Seyyed Hossein Nasr bukan nama yang asing bagi pecandu filsafat Islam. Ia seorang ilmuwan dan filsuf yang kini masih hidup dan menghabiskan kariernya sebagai profesor di Amerika. Bidang keahliannya adalah fisika dan sejarah sains dengan fokus sains Islam yang diperolehnya dari MIT dan Harvard.

Selayang pandang perjalanan hidup dan pemikirannya bisa disingkap dalam buku In Search of The Sacred (2010), hasil percakapannya dengan Ramin Jahanbegloo, intelektual Iran alumnus Harvard yang tinggal di Kanada.

Di biografi ini, terlihat ia mengembangkan pemikiran Islam yang kaya sebagai lautan ilmu pengetahuan yang utuh dilihat dalam kacamata sains dan filsafat. Islam adalah agama yang sakral dan universal. Islam punya titik temu dengan agama dan kearifan yang ada. Ia menyebut pemikirannya sebagai Islam Tradisional.

Ketika membaca tulisannya, akan menjadi terang posisi akar, batang, daun dan ranting dari Islam sebagai sumur ilmu pengetahuan. Islam dianalisis dalam relasi yang kuat dan positif dengan ajaran agama dan kearifan yang telah ada dalam rentang sejarah yang panjang misalnya dengan Kristen dan Yahudi, bahkan dengan ajaran Hindu, Buddha, dan Confucianisme.

Islam dianalisis sebagai khazanah filsafat yang merentang indah sejak abad pertengahan dari Peripatetik Alkindi, Alfarabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, Iluminasi Zuhrawardi, Irfan Ibnu Arabi hingga Hikmah Mutaalliyah Mullah Shadra. Ia membawa kita kepada kerendahhatian dan keseimbangan untuk hidup bersama di bumi Tuhan.

Dalam The Essential Seyyed Hossein Nasr (2007), Nasr mengupas kenyataan hidup manusia di atas dunia yang multikeyakinan. Ia menegaskan tak penting lagi bertanya tentang agama dan kearifan yang paling benar dan baik, sebab agama dan kearifan itu berasal dari sumber yang Satu dan Suci serta telah mengakar panjang dalam sejarah manusia hingga detik ini.

Membaca Nasr seolah mendapatkan pesan rahasia bahwa mendalami Islam tak bisa terpisah dari ajaran-ajaran dan kearifan lainnya. Islam berada dalam lingkaran tradisi bersama ajaran dan kerarifan yang ada di bumi ini. Untuk memahami Islam misalnya secara utuh dan otentik harus melihat ke dalam sejarah panjang dan kedalaman isi ajaran Kristen, Yahudi dan sebagainya.

Kata Nasr, watak Islam yang moderat menjadi terang dengan melihat watak ajaran Yahudi yang legal-oriented dan ajaran Kristen yang spiritual-oriented.

Di tengah menyeruaknya masalah agama di Indonesia yang menggiring kepada hitam dan putih keyakinan, pemikiran Hossein Nasr tentang Islam sebagai tradisi menjadi relevan. Nasr menghamparkan tradisi pengetahuan Islam secara utuh. Pemikiran dan pengungkapan Islam dari sisi ilmu pengetahuan dan filsafat masih sulit dan jarang ditemui di Indonesia yang terkesan menggampangkan cara memahami Islam.

Bagi Nasr, ajaran-ajaran agama semitik-Ibrahimik, Hindu, Buddha, Filsafat Yunani Kuno, dan Kearifan Timur seperti Confucianisme memiliki akar tradisi yang sama, yaitu tradisi yang suci. Tradisi ini dipelihara dan diagungkan sebagai kesadaran terhadap pencipta.

Dalam Traditional Islam in The Modern World (1987), Nasr telah merentangkan posisi pemikirannya sebagai salah satu alternatif memahami Islam sebagai tradisi yang memiliki bangunan filsafat dan sains di antara 3 kekuatan wacana yang muncul dari dalam Islam sendiri yaitu pertama, modernisme yang berpretensi mengembangkan humanisme dan rasionalitas Barat misalnya diusung oleh Fazlur Rahman, Arkoun dan bahkan Ali Shariati.

Kedua, Messianisme yang muncul sejak abad ke-19 bertepatan dengan invasi Barat ke dunia Islam dan bisa ditemui di Afrika Utara, Sudan, Persia, dan India misalnya ajaran Ahmadiyah. Ketiga, Fundamentalisme yaitu gerakan yang menginginkan mengislamkan dunia misalnya Jamaah Islamiyah dan Ikhwanulmuslimin.

Hossein Nasr tak ingin terjebak pada cara pandang keberagamaan yang permukaan dari teks agama yang kaku dan semangat modernisme yang membunuh kesadaran spiritual. Ia ingin siapa pun melihat perbedaan agama bukan masalah.

Ia ingin umat beragama memandang agama lebih luas sebagai cara pandang yang lebih utuh dan fair untuk semua. Agama adalah tradisi yang sakral dan suci sejak dulu, kini dan di masa depan. Tradisi agama, termasuk Islam, adalah jalan-jalan menuju Tuhan.