Ole Gunnar Solskjaer menghadapi ujian sesungguhnya di pentas Liga Primer saat Manchester United menghadapi Tottenham Hotspur. Tottenham Hotspur akan menjadi batu sandungan yang bisa mencatatkan rapor merah dalam debut kepelatihan Solskjaer. Tapi pelatih bertampang baby face ini mampu melewatinya dengan sempurna.

Dalam lanjutan Liga Inggris pekan ke 22 yang digelar di Stadion Wembley, Minggu malam, 13 Januari 2018, MU membawa pulang kemenangan dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang The Red Devils dicetak Marcus Rashford di menit ke-44. 

Menerima umpan lambung dari Paul Pogba, Rashford menggiring bola ke kotak penalti lalu melesakkannya ke pojok kanan bawah gawang. Lini belakang Hotspurs yang terlambat menutup pergerakan Rashford membuat striker muda andalan timnas Inggris ini punya ruang tembak yang leluasa untuk memperdayai Hugo Lloris.

Hasil ini semakin menambah rekor tak terkalahkan MU di bawah naungan Solskjaer. Tim tamu sukses mempertahankan keunggulan hingga laga usai tidak lain berkat aksi brilian yang diperlihatkan David De Gea. De Gea beberapa kali melakukan penyelamatan gemilang. 

Tercatat di menit ke 48, 50, 58, 65,  71, 74, 85 pasukan Spurs punya kans membobol gawang MU, tapi semuanya berhasil dipatahkan oleh De Gea. Harry Kane, Dele Alli, Eriksen, Son  betul-betul dibuat frustrasi oleh kecermelangan De Gea yang sangat sigap dan refleks menangkap dan menepis bola.

Bulan Madu Solskjaer-Pogba

Pasca-kepergian Mourinho, Setan Merah belum pernah menderita kekalahan. Melakoni lima laga di Liga Inggris dan satu pertandingan di putaran ketiga Piala FA, Solskjaer berhasil melanjutkan kemesraan bersama MU dengan membukukan enam kemenangan beruntun.

Sepak terjang Solskjaer di mantan klubnya terbilang baru seumur jagung. Tapi pria kelahiran 26 Februari 1973 ini membawa perubahan signifikan terhadap tim. Perubahan ini dimulai dengan mengembalikan kepercayaan kepada Pogba sebagai gelandang metronom. 

Pogba yang mengalami periode buruk di era Mourinho lantaran jarang diturunkan tidak disiak-siakan potensinya. Solskjaer masih yakin dengan kemampuan pemain Prancis ini. Pogba tetap dianggap sosok yang punya segudang pengalaman mengangkat prestasi tim baik di timnas Perancis maupun di Juventus. Bukankah keputusan petinggi klub memulangkan kembali Pogba dari Juventus ke Old Trafford gara-gara mereka kepincut penampilan Pogba yang begitu memukau di pentas Liga Italia?

Solskjaer punya misi menghapus label jelek MU yang terlanjut identik dengan sepak bola negatif. Gaya kepelatihan era Mourinho yang mengidolakan taktik parkir bus tidak mau dilanjutkan lagi. 

Di mata manager interim The Red Devils ini, kesebelasan sekelas MU harus menatap setiap pertandingan dengan penuh optimisme. Optimisme bisa dibangun jika tim tidak melulu fokus memikirkan taktik defensif. Jika yang ada di benak setiap pemain hanya kekhawatiran takut kebobolan, kapan mereka bisa berpikir merancang serangan?

MU dituntut bermental militan membidik kemenangan dengan cara mengadopsi filosofi bermain menyerang. Untuk meramu tim supaya bisa mengembangkan intensitas serangan, dibutuhkan sosok gelandang yang piawai. Sosok itu ada pada diri Pogba dan bukan pada diri Marouane Fellaini.

