Sabtu malam, seperti biasa berjalan sama seperti malam-malam lainnya. Tidak ada aktivitas yang istimewah, malam dihabiskan di rumah dan sekedar membunuh waktu game moba adalah pilihan menjaga malam. 

Namun, ada yang berbeda dengan sabtu malam di januari 2019. Sabtu malam itu, menjadi malam yang berbeda karena saat itu menjadi pembuktian bahwa laki-laki itu lemah.

Malam itu, saya dan beberapa teman bersepakat untuk nongkrong (kumpul dan membunuh waktu). Memilih tempat untuk nongkrong sambil melepas penat setelah seminggu menjadi buruh yang baik. Dan tempat yang menjadi pilihan yaitu WARJO (café, drink and food).

Tempat ini menjadi pilihan selain karena lokasinya nyaman dan berhadapan langsung laut, alasan lainnya yaitu cukup ramai pengunjung. Ramai pengunjung menjadi hipotesis kami untuk meyakini bahwa tempat itu akan banyak perempuan sebagai sarana mencuci mata (kata teman saya).

Maklum, kami semua masih bujang lagi Heteroseksual sehingga perempuan adalah objek mencapai kenikmatan visualisasi. Dan kami rela menghabiskan waktu berlama-lama di tempat ini. Menghabiskan secangkir kopi, juice dan beberapa porsi kentang goreng adalah harga yang harus kami bayar dari sekedar memperoleh kenikmatan ini.

Ramai oleh pengunjung, disisi lain juga menjadi market dan ladang promosi beberapa produk. Mungkin untuk konteks ini, bukanlah hal asing bagi sebagian orang. 

Kami yang saat itu tertawa kegirangan selain karena pembahasan kami, yaitu salah satu diantara kami mulai memprektekkan beberapa kemampuan merangakai kata untuk mempengaruhi emosi dan perasaan seorang perempuan (menggombal). Dari kemampuannya itu tergambar kalau dia berkepribadian ramah lagi friendly.

Namun, disela-sela kelincahannya dan tertawa girang kami tetiba terpotong. Oleh kehadiran sesosok perempuan berperangai manis dan cantik berserta makeupnya. Dia berpakaian cukup minimalis sekaligus ketat, baju berwarna kehitaman dan memiliki strip merah. 

Kulitnya tampak putih walau dalam kondisi minim cahaya, berambut panjang serta memiliki lekukan tubuh berkelok seperti lekukan gitar. Terdapat  tonjolan pada beberapa area yang sangat mencolok. Saya yakin area ini yang menjadi titik sempurna dari fantasi dan kenikmatan visual para lelaki.

Dia adalah seorang SGP (Sales Promotion Girl) salah satu merk ROKOK dan seketika itu sempurna lah objek fantasi dan tercapailah kenikmatan visualisasi kami malam itu. Dan apa yang berbeda dari malam-malam sebelumnya adalah salah satu dari kami seketika tidak berdaya. Dia, tidak hanya itu dia juga dibuat patuh jelas sekali tergambar seperti dia sedang terhipnotis.

Kebetulan diantara kami, hanya dia pencinta rokok. Maka, tanpa sepatah kata dan tak ada perlawanan sedikit pun dia menerima produk rokok yang ditawari. Tanpa ragu, dia menarik beberapa lembar dari dompet tebalnya. 

Kami tidak hanya dibuat diam karena SPG ini, tetapi karena tingkah teman yang tanpa ragu membeli 3 bungkus rokok sekaligus. Kami semakin dibuat terperangah, karena rokok yang dibelinya tanpa ragu itu bukanlah rokok kesukaannya.

 Kesenangan dan kenikmatan, dalam pandangan Lacan merupakan sesuatu yang lahir dari tindakan mematuhi hukum (larangan). Dimana melalui pelepasan, jiwa mencari tingkat ketegangan serendah mungkin dan pada titik tertentu menghadirkan kesenangan. 

Larangan atas kenikmatan secara simbolis pada tahap kompleks Oedipus (tabu inses). Sebenarnya merupakan upaya untuk mempertahankan ilusi neurotik bahwa kenikmatan akan dapat dicapai jika tidak dilarang[1]. 

Di sisi lain, Freud menekankan kesenangan pada salah satu dari "dua prinsip fungsi mental" yang merupakan prinsip realitas. Prinsip kesenangan mengarahkan semua aktivitas mental atau psikis untuk memaksimalkan kesenangan dan menghindari sesuatu tidak menyenangkan[2]. 

Dengan demikian, menjadi benar ketika setiap tindakan manusia didasari oleh prinsip kesenangan dan kenikmatan.

Namun, pada tahap ralitasnya. Prinsip kesenangan ini kembali terhambat atau mengalami penundaan dalam realisasinya. Dikarenakan terdapat sebuah sturuktur mekanisme mental, yaitu Id, Ego dan Super Ego. Dengan mekanisme kerja sebagai prinsip control atas dorongan kesenangan dan kenikmatan.

Secara umum sistem kerja dari ketiganya yaitu, berawal dari Id. Id merupakan sistem kepribadian yang menjadi sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya insting. Id tidak memiliki bentuk atas instingnya dan hanya selalu memaksakan kehendaknya dan menuntut untuk dipenuhi. 

Selanjutnya Ego, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Hal ini, sebagai proses referensi untuk tidakan berikutnya.

Yaitu sebagai pengatur dan pengendali kepribadian, mengontrol jalannya id, superego terhadap dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. 

Dan yang terakhir superego, yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk dan boleh-tidak. Dan disini lahir sesuatu yang ideal beserta kesesuaiannya dengan norma-norma moral masyarakat.

Dari sini, jika ditelisik sederet peristiwa dan pertimbangan ketika kami memilih tempat untuk nongkrong adalah perwujudan dari prinsip kesenangan serta serangakaian proses kerja mekanisme kepribadian. 

Sama halnya ketika kami cukup terpukau dengan pesona SPG dan termanifest menjadi keterpukauan dan kepatuhan adalah bentuk nyata dari ilusi neurotik.

Kepustakaan:

[1] Jouissance. nosubject.com.

[2] Pleasure principle. nosubject.com.