Lima tahun yang lalu, tepat setelah pameran seni dirayakan sesingkat kalimat berpisah, aku mencintaimu dengan hasrat yang begitu normal di dalam tubuh, kasihku meledak ambruk di dada.

Kau masih duduk di bangku SMA kelas XII, sementara hubungan kita makin meremaja. 3 tahun bermesraan lewat media sosial, pun dunia nyata. Kerap kita bercumbu tanpa henti di kamar kos kecil yang dikontrakkan ibumu.

Aku pengangguran, olehnya, untuk mencicipi tubuhmu harus sembunyi-sembunyi. Orang tuamu feodal, kemiskinan yang kualami adalah kutukan baginya, mereka jijik menatap wajahku. Diam-diam aku harus menikmati tubuhmu, selain karena cinta, juga karena dendam.

Tapi kau tak pernah protes, bahkan senyum simpul selalu kau sodorkan setiap kali selesai kita bersetubuh. Kau tak marah, kau tak menyesal. 

Mungkin karena kenikmatan telah dibagi dua, dan kau merasa mendapatkan perlakuan adil dariku, bukan dari pemerintah.

Selapasnya, kau merapikan baju, mencuci badan kemudian ke sekolah lagi. Terus berulang-ulang. Aku lelaki yang tak punya kerjaan tapi doyan bercinta, tampak tak pernah membuatmu bosan. Justru aku yang sesekali merasa jenuh.

Walau demikian, aku tak bisa lama-lama di kota. Sebagai pemuda kampung, tinggal di kota tanpa kerjaan adalah kesalahan. Mengingat ayah dan ibuku giat berkebun, bertani, dan beribadah. Tapi kelihatannya mereka tak lagi pernah bercinta. Waktu telah merenggut selera seksualnya.

Ayah dan ibuku ingin agar semua anaknya sekolah, harapannya satu; agar penderitaannya di masa lalu tak dialami anak hingga cucunya. Tapi aku tetap tak berminat kuliah, semenjak tamat SMA, hidupku berakhir dalam dunia pendidikan. Pikirku demikian.

Kebun, sawah, adalah kerjaan berat. Aku tak bisa kerja keras. Inginku merdeka, hidup santai dan terus bercinta pada perempuan mana saja, terutama kau yang masih SMA.

Alasanku ke kota hanya satu, ketemu teman. Biar kita bisa berpelukan lagi. Tapi sebelum itu, aku terlebih dahulu ke rumah orang tuamu menanyakan perihal kiriman.

Kadang aku bawakan kiriman beras, apalagi orang tuamu tahu kalau kita hanya berteman. Hanya sebatas itu. Tentang hubungan khusus, mereka tak mungkin sepakat bila tahu. Tipikal mapan dan tampan, inginnya. Aku bukan keduanya.

Membawakan kirimannya merupakan kesempatan terbaik buatku, untuk tinggal beberapa saat, bernostalgia dan bermesraan lagi.

Namun, kebiasaan tersebut tidak bertahan lama. Saat kita mulai dicurigai, orang-orang di kampung menjadikan hubungan ini buah bibirnya. Bahan gosip nyaris setiap hari.

Orang tuaku masih memegang erat budaya lokal, soal harga diri; lebih baik mati. Pun, keluargamu juga. Mau atau tidak, kita telanjur jadi bahan pembicaraan. Akhirnya kita dinikahkan, walau kau belum sempat menyelesaikan sekolahnya di SMA.

Kita menikah baik-baik. Bukan karena kau hamil, hanya karena isu yang beredar membuat kita mutlak, menikah. Satu tahun berjalan, kita dikaruniai anak lelaki.

Anak itu terus tumbuh, dan kita masih menumpang. Kadang di rumah orang tuaku, sesekali di rumah mertua. Belum terpikir untuk mandiri, dengan rumah sendiri. Lagian aku memang tak punya kerjaan.

Kita rukun layaknya rumah tangga pada umumnya. Meskipun masih diintervensi oleh mertua. Aku tak mau ambil pusing. Hingga akhirnya kau diminta meninggalkanku, dengan alasan ekonomi. 

Aku dianggap tak mampu menghidupimu, padahal kau belum pernah mengaku kelaparan dan kehabisan beras, anak kita juga tak pernah menangis akibat kehabisan susu. Tetapi mertuaku tetap ngotot. Dan kau hanya bisa pasrah.

Memilih meninggalkanku. Kau izin padaku, dan aku tetap menolak. Namun, kau tetap pergi, menitip anak pada ibuku. "Berbahagialah mereka yang tak pernah menikah," pikirku.

Sejak kau masih SMA, hingga resmi sebagai istriku, aku merasakan ketenangan, melewati beragam persoalan dengan bijak. Tetapi semenjak kau pergi, selain sepi, aku merasa separuh bagian tubuhku ikut bersamamu. 

Kupilih alkohol sebagai obat kerinduan. Aku mabuk setiap saat, sebagai cara untuk menghapus kenangan yang tak juga lekas pudar.

Kurang lebih satu bulan aku menanggung derita batin ini. Hingga angin membawa kabar, bahwa kau akan segera pulang dari perantauan. Mungkin kau juga rindu, harapku.

Nahas, betul. Kau pulang, dengan selembar kertas terbungkus amplop dititipkan pada tante. Isinya sangat mengerikan, adalah gugatan cerai tiba-tiba. Batinku membuncah, layaknya gelombang menghantam rata gedung-gedung kota yang dihuni koruptor. Aku muak dengan cintaku selama ini.

Ingin aku bunuh diri, tapi neraka lebih mengerikan dari penderitaan dunia. Membuat niatku urung.

Beberapa kali aku menghadiri panggilan sidang di pengadilan agama. Kalimat-kalimatmu sangat jelas masih menyayangiku, hanya saja nada yang kau keluarkan mendeskripsikan pesan-pesan ayah dan ibumu; bahwa benar, aku miskin dan tak layak jadi menantunya.

Aku tak pernah memberikan kasih sayang lebih pada anak kita yang tinggal di rumah orang tua, aku telah durhaka padanya. Dan memang aku nyaris lupa telah punya anak.

Aku lajang, kau janda. Hubungan resmi berakhir, walau ikatan cinta tetap mengabadi melalui anak dari keringat cinta kita.

Mungkin inilah dampak dari percintaanku sebelum menikah, dengan menggunakan kondom. Atau mengeluarkan spermaku di perutmu sebelum kau mencapai puncak klimaks.

Ambisiku demikian hebat, berharap hubungan seksual kita bisa membujuk orang tuamu. Ternyata tidak.

Sperma laki-laki dengan sel telur perempuan tak pernah menjadi alasan kuat untuk bahagia dan dapat restu orang tua. Beruntung aku selalu mengeluarkan spermaku di perutmu. Sebab bila tidak, maka anak-anak yang akan terlahir menjadi tanggung-jawab orang tuaku. Bukan kau, bukan aku.

Satu hal yang pasti, hubungan kita tak pernah benar-benar kuat. Kemerdekaan cinta yang dibangun dibunuh ekonomi dan doktrin kekayaan dari pemikiran kolot titipan nenek-moyang.

Semoga kau bahagia. Doakan aku menjadi lebih kuat bercinta dengan perempuan lain, setelah kau!