Sunyi pagi terusik pekak knalpot roda empat, menderu-deru hingga senyap kembali. Mesin bermerek Hudson Phaeton besutan tahun 1921 itu, tiba-tiba berhenti berputar. Tinggalkan asap pekat di pelataran Hotel Huiz Justina yang beku.

Tampak anak-anak surau mulai sontak berlarian. Berebut membaui asap pekat hingga puas kegirangan. Sebuah kesukaan kekanakan yang boleh dibilang mahal saat itu. Semahal mobil necis yang kini tenang berparkir di halaman hotel.

Fajar baru saja merah merona. Sungguh indah semburatnya, bak warna pipi gadis cantik yang sedang berdiri mematung di depan pintu masuk hotel itu.

Goede morgen, welkom!” sambutnya ramah.

Goede morgen!” jawab pria jangkung perlente berdandan rapi yang baru saja turun dari mobil itu.

Dipersilahkanlah si meneer dengan ramah, khas sambutan tamu hotel yang penuh basa-basi. Kedua tangan gadis itu menyilang di belakang pinggulnya yang ramping. 

Sepertinya sedang memegang kantong plastik yang cukup berat. Namun, berupaya menutupinya dengan senyuman renyah, agar tugas penyambutannya terlihat alami dan manis.

Baginya, ada tugas lain yang lebih penting dari sebuah protokoler penyambutan, yaitu menjaga agar isi kantong plastik berat itu tidak lagi terbuang sia-sia ke tong sampah.

Untuk keduakalinya, anak-anak surau kembali berlarian. Namun, kali ini bukan berebut asap knalpot, tapi berebut kantong plastik besar yang dibawa gadis itu.

Ya! Benar! Sekantong besar remah-remah kulit roti dari dapur hotel! Corien Rohaya, sang gadis cantik itu kini meleleh air mata. Inilah satu-satunya cara baginya untuk membantu perjuangan bangsa Indonesia. Menjaga agar penerus bangsa tak kelaparan!

Baru seminggu dia bekerja di hotel itu. Tampak anggunlah dia memakai baju klederdracht. Ekor kainnya menjuntai-juntai, seolah menyapu lantai hotel yang mengkilat itu. Kontras sekali dengan wajah-wajah anak kecil tadi, yang berani menghitam jelaga di depan knalpot, yang berani bertahan dalam kelaparan.

Sementara itu, ada sepasang mata hitam mengawasi dari kejauhan. Memincing mata di balik rumpun bambu di seberang hotel. Sedari tadi tampak mengendap senyap dan waspada, bak seorang intai tempur. Sesekali kepulan asap rokok tipis membumbung di atas kepalanya. Sebagai tanda bahwa dirinya masih ada di sana.

“Dul, sana laporkan!” si kecil Ali setengah berbisik sambil menarik sarung Dulah yang asyik berebut remah kulit roti.

“Bentar lagi, lapar nih!” jawab Dulah sambi terus mengais remah dengan lahapnya.

Sejurus kemudian, Dulah berlarian kecil menuju rumpun bambu sambil mengangkat sarung lusuhnya. Seolah-olah hendak kencing untuk mengelabuhi yang ada. 

Sarung yang terangkat itu, pamerkan tulang kakinya yang menonjol kehabisan daging. Dulah menghilang dari pandangan di rumpun bambu itu. Tapi sial baginya, orang yang berasap rokok tadi sudah pergi.

Tubuh si kecil Dulah tiba-tiba mengigil. Bukan karena lembab, ataupun suasana seram rumpun bambu yang lebat itu. 

Namun, karena terlalu asyik berebut remahan kulit roti tadi, hingga telatlah laporan yang sedianya disampaikan. Kini, sia-sia sudah ia berlarian menuju ke rumahnya, mengejar orang yang berasap rokok tadi. Artinya, Dulah harus siap mendapat hukuman karena keterlambatan laporannya.

