Mungkin tidak sedikit dari pembaca yang awam dengan hal-hal yang berkaitan dengan film Star Wars yang dibuat oleh seorang bernama George Lucas dan pertama kalinya diputar di bioskop pada tahun 1977 itu. 

Namun siapa yang tidak tahu satu sosok misterius dengan kostum jubah serbahitam dengan topeng yang lebih terlihat seperti helm dengan bentuk yang khas? Karakter itu bernama Darth Vader, salah satu karakter utama dalam film Star Wars

Selain Darth Vader, karakter lain dari Star Wars yang banyak orang awam tahu adalah sosok pasukan Stormtrooper. Kebalikan dari Darth Vader, karakter ini berkostum serbaputih; jumlahnya banyak, sesuai dengan nama belakangnya, trooper

Ada fakta menarik dari film-film Star Wars. Film pertama Star Wars diproduksi dan ditayangkan di bioskop tahun 1977 berjudul IV: A New Hope; sedangkan film keempat berjudul I: The Phantom Menace, diproduksi tahun 1999. 

Penjelasan secara garis besarnya begini: kisah yang menceritakan klimaks sampai ending film Star Wars yang menceritakan terbunuhnya Darth Vader, diproduksi di tahun 1977 sampai 1983. Sedangkan kisah yang menceritakan asal muasal para tokoh dan cikal bakal konflik dalam Star Wars justru baru diproduksi di tahun 1999 sampai tahun 2004.

Dikisahkan, di sebuah galaksi antah-berantah, semua planet dari seluruh galaksi bernaung di bawah hukum dan perlindungan yang tergabung dalam sebuah senat yang dipimpin kanselir. Sistem pemerintahannya berbentuk republik dan menerapkan demokrasi. 

Sementara itu, juga ada dua ordo yang kuat, yakni Jedi dan Sith. Ordo Jedi adalah spesies yang memiliki keunggulan di antara spesies lainnya, yakni berciri dalam kandungan darahnya memiliki kadar klorin di atas rata-rata spesies lainnya. 

Para Jedi memiliki “ilmu” telepati ataupun dapat menghancurkan dan memindahkan apa pun hanya dengan kekuatan pikiran. Senjata para Jedi adalah pedang dari semacam cahaya yang disebut Lightsaber

Ordo Sith pun sebenarnya memiliki keunggulan yang kurang lebih sama dengan para Jedi. Namun perbedaan antara Jedi dengan Sith adalah Jedi menggunakan kekuatannya itu untuk melindungi seluruh galaksi dan Senat. Ordo Jedi setia kepada republik dan demokrasi, namun memiliki semacam diktum bahwa “kesetiaan kepada Senat, bukan kepada siapa yang memimpin”. 

Dalam arti lain, Jedi menggunakan kekuatannya untuk kebaikan. Sedangkan Sith kebalikan dari Jedi, mereka semata-mata ingin menjadi penguasa seluruh galaksi di bawah ordonya dan tidak percaya kepada republik dan demokrasi. Ordo Sith berambisi mendirikan sebuah kekuasaan yang bernama Galactic Empire, yang menurut doktrin mereka adalah demi tercipta masyarakat yang aman dan kuat. 

Dalam “dunia” Star Wars, digambarkan memiliki “tuhan” dalam bentuk spiritualitas yang dinamakan The Force. The Force tidak disembah layaknya tuhan dalam konsep ilahi dunia kita, di mana ada kewajiban dan pantangan yang harus dipatuhi sekaligus juga liturgi yang harus dijalankan umatnya. 

Spiritualitas The Force bermanifes atau bersemayam dalam jiwa tiap makhluk galaksi. Maka dari itu, para Jedi maupun Sith dapat mengonversi energi The Force menjadi kekuatan yang dahsyat. 

Ini juga yang menjadi pembeda antara Jedi dengan Sith. Dalam jiwa para Jedi didominasi sisi kebaikan dari The Force, sedangkan para Sith sisi gelap dari The Force lebih mendominasi jiwa mereka. Itulah mengapa dalam jiwa para Sith dipenuhi dengan ambisi nafsu berkuasa dan menjadi yang terkuat diantara makhluk-makhluk galaksi lainnya. 

Dalam film Star Wars episode III: Revenge of the Sith (2005), ordo Sith akhirnya berhasil mengambil alih Senat Galaksi dan mendirikan Galactic Empire. Kekuasaan dapat mereka raih dengan cara mengobarkan peperangan secara sporadis di beberapa planet, kemudian memproduksi pasukan dengan cara mengkloning manusia yang nantinya inilah yang dinamakan Stormtroopers yang menjadi bala tentara dari Darth Vader atau Galactic Empire. 

Kemudian dengan bersiasat, salah satu pimpinan ordo Sith berhasil duduk menjadi ketua senat, yaitu Kanselir Palpatine. Kanselir Palpatine inilah dengan kekuatan “the dark force” yang dimiliknya dapat merasakan bahwa dalam diri Jedi muda berrnama b memiliki kadar Klorin yang sangat tinggi di antara Jedi lainnya, namun di jiwanya bersemayam nafsu amarah dan ego menjadi yang terhebat dan berkuasa. 

Kanselir Palpatine berusaha menghasut Anakin untuk melawan sesama Jedi dan bergabung dengannya mendirikan Galactic Empire. Akhirnya Kanselir Palpatine pun berhasil menghasut Anakin. Di tangan Anakin Skywalker, para Jedi yang masih dalam pendidikan yang terdiri dari kanak-kanak dibantai. Perbuatan itu dimaksudkan untuk memastikan tidak ada lagi generasi penerus ordo Jedi. 

Dengan kekuasaan yang sudah di depan mata, akhirnya Kanselir Palpatine menyingkap wujud dan identitas sesungguhnya, yakni Lord Sidious. Klimaksnya, dia memerintahkan kepada para Stormtrooper untuk melaksanakan rencana yang rupanya telah disusun sebelumnya, yaitu Order 66. 

Perintah Order 66 adalah kode untuk membasmi seluruh Jedi yang tersebar di berbagai planet dengan kekuatan pasukan Stormtrooper. Stormtrooper yang pada awalnya adalah semacam tentara organik untuk mengamankan republik galaksi, justru oleh Kanselir Palpatine yang telah berubah menjadi Lord Sidious digunakan untuk membasmi para Jedi yang merupakan tulang punggung utama Senat. 

Klimaks lainnya yang digambarkan pada episode IV: Revenge of The Sith adalah perubahan seorang Anakin Skywalker menjadi Darth Vader dengan ciri penampilan khas yang saya ceritakan di awal tulisan. Darth Vader seutuhnya berdiri sebagai simbol kekuasaan baru bernama Galactic Empire. 

Dari kacamata penyimak sejarah dan kisah-kisah epos peradaban, menurut saya, Star Wars ini bagaikan kisah epos Mahabharata versi modern. Boleh jadi kelak di zaman manusia-manusia di masa depan, kisah-kisah epos peradaban dari Mahabharata, Helen of Troy atau Achilles dengan 300 pasukannya akan digantikan oleh epos Star Wars

Di Indonesia sendiri, kisah Star Wars akan menggantikan epos kerajaan Singosari ataupun kerajaan Demak. Karena kesamaan dari semua kisah epos atau hikayat yang saya sebut itu dengan Star Wars, kita dapat memperoleh pelajaran tentang nilai-nilai integritas, kepahlawanan, spiritualitas, intrik politik, perebutan kekuasaan, dan cinta.