Di era digital ini, telah merebak berbagai macam teknologi yang mempengaruhi minat baca masyarakat, seperti televisi, gadgdet, dan berbagai macam media yang serupa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terus berkembang sejalan dengan menurunnya minat baca masyarakat. 

Sebagian besar masyarakat menggunakan internet untuk mengakses sosial media atau lebih dikenal deng istilah sosmed seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, Tik Tok, dan lain sebagainya. Sosial media merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia terutama para generasi millennial.

Ketertarikan mereka terhadap sosial media dikarenakan fitur-fiturnya yang semakin canggih yang membuat penggunanya lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Salah satu contohnya tidak lain lagi yaitu WhtasApp.

WhatsApp biasanya digunakan untuk bertukar pesan, mengirim foto dan video, melakukan panggilan suara dan video call sehingga pengguna dapat saling bertatap muka tanpa mengharuskannya untuk bertemu. Pengguna juga dapat memposting aktivitasnya melalui fitur yang sudah disediakan.

Akhir-akhir ini, seringkali kita melihat sebagian besar dari kita lebih sering menghabiskan waktu dengan smartphone terutama para remaja yang berstatus sebagai pelajar. Tak jarang mereka lebih sering menggunakan smartphonenya untuk bermain sosial media dibandingkan untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah. 

Belum lagi dengan adanya pandemi covid-19 yang mengharuskan siswa belajar secara daring yang tentunya menyebabkan intensitas penggunaan smartphone semakin tinggi. Lalu, apakah hal tersebut membuat mereka semakin rajin belajar dan berhenti bermain sosial media?

Sungguh ekspektasi memang tak semanis realita. Nyatanya, sebagian besar dari mereka akan menggunakan alasan ‘belajar’ ketika ditanya oleh orang tuanya. Padahal sebaliknya, mereka sedang asyik berbalas pesan, melihat status teman, menscroll Intagram, bahkan mungkin stalking Facebook mantan.

Tak heran para kaum millennial sekarang sangat jarang berteman dengan buku. Jangan kan berteman, mungkin melihatnya saja merasa enggan. Mengapa bisa begitu? Jawabannya sederhana, karena buku dan membaca merupakan dua hal yang membosankan.

Alasan yang paling sering dikemukakan mengapa seseorang lebih tertarik dengan sosial media dibandingkan pustaka karena konten-konten yang ada di sosial media lebih menarik dan bervariasi. 

Jika di dalam buku kita hanya akan menemukan deretan kata-kata tanpa adanya gambar dan biasanya buku bersifat lebih monoton karena yang tertuang di dalamnya hanya sesuai dengan judul buku tersebut sehingga pembaca akan mudah merasa bosan. 

Lain halnya dengan sosial media yang menyediakan berbagai macam konten yag menarik sehingga penggunanya lebih leluasa mencari hal-hal yang sesuai dengan minat mereka. 

Dengan sosial media seseorang akan lebih mudah membangun dan menjalin relasi sosial bahkan dengan orang yang tidak pernah mereka temui secara nyata, bertukar pikiran melalui postingan dan komentar, tempat untuk berbisnis bahkan digunakan untuk self prsesentation dengan membuat konten kreatif berupa video maupun foto. 

Dengan adanya jumlah ‘like’ dan ‘follower’ yang semakin banyak akan memberikan kesenangan dan kepuasan tersendiri bagi penggunanya sehingga mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain sosial media dibandingkan membaca buku dan berbagai literatur lainnya.

Intensitas penggunaan sosial media yang semakin tinggi secara tidak langsung akan menyebabkan adanya ketergantungan terhadap sosial media. 

Semakin lekat seseorang dengan sosial media, maka semakin mudah ia akan mengalami adiksi. Timbulnya adiksi terhadap sosial media disebabkan karena adanya pemenuhan kebutuhan berupa kompetensi, relasi sosial, perasaan senang, keamanan, dan self esteem atau perasaan dihargai. 

Sosial media memungkinkan individu untuk mendapatkan berbagai macam informasi mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas akademik dan non akademik seperti pelajaran, berita-berita terkini tentang kebijakan pemerintah hingga gosip mengenai para selebritas. 

Dengan adanya informasi tersebut individu dapat belajar sehingga kebutuhan akan kompetensi terpenuhi. 

Sosial media juga menyediakan berbagai macam fasilitas untuk berkomunikasi sehingga individu akan mudah membangun relasi sosial. Selain itu, di sosial media juga kita dapat menemukan berbagai macam jenis game online sehingga membuat penggunanya merasa senang. 

Ketika mengakses sosial media, kita tidak perlu merasa takut karena akun pengguna dilindungi oleh kata sandi yang hanya diketahui oleh diri kita sendiri. Hal ini dapat meningkatkan keamanan individu. 

Adanya ‘like’ yang didapatkan oleh individu secara tidak langsung akan membuat dirinya merasa dihargai. Maka tak salah lagi jika sosial media lebih digemari oleh semua orang karena selain merasa senang mereka juga merasa nyaman dan menikmati hal tersebut. Jadi, jangan heran jika banyak orang yang sudah mulai ketergantungan.

Istilah ‘sosial media lebih menggoda daripada pustaka’ bukan hanya kalimat belaka karena pada realitanya semua kita tak pernah terlepas dari dunia maya. Dikit-dikit kerjaannya liatin layar datar tanpa nyawa apalagi kalau bukan smartphone kita. 

Bahkan, hanya mendengar suara ‘Ting’ mampu membuat kita berlari menghampirinya. Lucu bukan? tapi itulah realitanya. Sudah semestinya kita lebih bijaksana dalam menggunakan sosial media dan membatasi diri terhadap kegiatan yang tidak berguna. 

Sesekali tak ada salahnya jika kita mencoba berteman dengan tumpukan pustaka. Toh, kita sendiri yang mendapatkan manfaatnya. Mungkin bergelut dengan buku memang terdengar membosankan, tapi percayalah itu semua karena kita belum terbiasa. Buku punya cara tersendiri membuat kita merasa bahagia.