Kita semua tahu bahwa pendidikan publik di zaman modern tidaklah cukup. Sistem ini rusak, dan itu tidak mendorong para siswa sama sekali untuk dapat sukses di dunia bisnis modern.

Pendidikan publik hari ini hanya membuat sedikit perbedaan jika dibanding dengan pendidikan di era sebelumnya, memperlambat pelajar cepat dan mempercepat siswa yang lebih lambat.

Jika dapat dianalogikan, ini adalah jalur perakitan dalam proses produksi suatu produk. Jalur perakitan tidak beradaptasi dengan produk; produklah beradaptasi dengan jalur perakitan.

Tidak hanya itu, bahkan tidak mengajarkan para peserta didik secara umum apa yang harus mereka pelajari. Tanggung jawab finansial, pengembangan pribadi, dan keterampilan komunikasi, mungkin beberapa hal terpenting yang dapat dipelajari hari ini, untuk investasi skill masa depan, semuanya diabaikan.

Rata-rata anak di Amerika menghabiskan 15.210 jam di sekolah per tahunnya, tidak termasuk pekerjaan rumah. 

Jika melihat asas proporsionalitas yang seharusnya, teori 10.000 jam menyatakan bahwa dibutuhkan 10.000 jam praktik untuk menjadi ahli pada keterampilan yang dikembangkan. Artinya, terjadi ketimpangan disini dan harus ada penambahan waktu untuk bisa mencapai 10.000 jam praktik. Sederhananya, mereka menghabiskan waktu di sekolah sekitar 6.5 jam per hari. 

Jika di Amerika demikian, di Indonesia, kita mengenal full day school yang mendapat legitimasi setelah kurikulum 2013 dijadikan acuan pendidikan dasar dan menengah, yang berakibat bahwa siswa sekolah harus belajar selama 8 jam per hari.

Saya perlu mengatakan bahwa siswa-siswi di Indonesia itu sebenarnya pintar dalam menyesuaikan diri dan menghindari segala bentuk pembelajaran yang diinginkan maupun tidak diinginkannya. Namun, sekolah telah menarik garis batas yang jelas antara bekerja dan bermain, belajar dan bersenang-senang, sehingga wacana yang beredar sekarang, sekolah bukanlah tempat untuk belajar sambil bermain.

Namun, perubahan paradigma yang saat ini tengah berada di tengah masyarakat tidak akan begitu mudah untuk berubah, karena untuk mengembalikan pendidikan kepada konstitusi dan semangat dari Ki Hajar Dewantara itu bukan perbaikan yang mudah. Pendidikan akan terus dipaksa untuk mengikuti arus yang terus-menerus dipermainkan oleh kondisi usaha, sehingga cetakan pendidik dalam mendidik menggunakan cetakan industri/korporasi.

Namun, jika seorang siswa benar-benar menginginkan pendidikan yang dipersonalisasi untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mendapatkannya. Dia tidak akan duduk dan hanya mengeluh tentang bagaimana sistem pendidikan rusak di media sosial, terlepas dari apakah itu benar atau tidak. 

Dia akan mendidik dirinya sendiri di waktu luangnya, dan mengambil keuntungan penuh dari sumber daya sekolahnya, bahkan ia dapat menggunakan seluruh kepentingan pribadinya dengan menggunakan alat untuk meningkatkan nilai-nilai ujiannya. 

Dengan pengetahuan praktikal tersebut, walaupun motifnya sangat individualistik, tetapi dia mendapatkan yang namanya pendidikan sebagai lahan bermain dan belajar, sebagai hobi dan tentunya sebagai bentuk penilaian melalui ujian-ujian yang diselenggarakan di sekolah-sekolah.

Kita sering belajar dari sejarah kolonial tentang politisi atau negarawan terkenal yang belajar di perguruan tinggi atau bepergian ke luar negeri pada usia yang sangat muda. Mereka tidak semuanya jenius sejak lahir. Mereka hanya menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk mendidik diri sendiri.

