"Ehh Sanak banyak kali mahasiswa teater yang ngutip buku Sanak buat skripsinya. Denai heran loh kayak tak ada lagi tokoh lain", keluhku pada Stanislavsky di suatu pagi gerimis yang dijawabnya dengan senyum sumringah nan mengesalkan.

Stanislavsky adalah nama panggung Constantin Sergeyvich Alexeyev (Moscow, 17 Januari 1863) sang pendiri Moscow Art Theatre. Berasal dari keluarga borjuis, Stanislavsky tidak bisa secara terang-terangan menampakkan kecintaannya terhadap teater. Sehingga penggunaan nama Stanislavsky pun bertujuan untuk menyembunyikan aktivitas keseniannya dari sang ayah. 

Latar belakang keluarga membuat Stanislavsky harus menyamarkan identitas sebagai aktor karena status sosial aktor tidak diakui secara baik dalam masyarakat Rusia. Memang awal abad 19 banyak aktor yang menjadi budak, mereka tampil hanya jika disuruh oleh tuannya. Bahkan setelah dihapusnya perbudakan, aktor tetap dianggap sebagai masyarakat kelas bawah. 

Pada sisi yang berlainan, ia memunyai privilese untuk menghadiri pertunjukkan opera, ballet dan sirkus secara rutin. Keluarga 'Stanis' sangat menyukai teater namun menekan hasrat anaknya untuk menjadi aktor karena secara sosial dapat memancing rasa malu. Meskipun demikian, Stanis tetap menemukan celah penyaluran bakatnya melalui fasilitas teater yang dibangun ayahnya. 

"Kalau dihinap-menungkan, lucu juga jalan seni Sanak ya! Keluarga Sanak tak mau anak-anaknya jadi aktor tapi membangun fasilitas teater di perkebunan keluarga HEHE baa kok bisa mode tu?", seloroh ku balik mencemooh Stanislavsky dengan dialek khas Orang Minang. Dia tak menanggapi tapi langsung menyambung cerita tentang kehebatan Moscow Art Theatre!

Stanislavsky mendirikan Moscow Art Theatre tahun 1897 dan langsung mengantarkannya sebagai aktor dan sutradara profesional. Proses latihan dilakukan setiap hari dengan mengalokasikan 8 jam per hari, 33 kali latihan untuk ensemble permainan dan gladiresik 3 kali. Saking perfeksionisnya, Stanislavsky menyebut pertunjukan-pertunjukannya masih kurang latihan.

Sepanjang tahun 1898-1904, Stanislavsky bereputasi sebagai sutradara realisme terdepan dan aktor yang berkarakter. Moscow Art Theatre pun menempatkan diri sebagai avant garde dalam realisme dengan memproduksi Chekov, Gorky, Ibsen, dkk. Namun ada masanya dimana Stanislavsky mulai menjelajahi kemungkinan-kemungkinan lain dalam teater yakni tahun 1907 dan 1908. 

Dachenko sebagai rekan Stanislavsky dalam mengurus MAT melihat eksplorasi tersebut akan mengganggu stabilitas teater mereka. Begitupun dengan para aktor MAT yang merasa eksplorasi tersebut sebagai sesuatu yang 'eksentrik' dan mulai meninggalkannya. Stanislavsky tetap bereksperimen untuk mengembangkan apa yang ia sebut sebagai tata bahasa akting pada tahun 1906.

Tahun 1911, Stanislavsky yang frustasi mengancam akan mengundurkan diri jika MAT tidak mengadopsi The System sebagai metode kerjanya. Dachenko meng-iyakan namun setelah satu tahun berlalu para aktor tetap skeptis dan hengkang dari MAT. Setelah itu ia mendirikan The First Studio dan bekerjasama dengan para aktor yang bersedia menjalankan eksperimennya. 

***

"Hidupku telah benar-benar berubah, aku telah menjadi proletar! Bahkan ketika anakku TBC, aku tidak mampu membayar pengobatannya!", demikian kenang Stanislavsky sambil menyeruput Teh Talua di Lapau SutanMalanoBasa. Stanis menceritakan bagaimana pahit perjuangannya pasca Revolusi Bolshevik 1917. 

Berjuang melawan penggusuran dan beragam kesulitan finansial akhirnya Stanislavsky memandang ke Barat. Amerika menjadi satu-satunya solusi bagi Stanislavsky untuk tetap menghidupkan teater-nya. MAT dipecah menjadi dua dimana Stanislavsky menjalankan tur ke Amerika sementara Dachenko tetap menghidupkannya di Moscow. 

Banyak aktor berbakat MAT yang memilih menjadi aktor, sutradara dan guru di Amerika ketimbang kembali ke Uni Soviet. Richard Boleslavsky, Maria Ouspenkaya dan Michael Chekhov merupakan nama-nama yang membesarkan nama Stanislavsky di Amerika. Pada saat di Amerika jua lah Stanislavsky menerbitkan buku My Life in Art dan An Actor Prepares dalam bahasa Inggris.

Sekembalinya ke Moscow, Stanislavsky menghadapi kontrol Soviet yang semakin kencang atas seni. Negara menganggap realisme lebih unggul dari seni abstrak dan simbolisme, dunia fisikal lebih unggul dari dunia spiritual. Pers Soviet pun dengan sengaja memusatkan perhatian publik pada karir awal Stanis dan sengaja mengabaikan eksperimen artistiknya.

Sumber : A Dictionary of Theatre Antrophology

Meskipun demikian, Stanislavsky tetap melanjutkan minatnya pada Yoga, simbolisme dan struktur formal drama dan akting. Menurut Stanis, dibutuhkan banyak 'isme' untuk mengekspresikan kehidupan manusia yang begitu subtil, kompleks dan beragam. Karena itu, ia mendukung mantan muridnya Vsevold Meyerhold.

Di pengasingan yang dilakukan Stalin terhadap Stanislavsky tahun 1936, Stanislavsky menjalani tahun-tahun paling tidak realisnya. Ia bereksperimen dengan opera, drama-drama Shakespeare, drama baru yang dibuat melalui improvisasi keaktorannya. Namun pun demikian, kita dapat mengetahui upaya yang dilakukan Stanislavsky untuk mensistemasi dunia akting memang tidaklah mudah. 

Stanislavsky berujar, "Setiap master seni harus menulis, untuk mencoba dan mensistemasi seni mereka." (Filippov, 1977: 58)

Pekerjaan Stanislavsky dalam melakukan pencatatan sangat luar biasa, tak pernah menganggap The System atau buku-bukunya sebagai karya yang 'selesai'. Ia meninggalkan satu otobiografi, tumpukan draft untuk tiga manual akting, catatan-catatan yang tak diterbitkan, rencana pelajaran. Dan yang paling penting adalah harapan agar akting tetap dieksplorasi dan dipelajari keunikan komunikasinya.

Sumber bacaan : Sharon Marie Carnicke (2010), Eugenio Barba (1991)