“Corien!! Antar ke paviliun !” perintah Tante Meyer si pemilik hotel. Ternyata suara langka kaki bersol besi dari sepatu si meneer yang menghantam lantang lantai hotel telah berisik membangunkannya. Tante Meyer, sedari tadi tidur saja di samping meja resepsionis.

“Baik mooder!” respon Corien Rohaya dengan sedikit mengangkat ujung bajunya, agar sigap berjalan cepat. Dengan cekatan, dia antar tuan Pedro Arens, si ahli geologi Belanda yang ganteng itu.

Corien Rohaya percepat langkah kaki saat lewati lorong paviliun yang sedari tadi berisik oleh erangan erotis lelaki. Bukan takut berahi, namun berasa tersayat hatinya. Terngiang erangan para petani kopi yang tersiksa di lahan-lahan tanam paksa.

Corien Rohaya baru saja dibeli oleh Tante Meyer dari pemilik Herberg atau penginapan yang bangkrut di Surabaya. Dia dihargai tiga gulden saja untuk seorang Indo-Belanda yang terlantar, yang telah ditinggal oleh bapak-bapak mereka pulang ke negerinya.

Sedang Sundari, pribuni yang mengepel lantai itu, hanya dihargai satu setengah gulden, karena tidak bisa bahasa Belanda dan tak pandai memasak rijsttafel.

Hotel Huiz Justina, tempat Corien Rohaya bekerja, berdiri mega di ujung dataran tinggi Pujon, Malang. Hotel itu bercirikan sajian gemeenschapelijke tafel atau prasmanan. 

Dengan aroma kebersamaan dan keakraban yang kental, pemilik, pelayan dan tamu, layaknya sebuah keluarga saja. Tamu di sana ibarat buyung upik yang manja ke ibunya.

Pagi itu, tuan Pedro baru saja menikmati perjalan panjang dari Surabaya. Universitas Leiden telah mengutusnya datang ke sini, guna meneliti Kawah Jero di Gunung Welirang. Mereka tertarik setelah letusan Kelud tahun 1919. Entah untuk misi apa, ilmiah atau misi lintah?

“Hidangkan ke tuan Pedro Sun!”

“Baik, mooder!” jawab Sundari sambil tergopoh menuju majikannya.

Secangkir kopi Pujon dan kue wafel tersaji di atas nampan kayu jati. Sundari terpincang menuju kamar tuan Pedro. Tadi malam baru saja ditendang suaminya yang kalah judi, si Tukiman, sang penambang belerang yang pemarah.

“Silahkan, Tuan.” Sundari cepat-cepat beringsut dari Tuan Pedro yang berdiri mematung di jendela kaca. Mata si meneer tersihir oleh keindahan panorama sekitar. Kedatangan Sundari tiada digubrisnya.

Tiba-tiba keterkagumannya terusik oleh bau sedap kopi yang masih mengepulkan uap panasnya. Diraihnya secangkir kopi panas itu.

Herelijk!” tuan Pedro menggelinjang nikmat. Menyeruput hangat kopi Pujon sambil memejamkan matanya.

Nyatanya negeri tuan Pedro tak sanggup tanam kopi. Geografis dan iklimnya tak cocok. Dengan kolonialisme dan tanam paksa, mereka bisa tanam kopi, termasuk di tanah Jawa ini.

Itu semua dilakukan Belanda demi menghasilkan ungkapan tenar di Eropa saat itu, A Cup of Java, Secangkir Pulau Jawa! Sebuah makna puitis yang berdarah-darah.

Mooi!” tuan Pedro sekali lagi berekspresi lantang. Kali ini mulutnya melongo lebar. Matanya terbuka, terkagum-kagum dengan yang nun jauh di sana. Sebuah panorama pagi yang tak pernah ada di negerinya.

Nun jauh di sana, tampak puncak Gunung Welirang mancung membelah langit. Menggoda naturalis negeri kincir angin itu untuk berbondong ke bumi pertiwi. Untuk apa? Jelas, meneliti, menelaah, dan menjajah!

