan anggota dalam suatu Kampus, Fakultas atau Akademi dan atau tempat tertentu yang tugasnya tercatat pada ART Pasal 8 nomor 2. Bahwa komisariat berkewajiban melaksanakan usaha-usaha organisasi untuk menghimpun, membina, dan meningkatkan kualitas serta menyalurkan bakat dan minat anggotanya untuk kepentingan organisasi.

Walaupun setiap fakultas, misalnya di UMM, terdapat komisariat yang memiliki slogan dan ciri khas masing-masing, berbeda metode dalam perkaderan, dan tingkat keilmuan yang berbeda pula, esensi dari semua itu adalah untuk meneruskan estafet kepemimpinan di tingkat komisariat. Juga demi berjalannya roda perkaderan, sehingga harus disesuaikan menurut kondisi kultur dan keilmuan komisariat itu sendiri.

Bisa dikatakan, setiap upaya perkaderan yang dilakukan oleh masing-masing komisariat ialah untuk kepentingan organisasi, membawa misi kemajuan organisasi, dan demi mencapai tujuan organisasi itu sendiri. Dari perbedaan komisariat yang ada ialah untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi sasaran dakwah demi memudahkan proses dakwah Muhammadiyah.

Meminjam ungkapan Prof. Dr. H. A. Mukti Ali yang dikutip oleh Drs. M. Din Syamsuddin MA. ketika mengantarkan buku Anggota IKAPI “Muhammadiyah Kini & Esok”, Muhammadiyah sebagai gerakan serbawajah (dzu wujuh). Keserba-wajahan yang ada adalah prototipe dari wajah dakwah yang merupakan wajah tunggal Muhammadiyah.

Sejauh ini, dapat kita simpulkan, perbedaan yang ada pada masing-masing Komisariat sebenarnya untuk menunjukkan dan membawa misi dakwah. Maka mengintegrasikan setiap Komisariat yang ada dalam tubuh Muhammadiyah rasanya sangat diperlukan. Mengingat banyaknya pengaruh yang masuk merasuki tubuh Muhammadiyah menjadikan IMM makin hari makin diremehkan.

Dalam daripada itu, peranan IMM yang besar juga berat bisa terurai kalau hanya karena kepentingan masing-masing komisariat yang mengkhendaki perbedaan, Jika tidak ada penyatuan misi dalam menciptakan kemajuan serta memberikan pencerahan, bisa jadi IMM dalam menghadapi persaingan dan menghadapi kemajuan zaman akan terus berkutat di tempat yang sama.

Maka dari itu, jangan terus mempersoalkan kematangan intelektual internal, terlebih lagi kalau itu hanya sekadar wacana belaka. Pergerakan dan turun lapangan juga diperlukan. Sebab sebagian besar intelektual bisa kita dapatkan dari pengalaman dan proses.

Jika mencoba takut salah, tidak mencoba sesungguhnya jauh lebih parah.