Ternyata wajah negara kita Indonesia, tak terlepas dari yang nama nya intoleran sesama warganya. Beribu pertanyaan dibenak penulis mengobar dan membara seolah-olah tersulut emosi juga. Ketika banyak suara intoleran berbondong-bondong bermunculan...

Seolah-olah mereka para oknum intoleran lupa akan semboyan nya sendiri. Semboyan warga negara Indonesia yang tertulis di lambang burung garuda. Yang semboyan itu sudah bersorak terlebih dahulu sejak negara ini berdiri. 

Semboyan yang menjadi pemersatu bangsa dan tanah air. Bisa dikatakan, sebagai satu patokan warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Yang tak mengenal suku, ras, budaya, dan agama. 

Keberagaman warga Indonesia sebagai corak tersendiri. Sebaga ciri khas dari negara Indonesia. Sebagai kacamata dari pihak asing, oh ternyata dari sebuah negara yang sangat besar itu. Mengumpulkan warga nya menjadi satu. Satu kekompakan untuk modal membangun sebuah negeri adalah kunci dari semuanya. 

Pihak asing yang berkunjung dan berwisata ke negeri ini. Melihat bahwa Negeri ini adalah negeri yang besar, yang penuh dengan sejarah. Negeri yang identik tentang keberagaman. Negeri yang bersahabat. Negeri yang menjunjung tinggi semboyan nya. 

Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Telah berdedikasi penting dan sangat kental dengan sejarah dan maknanya. Semboyan yang mempererat antar warganya. Semboyan yang menjadikan Negara yang besar ini menjadi negara yang terkenal seantero jagat. 

Satu pulau yang sering dikunjungi oleh para wisatawan adalah pulau Bali. Yang memiliki beraneka ragam macam budaya, ras, dan agama. Penulis juga ingin memperkenalkan wajah Indonesia di mata dunia. Bahwa ini lo, negeri kami. Negeri kami, negeri yang punya seribu keistimewaan. Negeri yang menurut penulis adalah salah satu syurga dunia yang menampilkan sejuta keindahan alamnya dan sejuta keberagaman suku dan budaya nya. 

Dari hal panorama alamnya, Indonesia menampilkan yang terbaik dari yang lebih baik. Dari budaya, kami mempunyai bedaya dari nenek moyang yang beraneka ragam rupanya yang masih sampai sekarang kita lestarikan dan kita tampilkan di mata dunia. 

Bahkan dari agama sekaligus. Kita sangat menjunjung tinggi yang nama nya "toleransi antar ummat". Kita sangat menjunjung ini. Karena dengan kita saling bertoleran antar ummat beragama. Maka negara ini akan jadi negara besar yang kuat. 

Bagi kami, perbedaan agama adalah Rahmat dan kasih sayang. Karena dengan perbedaan itu, kita dapat mengajak orang lain untuk saling mengasihi antar sesama ummat beragama. Kita mengasihi tal mengenal corak apapun. Kita sisihkam terlebih dahulu seperti: kaos, bendera, dan label agama yang kita bawa. 

Yang kita bawa dan kita tinggikan adalah semboyan kita " Bhineka Tunggal Ika "(berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Dan misi kemanusiaan harus juga usung tinggi. Kita akan mengorbankan jiwa dan raga kami untuk menjunjung misi ini. Karena misi ini sudah tertanam di dalam diri kita. Manusia tidak boleh dijadiin pelampiasan untuk berjihad atau apalah. Manusia jangan dijadikan poros untuk para radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme. 

Jangan sampai darah keluar dari mereka, yang tak tau urusan permasalahan apa-apa. Jangan sampai anak-anak yang jadi kekejaman para pembela jihad. Jangan sampai orang tua dan ibu hamil yang sedang menunggu masa tua nya dan menunggu kelahiran sosok suci mati terbunuh sia-sia. Akibat kekejaman para pejuang jihad 

Jangan kita sorakkan di negeri yang besar ini. Di negeri yang sudah damai ini. Dengan isu-isu yang mengancam ummat. Ribuan ummat menginginkan kedamaian dari negeri ini. Jangan karena satu label, kaos maupun bendera berbeda. Kita menghancurkan negeri yang besar ini. Jangan sampai karena pesan dari label agama untuk berjihad. Kita langsung menghardik dan mengebom agama yang lain

Jangan sampai negara ini jadi negara yang ricuh dan negara yang besar yang dihancurkan oleh dalam diri warga negara nya sendiri. Negeri ini dibangun dengan susah payah. Darah dan nyawa mengalir dan melayang. Untuk apa? Untuk memerdekakan negeri ini. Untuk memperjuangkan negeri ini. 

Dan yang harus kita lakukan adalah meneruskan visi dan misi para pahlawan yang belum terwujud. Bukan malah kita menghancurkan. 

Jangan sampai politik di campur adukkan  dengan agama. Itu tidak boleh. Karena akan menghancurkan. Bukan kemashlahatan yang tercapai. Tapi malah tangisan yang menetes dari ribuan warganya. 

Jangan sampai di tahun ini. Tahun yang dikatakan para politikus. Tahun politik dan pesta demokrasi untuk warga negara Indonesia. Menjadikan tahun sebagai ajang adudomba antar satu dan yang lainnya. Jangan jadikan tahun ini, tahun sebagai ajang senjata untuk menyerang lawan politiknya. Dan juga jangan jadikan tahun ini, jadi ajang lintas agama yang ditunggangi oleh para politikus merajalela untuk menghancurkan negeri. 

Jadikan tahun ini, tahun yang damai. Tahun yang dijadikan rakyat sebagai pesta demokrasi dan kacamata toleransi dari negeri yang besar ini di mata dunia. Kita teriakkan serentak bersama-sama. Bahwa ini lah kita warga negara Indonesia negeri yang besar negeri yang menjunjung tinggi Bhineka tunggal Ika. 

Salam damai dari penulis