“Di mana Tuhan saat manusia menderita?” Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang seringkali dipertanyakan oleh orang-orang beragama (bahkan juga yang tidak beragama), ketika melihat penderitaan-penderitaan di sekitar mereka. Bencana besar-besaran yang menelan banyak korban, peristiwa-peristiwa kejahatan tidak bermoral yang merebut nyawa orang-orang tidak bersalah, atau problem-problem sosial seperti kemiskinan dan kelaparan, semua itu membuat manusia mempertanyakan keberadaan Sosok yang Mahakuasa dan Mahabaik.

“Di mana Tuhan saat manusia menderita?” Pertanyaan ini ditanggapi dengan berbagai macam jawaban dari para pemimpin dan umat beragama. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain. Mungkin Tuhan sedang membentuk karakter kita jadi lebih baik. Atau, mungkin Tuhan sedang marah atas dosa-dosa kita. Tetapi saya akan mengajukan sebuah alternatif jawaban lain: Tuhan ada bersama dengan kita saat kita menderita, dan lebih dari itu, Ia ikut menderita.

Yang Ilahi sedang menderita bersama dengan manusia yang menderita. Presuposisi ini didasari oleh iman kepercayaan saya sebagai seorang Kristen Protestan. Di dalam agama Kristen Protestan, kami mengenal doktrin inkarnasi. Inkarnasi adalah sebuah peristiwa di mana Tuhan yang mahatinggi bersedia mengambil rupa seorang manusia biasa. 

Saat yang Ilahi menjadi daging, di situlah solidaritas Ilahi menjadi nyata. Menubuh di dalam sosok manusia Yesus, Yang Mahakuasa melebur dengan keterbatasan-keterbatasan manusia, sehingga Yesus dapat merasakan kelemahan-kelemahan manusia. Ia bisa lapar, haus, lelah, mengantuk. Ia juga merasakan penolakan dari orang-orang sekitarnya, pengkhianatan dari murid dan sahabatnya sendiri, siksaan fisik, bahkan kematian di kayu salib. 

Saat manusia-Ilah itu tersalib, maka Tuhan bukan hanya peduli atas penderitaan kita, melainkan ikut menderita bersama dengan kita. Ketika kita menangis, Tuhan pun pernah menangis. Ketika kita dikhianati, Tuhan pun pernah dikhianati. Ketika kita tersiksa, Tuhan pun pernah tersiksa. Dia bukanlah Tuhan yang jauh dari penderitaan dan tidak mengerti penderitaan kita. Ia pernah mengalami semua penderitaan sebagai manusia. Dia pernah menderita dan sekarangpun sedang ikut bersolidaritas dengan penderitaan kita.

Namun Tuhan bukan saja “menderita bersama” manusia yang menderita, melainkan juga “menderita bagi” manusia. Solidaritas-Nya lebih dari sekedar empati afektif semata. Solidaritas-Nya juga meliputi aksi nyata. 

Sebelum kematiannya, Yesus melakukan aksi-aksi kemanusiaan terhebat melawan kekejaman pemerintah Roma dan alienasi-alienasi oleh para Farisi. Ia membela kaum perempuan dan anak-anak, menyembuhkan penyakit kusta yang tabu, mengasihani orang-orang miskin dan cacat, bahkan melanggar hukum-hukum yang membebani manusia, seperti memetik gandum pada hari Sabat. Aksi-aksi nyata demi kemanusiaan itulah yang membuat akhirnya Yesus harus dijatuhi hukuman mati karena dianggap sebagai pemberontak di zamannya. 

Namun demikian, sampai kematiannya pun, sang manusia-Ilah tidak berhenti menderita bagi manusia. Manusia-Ilah yang tersalib di Golgota bukan mati untuk memenuhi hukuman pidana Romawi, melainkan untuk menebus dosa-dosa manusia. Kematiannya bukan kematian sia-sia, melainkan kematian demi manusia dan demi kemanusiaan. Lagipula, penderitaannya tidak hanya berujung kematian, melainkan kebangkitan. Kebangkitan bukan hanya melambangkan kemenangan Ilahi atas dosa, tetapi juga melambangkan kemenangan manusia atas pahitnya penderitaan.

Solidaritas Ilahi yang tergambar melalui manusia yang tersalib di Golgota itulah yang membuat umat Kristen juga harus bersolidaritas terhadap sesamanya yang menderita. Yang Ilahi saja mau untuk bersolidaritas bersama yang menderita, apalagi kita? Motivasi inilah yang senantiasa mendorong umat Kristen untuk bersolidaritas. Manusia-Ilah yang tersalib sudah terlebih dahulu melakukannya untuk umat manusia. 

Kini, umat Kristen harus mengikuti teladan-Nya untuk menderita bersama mereka yang menderita. Solidaritas ini bukan dianggap hanya sebagai kewajiban umat beragama, namun kesadaran nurani (consciousness) sebagai seorang Kristen.

Tetapi tidak berhenti sampai sana saja. Solidaritas Kristen bukan berujung pada kata-kata motivasi maupun empati belaka, melainkan pemberian diri (self-donation). Sebagaimana manusia-Ilah yang tersalib tidak hanya berhenti pada “menderita bersama,” melainkan juga “menderita bagi,” maka umat Kristen juga dipanggil untuk turun tangan membantu mereka yang menderita. Aksi nyata dibutuhkan untuk menolong orang-orang yang menderita, berupa bantuan materi dan moral terhadap korban-korban bencana alam, korban-korban perang, dan juga korban-korban akibat kejahatan lainnnya.

Dengan pemahaman mengenai Tuhan yang “menderita bersama” dan “menderita bagi,” umat Kristen memiliki dasar yang kuat untuk berkorban bagi yang menderita, menolong yang kesusahan, dan bersolidaritas/berempati dengan yang bersedih. Di sisi lain, umat Kristen tidak memiliki alasan untuk berdiam diri saja ketika melihat penderitaan berlangsung di negara kita tercinta. Umat Kristen harus turun tangan dan bergabung dalam aksi-aksi kemanusiaan. Jika tidak, maka ia tidak sedang meneladani Tuhannya. 

Itu bukan hanya sebuah dosa besar, melainkan sikap tak tahu berterimakasih (ungratefulness). Umat Kristen dituntut untuk keluar dari zona nyamannya, sebagaimana Yang Ilahi juga keluar dari zona nyaman-Nya dan berinkarnasi menjadi manusia. Umat Kristen tidak hanya menyanyi dan beribadah dengan sukacita di gereja yang nyaman dan ber-AC, melainkan juga turun ke jalan-jalan untuk membantu mereka yang miskin dan kelaparan, serta terkena bencana alam. 

Demikian juga umat Kristen harus memperjuangkan kemanusiaan, sama seperti semasa hidup Yesus memperjuangkan kemanusiaan, misalnya dengan cara menolak perdagangan manusia, mengecam pelecehan seksual, memperjuangkan persamaan hak, menolak diskriminasi, dan lain-lain.

“Di mana Tuhan saat manusia menderita?” tanya si miskin, si lapar, si korban bencana alam, si korban pelecehan seksual, si korban perdagangan anak, si penderita penyakit menular, si korban ketidakadilan, si pengemis yang cacat lahir, si anak yatim piatu, si korban perang, manusia-manusia yang menderita.

Lalu jawabku, “Tuhan di sini, Dia sedang menderita bersama dan menderita bagi manusia. Tapi aku juga di sini, sebagai manusia yang meneladani Tuhanku. Aku akan menderita bersamamu. Aku akan menderita bagimu.”