Entah sudah berapa banyak cendekiawan, peneliti dan ahli yang telah lama bergelut dalam isu-isu kemanusiaan. Namun tidak pernah benar-benar melahirkan sebuah manifesto kemanusiaan yang mampu menyelamatkan kemanusiaan itu sendiri sepanjang sejarah lahirnya manusia di muka bumi. 

Dalam upaya menyelamatkan dan memartabatkan umat manusia agar tidak punah di kemudian hari, manusia secara umum menggantungkan diri pada dua hal fundamental. Dua hal itu adalah spiritualitas dan rasionalitas.

Dalam dimensi spiritualitas ini dikomandoi oleh agama yang terbagi ke dalam dua kriteria. Yang pertama adalah agama langit atau samawi yaitu agama yang dibesarkan oleh para nabi dimana setiap pesan yang disampaikannya kepada manusia yang lain, dipercaya sebagai kalam atau wahyu langsung dari Tuhan. 

Kriteria kedua adalah agama bumi atau yang populer kita kenal dengan penghayat kepercayaan yang jumlahnya sangat banyak dan bertebaran disetiap wilayah diberbagai negara.  Agama bumi ini umumnya muncul dari hasil perenungan spiritualitas mendalam dari seorang manusia bijak dan berbudi luhur. Murid-murid sang manusia bijak ini kemudian mengkultuskan setiap nilai ajaran sang tokoh hingga hari ini yang dijadikan sebagai pedoman dan jalan keselamatan.

Sebetulnya dua kriteria agama tersebut diatas masing-masing memiliki kemiripan tentang ajaran kebijaksanaan dan nilai-nilai kehidupan yang harus dilakoni oleh seluruh manusia demi mencapai kebahagiaan hidup dan tatanan masyarakat berkeadaban. Meskipun pada kriteria agama bumi, para penganutnya lebih memiliki kebebasan dalam mengekspresikan nilai keadaban tersebut dengan ritus yang tidak seketat dalam agama samawi dimana nilai teks dan ritus secara dominan dinilai sakral dan kurang bisa dieksplorasi karena segala ajaran yang termaktub dalam kitab dipandang final dan terkunci dari rekontekstualisasi.

Meski tentu hari ini telah bermunculan para mufasir baru yang mecoba mengkaji ulang makna esensial-kontekstual dalam diksi-diksi ayat suci meski harus menghadapi segala penentangan dan pengasingan. 

Sedangkan agama bumi boleh dikatakan lebih dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan autentik yang lentur namun tidak membiarkan esensinya melebur. Tapi tidak jarang, agama bumi juga banyak dibangun dengan hal-hal magis yang sudah tidak sejalan sama sekali dengan perkembangan zaman hari ini.

Sayangnya, selain kelaparan dan wabah penyakit yang telah banyak merenggut nyawa manusia pada kisaran abad 13 – 14, agama muncul dalam panggung peperangan dunia sebagai ekspresi pembelaan dan keyakinan pemeluknya atas kalam Tuhan yang mutlak diperjuangkan demi kemanusiaan meskipun harus menghabisi kemanusiaan itu sendiri, bukankah ini sebuah ironi? 

Sebut saja Perang Salib yang berlangsung hampir dua ratus tahun dengan jumlah korban ratusan ribu manusia. Yang lebih mencengangkan, perang agama tidak hanya terjadi antar agama, melainkan juga terjadi secara intra agama. Sebut saja peristiwa Shiffin yang menjadi titik awal terbelahnya Islam menjadi dua praksis politik yang belakangan dianggap madzhab teologis yang hingga hari ini langgeng dan hampir tidak mungkin untuk kembali dipersatudamaikan, yaitu antara Sunni dan Syiah.

Berdasarkan realitas dimana agama seharusnya menjadi basis nilai kebijaksanaan dan keberadaban hidup manusia, ternyata belum mampu untuk mengejawantahkan spirit utama ajarannya yaitu memanusiakan manusia. Terlalu banyak konflik dan paradigma irrasional yang sudah tidak bisa berjalan bergandengan dengan agenda perdamaian dunia yang diperburuk dengan kehadiran radikalis politik agama semacam ISIS yang terornya hingga hari ini tidak bisa dihentikan.

Dalam realitas yang menjenuhkan ini, muncul kembali kelompok rasional yang sebetulnya telah hadir jauh lebih lama sebelum agama-agama muncul, tentu dengan kapasitas nalar yang hari ini telah jauh berkembang. Kelompok rasional ini lebih banyak dinahkodai oleh ilmuwan yang kalau tidak ateis, adalah agnostik. Tentu rasionalitas disini bukan jenis sudut pandang rasional sederhana yang juga diterima dan dilakukan oleh para pemeluk agama, namun jauh melampaui itu.

