Saya lahir dan dibesarkan dari keluarga yang agama kami diakui di Indonesia. Berlatarbelakang keluarga yang beragama ini, saya menjalani hidup dan kehidupan sebagaimana orang-orang pada umumnya.

Dari cerita-cerita dalam kitab suci, saya mengetahui bahwa sesungguhnya bumi ini diciptakan oleh Yang Mahakuasa, dan biasa disebut dengan Tuhan. Bahkan manusia, dari ujung rambut hingga telapak kaki diciptakan olehNya. Saya sendiri merasa takjub yang luar biasa akan peristiwa penciptaan ini.

Lama, saya tidak pernah berpikir mengenai alternatif atau pemikiran lain selain bahwa Tuhanlah yang menciptakan semua yang ada. Hingga beranjak kemasa-masa sekolah menengah pertama (SMP), ketika mulai perlahan-lahan pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) diajarkan dengan lebih serius daripada ketika sekolah dasar (SD).

Saya berkenalan dengan teori evolusi, bahwa manusia seperti anda dan saya, dahulu kala merupakan monyet (?) yang lalu terus berkembang hingga mencapai bentuknya yang sekarang.

Saya tentu sangat geli membayangkan hal ini. Berimajinasi bahwa dahulu sebelum menjadi manusia, bukan kaki yang digunakan untuk berjalan, malahan tangan. Tentu saja, saya menertawakan teori ini, karena saya rasa hal itu tidaklah masuk akal. Saya masih meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia sudah seperti apa yang ada sekarang, karena ini lebih masuk akal.

Waktu terus berlanjut, hingga kini saya berada di bangku perguruan tinggi dan sudah menjalani proses perkuliahan. Saya bersentuhan dengan mata kuliah logika dan Filsafat. Di sinilah awal perjalanan keimanan saya mendapatkan “tantangan” yang luar biasa. Dahulu, saya benar-benar yakin bahwa apa yang tertera dalam kitab suci itu sungguh benar datangnya dari Tuhan, dan tidak ada kesalahan di dalamnya.

Tetapi ketika mulai dengan seksama saya membaca ulang dengan daya nalar yang mulai dibangkitkan melalui mata kuliah di atas, saya perlahan-lahan pesimis, dan bahkan sampai pada masa saya sendiri tidak meyakini kitab suci itu benar adanya. Saya pernah pula merobek kitab suci karena hal tersebut.

Ada poin-poin yang menurut saya tidak masuk akal dalam kitab suci. Tidak berhenti dalam pencarian dan tindakan yang hampir frustasi ini, saya pun coba berdiskusi dan menanyakan ketidaklogisan yang saya temukan dengan salah seorang teman.

Saya pun tidak menemukan jawaban logis dan bahkan terkesan mengecewakan, karena secara tersirat menyuruh saya menghentikan hal-hal yang demikian. Artinya, pencarian dan sikap kritis saya dalam memandang kitab suci.

Tetapi saya tidak segera menghentikan pencarian ini. Perkenalan saya selanjutnya adalah dengan tokoh-tokoh filsafat Sigmund Freud, Feuerbach, Jean Paul Sartre, Nietszche yang semua tokoh ini mendorong saya untuk memikirkan ulang dengan kritis apa yang selama ini lama saya yakini dan imani.

Belum lagi teori-teori terjadinya alam semesta seperti teori big-bang, yang memberi justifikasi atau penguatan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, membuat saya tercengang, bahkan mulai meragukan keberadaan Tuhan.

Lampau, ketika saya belum bersentuhan dengan tokoh-tokoh dan teori di atas, memang untuk  mengkritisi kitab suci saja saya tidak akan mau. Karena hal yang demikian adalah dosa dan tidak etis. Di bawah bayang-bayang ketakutan akan kedua hal ini (baca; dosa dan sikap etis) yang seringkali membuat kita enggan untuk mempertanyakan dan bersikap kritis terhadap kitab suci.

Termasuk pula ilmu pengetahuan alam (Sains) yang kerapkali berseberangan dengan keyakinan agama terkait manusia dan penciptaan. Sehingga siapa pun yang beragama dengan cara saya dahulu, di mana biasanya tidak mempertanyakan dan mengamini semua hal dalam kitab suci, kebanyakan tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan itu. Sains salah satunya, mendapat penolakan karena biasanya bertentangan dengan yang ada dalam agama.

Data pun memperlihatkan hal ini. Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah akademisi di Leeds Becket University (LBU) yang diterbitkan di jurnal Intelligence menampilkan hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa semakin religius sebuah Negara, maka semakin rendah pula prestasi para peserta didik di bidang sains dan matematika.

Artinya, Negara dengan masyarakat yang non religius lebih tinggi nilainya dari kedua bidang di atas. Melalui penelitian itu diperlihatkan bahwa agaknya orang-orang yang beragama dan orang-orang yang menyukai sains sama sekali berlawanan.

Keduanya seperti saling berbalik muka. Seseorang yang menyukai pola pikir sains yang selalu mau mempertanyakan banyak hal, tidak cocok dengan pola pikir agama yang harus mengimani hal-hal yang telah diajarkan tanpa pertanyaan! Begitu pula sebaliknya. Sehingga data itu memperbandingkan secara terbalik bahwa yang menyukai agama pasti tidak suka sains dan yang menyukai sains tidak suka agama.

Apakah memang tidak ada titik temu di antara keduanya? Tidakkah saya dan anda bisa tetap kritis dengan juga sambil tetap berkeyakinan?

Hingga suatu ketika saya berkenalan dengan tulisan Ayu Utami yang mengusung cara baru dalam berpikir dan mengembangkan spiritual. Ia memberi nama, yaitu ”Spiritualisme Kritis”.

Agaknya kedua pendekatan di atas (Sains dan Agama) diperdamaikan melalui hal ini. Pola pikir kritis khas Sains dan penekanan pada hal-hal “berbau” spiritual khas agama dipersatukan dalam spiritualisme kritis. Singkatnya, melaluinya kita tetap bisa terbuka pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.

Jika selama ini yang ada adalah pertentangan, di mana jika kita memiliki keyakinan tertentu, hal itu mensyaratkan pelarangan untuk kritis, kini yang demikian mendapat tempat perdamaian dalam pendekatan yang diusung Ayu Utami ini. Saya kini bisa hidup bukan lagi dengan bayang-bayang ketakutan akan dosa dan tidak pula mengkhianati keyakinan akan agama. 

Malahan kini saya lebih bebas dalam beragama tanpa rasa takut. Saya kini sadar bahwa daya nalar dan sikap kritis bukanlah hal yang harus diredam ketika berkeyakinan dan beragama, tetapi harus pula digunakan. Tidak perlu menjadi ateis untuk kritis. Ketika beragama pun tetap dan harus mampu kritis dan hal demikian tidak ada salahnya.