Mereka membuat bunga rampai botani, rangkuman geologi, coretan topografi dan sejuta narasi kemolekan pertiwi untuk dibawa pulang ke negerinya.

Tuan Pedro telah dimanjakan oleh kemolekan ibu pertiwi. Apalagi sebuah teropong panjang sudah berada di ujung matanya, membuatnya betah berlama-lama di jendela kaca hotel itu.

Sementara itu, kontras dengan yang ada di rumah reyot itu. Sebuah bangunan berdinding anyaman bambu dengan atap rumbianya, tampak berdiri setengah tegak di pojok desa.

Sinar matahari lantang menembus celah-celah dinding anyaman bambu, membuat bayangan siluet yang berbilur-bilur menggaris terang di lantai tanah yang gelap dan lembab. 

Paduan kontras itu, seolah melagukan bekas cambukan cemeti para mandor tanam paksa yang mencakar-cakar petani pribumi.  

“Pak, tuan meneer-nya sudah datang.”

“Dasar lambat ! Kau lihat ibumu?” sebuah pukulan bilah bambu mendarat hebat di punggungnya.

“Lihat Pak, pincang jalannya, Pak!” Dulah tinggalkan bapaknya sambil terisak. Usai sudah tugasnya dan juga lecutan hukumannya. Kalimat terakhir dari si kecil Dulah, kali ini sungguh merajam hati si Tukiman.

Kerasnya kolonialisme dan kehidupan ganas koloni penambang, membuatnya tempramental.

Hari itu, Tukiman memata-matai Pedro Arens. Apakah dia seorang sipil atau militer. Dia mendengar selentingan Pedro akan ke Kawah Welirang. Jika dia sipil, mencoba peruntungan, jadi pemandunya. Jika militer, cepat-cepatlah ia melapor ke teman-teman koloni penambangnya untuk siap-siap menghadang di tengah jalan.

Berkat laporan si kecil Dulah, anaknya, berujung pada satu kesimpulan: tidak ada serdadu menemaninya!

Tidak ada pula pengawal lainnya dari anak bangsa yang khianat. Tidak ada juga senjata laras panjang yang ditenteng ataupun pistol yang terselip di pinggangnya. Aman baginya untuk mengais gulden buat berjudi lagi.  

Tukiman masih saja duduk di pojok ruangan remang itu. Tampak sebuah meja bambu. Di atasnya terhidang sebuah piring yang berisi beberapa potong ketela goreng dan sebuah kendi. 

Tukiman mengunyah keras gorengan ketela sambil mengasah ujung linggis keras-keras. Itulah alat utama bagi mata pencahariannya. Mencongkel dan menghancurkan bongkahan belerang di kawah Gunung Welirang.

“Sudah siap, Tuan?” tanya Tukiman.

Ja,” jawab tuan Pedro singkat.

Kesepakatan telah lahir. Tukiman berhasil berserikat dengan tuan Pedro dengan bayaran 14 gulden. Cukup mahal seharga tarif kamar hotel itu. Mereka berdua akan berkuda lewat jalan pintas menuju puncak Gunung Welirang.

Di sebuah Subuh yang suram oleh badai kabut pada lembahan beku Gunung Welirang, terlihat gubuk koloni penambang mulai berasap. Sebuah aktivitas yang merutin jelang fajar. 

Menyiapkan sarapan sebelum menambang. Aroma gurih ikan asin saling menyengat di antara gubuk penambang. Gurih sepertinya, terpanggang garing di atas bara kayu.

“Tukiman belum datang Sam?”

“Mungkin ketangkap Jon.”

“Ah, gak mungkin, dia punya ajian sirep.”

“Bisa saja lupa mantranya, silau oleh gulden!” Samuji tergelak lebar. Begitu pula si Jono.

Terlihat gigi-gigi keropos mereka yang tergerus oleh uap dan asap belerang. Hari itu, mereka berdua akan mengantar tuan De Vries memeriksa sumber belerang. Tuan De Vries seorang sipil Belanda yang persetan dengan kolonialisme.