Contoh salah satu garapan mutakhir yang dilakukan oleh Elon Musk dengan Tesla Foundation-nya adalah sebuah cita-cita serius untuk menemukan bumi baru untuk kehidupan umat manusia di masa depan, dimana hal ini tidak mungkin bisa diikuti oleh para pemeluk agama yang percaya bahwa bumi adalah tempat tinggal manusia satu-satunya.  

Atau kalau kita menyimak visi revolusioner Stephen Hawking yang belum lama ini wafat, tentang proyek regenerasi sel manusia dimana keberhasilan dari proyek ini akan mampu menciptakan manusia yang bisa hidup abadi. 

Tentu wacana seperti ini akan ditolak bahkan boleh jadi diperangi oleh banyak kelompok agama karena telah secara fundamental bertentangan dengan nilai sakral agama yang menempatkan surga dan neraka sebagai dua tempat keharusan bagi seluruh manusia setelah kiamat untuk dihakimi atas amal perbuatan selama hidup di dunia. Surga dan neraka ini tentu akan terancam eksistensinya ketika proyek Hawking mencapai titik keberhasilan di masa depan.

Dan yang juga disayangkan adalah konfrontasi beberapa tokoh atau kelompok rasional terhadap agama dan pemeluk agama yang hanya menciptakan tembok raksasa pemisah antara keduanya sehingga memupus konvergensi yang bisa saja telah diimpikan oleh keduanya sejak lama. 

Sebut saja Richard Dawkins seorang ahli biologi yang secara frontal menyerang setiap agama dan para pemeluknya dengan argumen yang meskipun saintifik, namun miskin adab dan kebijaksanaan. Sehingga nilai dan pandangan rasionalitasnya tentang manusia dan alam semesta yang bisa saja diakui benar adanya, gagal memiliki tempat di hati para pemeluk agama yang dia serang nilai-nilai sakral keyakinannya itu.

Ternyata kita telah melihat bahwa kedua poros—spiritualitas agama dan rasionalitas sains—belum bisa berdamai sepenuhnya. Maka perlu ada jembatan kokoh yang benar-benar mampu mempertemukan keduanya dalam spirit rasionalitas dan spiriti kebijaksanaan. Jembatan itu bernama kemanusiaan. 

Agama harus sudah mampu dewasa dalam memprioritaskan kemanusiaan di atas segalanya. Bukankah ada sebuah ungkapan populer “jika kau mengenal diri mu, maka kau akan mengenali Tuhan”?

Ungkapan itu seharusnya dilihat bahwa hal hakiki di muka bumi ini adalah manusia karena manusialah satu-satunya ras yang memiliki akal dan hati untuk merawat alam semesta. Dengan kata lain, bila kita mampu memanusiakan manusia, maka sama artinya kita telah menuhankan Tuhan. 

Dalam banyak tradisi hidup para sufi, manusia secara hakikat tidak akan pernah bisa terpisah dari Tuhan. Tuhan sendiri yang memancarkan dzat-Nya kepada manusia sebagai makhluk yang dia nyatakan sempurna dibanding makhuk lainnya yang Dia ciptakan.

Di sisi yang lain, kelompok rasionalis pun tidak mungkin benar-benar menanggalkan spiritualitas mereka dalam kehidupan. Adalah spiritualitas para ilmuwanlah yang mendorong mereka untuk terus mencari dan memecahkan misteri. Wacana-wacana revolusioner seperti mencari bumi baru atau menuju manusia imortal, patut kita apresiasi sebagai langkah visioner-progresif yang sangat mungkin dicapai suatu hari nanti. 

Agama tidak perlu secara reaksionis menghadang wacana tersebut karena bertentangan dengan tradisi tertentu dan sementara para mufasir kitab suci. Bukankah Tuhan sendiri yang menghendaki manusia untuk memiliki akal dan nalar yang membuatnya berbeda dengan makhluk lain? Maka ketika sekelompok manusia menghalangi optimalisasi nalar pemberian Tuhan, mereka telah menantang kehendak Tuhan itu sendiri.

Maka seharusnya spiritualitas agama dan rasionalitas sains harus bertemu di jembatan kemanusiaan dengan agenda damai peradaban dunia dan alam semesta. Sains yang bersifat liar dan tidak terbatas harus bisa mengadaptasi nilai-nilai kebijaksanaan yang seharusnya dipromosikan oleh agama. Bukan sebaliknya, agama memperalat sains untuk melakukan kerusakan atas nama pembelaan nilai-nilai agama dan Tuhan yang bertentangan sama sekali dengan nilai kemanusiaan. 

Kemanusiaan harus berada diatas keduanya---spiritualitas agama dan rasionalitas sains. Karena hanya melalui manusialah, agama dan sains itu lahir dan berkembang sampai hari ini. Maka sudah sepatutnya spiritualitas agama dan rasionalitas sains harus menghormati nilai kemanusiaan agar terciptanya peradaban alam semesta yang harmonis dimana semua unsurnya tidak saling bertabrakan, namun semakin saling menguatkan.