Itulah mengapa sejak pergantian kepemimpinan dari Mourinho ke Solskjaer, Fellaini tidak lagi mendapat tempat utama di skuad MU. Fellaini hanya dimainkan pada pekan ke 18 melawan Cardiff City, itu pun masuk menggantikan Nemanja Matic tiga menit menjelang laga bubar. Pada pekan-pekan berikutnya, Solskjaer tidak lagi melirik pemain berambut kribo ini.

Sementara Pogba menjadi anak emas yang tidak tergantikan. Mantan punggawa Juventus ini pasti masuk dalam starting XI dan bermain sejak kick off hingga pertandingan berakhir. Hanya sekali Solskjaer tidak mengikutsertakan Pogba, yaitu ketika timnya bersua Reading di partai putaran ketiga Piala FA.

Dipilihnya Pogba masuk dalam jajaran inti skuad MU memberikan dampak luar biasa. Pasukan Setan Merah kembali menemukan ritme permainan agresifnya. Mereka tidak saja menebar ancaman tapi juga menghadirkan gol. Lebih dari itu, mereka bahkan mulai menatap peluang untuk finish di peringkat empat besar. 

Jika sebelumnya sewaktu diasuh The Special One, MU diprediksi bakal terlempar dari zona empat besar, kini di bawah tangan dingin Solskjaer, mereka kembali memegang harapan meraih tiket Liga Champion.

Kedatangan Solskjaer ke markas Old Trafford menjadi titik balik kebangkitan Pogba. Dia yang sempat terpuruk akibat tidak sejiwa dengan taktif defensif ala Mourinho, kini menemukan kembali gairah bermainnya. Statistik membuktikan, performa Pogba mengalami peningkatan luar biasa sejak dipoles Solskjaer. Pemain bernomor punggung 6 ini sudah mengoleksi 4 gol dan 4 assist dari lima laga.

Catatan apik ini sama sekali kontras dengan penampilan Pogba sewaktu ditangani Mourinho. Dari 14 pertandingan bersama Mourinho di ajang Premier League, Pogba hanya mengemas 4 gol dan 3 assist.    

Apa rahasia di balik moncernya kembali pesepakbola berusia 25 tahun ini. Tidak mengekang dan membiarkan Pobga bermain lepas, itulah kunci utamanya. Solskjaer tahu persis karakter permainan Pogba. Karena itu, dia ingin Pogba bermain simple dan memberikan kebebasan untuk mengkreasi serangan.

Pogba tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya jika bermain terlalu ke dalam. Dia mendapat arahan dari Solskjaer untuk lebih banyak berkontribusi mengendalikan serangan. Dalam membangun skema serangan, Pogba yang diberi kebebasan tidak lantas bergerak liar ke seluruh arena pertahanan lawan.

Kalau kita melihat dari pendekatan yang dilakukan Solskjaer, ada dua area yang menjadi sasaran okupasi Pogba. Pertama, dia menyerang dengan menusuk langsung ke tengah tepat di area jantung pertahanan. Kedua, menyasar sisi kanan pertahanan lawan.

Pilihan kedua ini sangat dimungkinkan karena biasanya Pogba memulai serangan dari sisi kiri tengah. Selain itu, skema kedua ini sangat membantu sayap kiri MU yang sejauh ini masih kurang akseleratif. Anthony Martial yang mengisi sayap kiri masih tampil angin-anginan.  

Pogba tidak perlu bergerak melebar terlalu jauh sampai ke sisi kiri pertahanan lawan. Area ini sudah menjadi wilayah eksploitasi Rashford. Kita tahu, Rashford bukan saja striker haus gol, dia juga punya daya jelajah dan kecepatan yang bisa membuat bek kanan lawan terpontang-panting mengawalnya.

Taktik inilah yang membuat Pogba kembali menemukan jati diri permainannya. Seperti diakuinya sendiri, sekarang dia merasa bahagia di lapangan; bahagia bisa bermain dengan sepakbola menyerang yang menjadi kesukaan jiwanya.