Bagi tuan DeVries, bagaimana caranya membeli belerang dari penambang sebanyak-banyaknya dengan harga tinggi agar tak tersaingi oleh yang lain. Harga tinggi tersebut. membuat koloni penambang cukup berduit. Mereka para penambang adalah penyumbang aktif dana perjuangan Indonesia.

“Tuan, jangan lupa penutup mulut dan hidungnya!” seru si Jono.

Ja, inlander sterk en goed!” reaksi tuan De Vries sambil bergestur acungan jempol.

Uap dan asap belerang memang ganas. Bisa menghancurkan pakaian, gigi, dan dada jika terpapar lama. Belum lagi semburan uap yang bergejolak dari pawonan yang bersuhu tinggi itu.

Penambang belerang saat itu, adalah sebuah koloni yang kokoh. Terbentuk oleh ganasnya alam. Mereka adalah kumpulan pemberontak tanam paksa yang melarikan diri ke Gunung welirang. Keras bependirian dan bebas merdeka. Kompeni saja segan dengan koloni penambang ini.

Wilayah teritorialnya adalah Hutan Lali Jiwo. Banyak yang berkeinginan jadi anggota koloni penambang tradisional ini. Namun, sedikit saja yang berhasil. Ada saja yang tertangkap di perjalanan, atau tersesat di Hutan Lali Jiwo. Pun, mati diterkam macan tutul. Kini yang tersisa hanyalah golongan unggul.

Kedua penambang itu mengakhiri sarapan paginya. Bersama tuan De Vries, mereka berdua memandu menuju Kawah Jero. Tampak kontras, antara telanjang kaki dengan sepatu but. Antara telanjang dada dengan setelan safari necis. Lengkap dengan topi bundar khas meneer. 

Kepulan asap makin pekat dan menyengat, pertanda sudah dekat kawah. Tuan De Vries cepat-cepat memasang masker sederhana. Melilitkan kain selendang berbatik gentongan khas Madura, hadiah seorang wedana. Sedang Samuji dan Jono, sudah meluncur ke lubang-lubang solfator yang curam.

Linggis besi berkali-kali berayun menghantam bekuan warna kuning itu. Menimbulkan gaung seram yang dipantulkan dinding kawah yang berdiri tegak dan kokoh.

Tuan De Vries tertegun, sesekali terbatuk oleh asap belerang yang menembus penutupnya. Sedang keduanya, Samuji dan Jono tanpa masker. Mereka bernafas lewat mulut. Dan itulah yang membuat gigi dan dada mereka berdua cepat hancur, demi Indonesia!

Tiba-tiba terdengar letusan pistol yang nyaring menyalak, bersaing dengan bunyi pukulan linggis ke bongkahan belerang. Samuji dan Jono mendongakkan kepala. Terlihatlah tuan Pedro dengan kokang pistol yang masih berasap.

Tampak disampingnya berdiri Tukiman, sedang tuan De Vries sudah bersimbah merah darah, terkapar di atas batuan andesit putih yang berdebu.

“Apa yang terjadi!!?” tanya Samuji sambil menguping dada tuan De Vries yang tak bergerak itu.

“Mereka berebut belerang!! Kita punya juragan baru!” jawab Tukiman tegas.

Dua sipil Belanda berduel demi belerang yang tak ada di negerinya. Memperebutkan kemolekan ibu pertiwi.

Tukiman akhirnya berjalan pelan mendekat ke bibir jurang. Berdiri gagah, acungkan linggisnya ke udara. Sebuah tanda kemenangan dan selebrasi baginya, dan juga bagi temannya itu.

Hari dimana ia dan kedua temannya, dan juga bagi koloni penambang, telah mendapatkan seorang majikan baru, yang mau membayar lebih tinggi lagi belerang-belerang bangsa.

Berteriaklah dengan lantang si Tukiman ke arah tebing yang berakhir dengan gaung seram.

Solfatareeeeeeen……. Merdekaaaaaa !!!!!!”