Siapa yang tahu pencapaian apa yang dapat mereka raih jika mereka memiliki Internet pada waktu itu?

Sumber daya yang kita miliki untuk pendidikan yang dipersonalisasi tidak terbatas, tetapi kita tidak memanfaatkannya. Memang, tidak ada siswa yang memiliki waktu luang sebanyak itu dalam sistem kita saat ini, sehingga sekolah membatasi kami hingga titik tertentu, walaupun sering kali para pendidik memberikan tugas-tugas tambahan di luar pekerjaan kuliah.

Lalu apa yang harus dilakukan siswa sekolah untuk mendidik dirinya sendiri dengan lebih baik? Dengan semua tugas dan proyek pekerjaan rumah, bagaimana cara menemukan waktu?

Itu tidak mudah. Saya ingin berbagi dengan pembaca tentang beberapa hal yang pernah saya lakukan, dan mungkin kamu akan merasa terinspirasi untuk datang dengan beberapa metode kamu sendiri.

Metode pertama saya yang harus diadopsi oleh semua siswa adalah membaca. Jika tidak ada yang lain, membaca adalah bentuk pendidikan terbaik. Saya memiliki waktu yang cukup untuk membaca buku dengan memasukkannya dalam rutinitas pagi dan sore saya. 

Saya membaca ketika saya bangun dan sebelum tidur. Biasanya hanya selama sepuluh menit, tetapi konsistensi yang penting. Setiap orang dapat meluangkan waktu singkat untuk buku.

Saya juga menantang diri saya sendiri secara akademis di sekolah negeri terbaik di salah satu kota terbesar di Indonesia. Rasio murid-guru di sekolah ini cukup baik, jadi hal ini memberikan kemudahan bagi saya daripada kawan-kawan saya yang tidak seberuntung saya mendapatkan sekolah yang sebaik sekolah saya.

Saya tidak hanya mengambil kursus ‘opsional’ yang ditawarkan kepada seluruh siswa, tetapi saya juga tidak memberlakukan batas minimum untuk kelulusan kursus saya. Jika saya diberi tugas, saya akan melakukan tugas itu sebaik mungkin dan secepat mungkin.

Bahkan, menurut saya, jika kita tidak menyukai sistem, itu adalah salah satu faktor karakter yang baik untuk masuk ke dalam pola pikir unggul dalam apa pun yang kita lakukan.

Jika kita masuk ke pola pikir "hanya lewat" di sekolah, kita akan terus "melewati" kehidupan.

Di era modern ini, orang-orang sering kali meremehkan kekuatan Internet. Memang, dampak negatifnya terlampau nyata apabila berjam-jam terbuang hanya untuk menatap layar yang tidak menampilkan informasi. Namun, situs web seperti YouTube, bagi saya, adalah sumber belajar yang sangat kuat, dan saya memanfaatkan itu sepenuhnya. 

Kita dapat menggunakan Internet untuk belajar tentang apa pun jika kita mengabdikan diri untuk belajar.

Tentunya, kita bisa meluangkan waktu!

Jika kamu bisa meluangkan waktumu dua jam dalam sehari untuk bermain game PES atau GTA 5, maka kamu juga dapat meluangkan setidaknya setengah jam untuk belajar.

Konsekuensinya, kamu mungkin harus mengurangi waktu bermain game, dan mungkin harus mulai bangun lebih awal. Mungkin juga kamu perlu berhenti untuk menatap layar smartphone hanya untuk stalking foto mantan atau sekadar melihat-lihat Instagram gebetan.

Jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, kita akan mendapatkannya. Tidak ada alasan. Jika sistem cacat, seperti apa sistem yang sempurna itu? 

Saya tidak tahu, tetapi saya tahu beberapa langkah yang menurut saya harus diambil sekolah negeri untuk mencapai pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan. Saya tidak tahu berapa lama ini akan terjadi, tetapi saya yakin itu akan terjadi. Secepatnya.