Seorang mahasiswa semester akhir sedang menghadapi musim sindiran dari tetangga lantaran tak kunjung lulus. 

Usut punya usut, mahasiswa tadi sedang berhadapan dengan skripsinya yang dipenuhi revisi dari dosen pembimbing. Iya kalau yang direvisi hanya beberapa kata typo saja, nah kalau judulnya yang direvisi, apa mau dikata? Rombak dari awal pastinya.

Ternyata tak hanya skripsi yang direvisi, sebuah doa pun ikut-ikutan diminta untuk direvisi. Bedanya, dalam revisi doa, si mahasiswa atau santri yang malah minta revisi kepada si dosen atau kiainya. 

Coba saja banyak mahasiswa meniru cara si Romy, sudah pasti mereka cepat lulusnya asalkan siapkan keberanian untuk meminta dosen supaya merevisinya. 

Begini kronologi si Romy meminta revisi doa dari guru atau kiainya.

Bermula dari kunjungan Jokowi ke Pesantren Al Anwar Sarang Rembang pada 1 Februari 2019, Jokowi bersama tim suksesnya menghadiri acara doa bersama Mbah Maimoen. Saat doa berlangsung, Mbah Maimoen salah ucap—jika diterjemahkan ke dalam bahasa, artinya seperti ini: “Jadikanlah pemimpin ini, Prabowo, menjadi pemimpin untuk kedua kalinya.”

Baca Juga: Candaan Doa

Sontak Romy, petinggi partai PPP, menghampiri Mbah Maimoen supaya doanya direvisi. Sayangnya mik tersebut tidak menyala. Setelah menyala, Mbah Maimoen mengoreksi doanya. 

Masalahnya, apakah doa yang sudah diaminkan dapat ditarik kembali? Apalagi doa tersebut sudah telanjur diaminkan oleh seluruh santri dan kiai. Ditambah bertepatan dengan hari Jumat, tentu sangat mustajab menurut tradisi pesantren. 

Doa yang sudah diaminkan sudah pasti menembus langit. Dari langit, lalu malaikat ikut mendoakan jika doanya berupa kebaikan. Setelah itu, tibalah doa itu pada sang Tuhan pencipta alam. Apakah Romy akan menariknya dari sang Tuhan? Kira-kira begitu gambarannya.

Doa merupakan senjata kaum muslimin. Tanpa doa, usaha akan sia-sia. Inilah yang membuat para paslon sibuk mengunjungi pesantren, supaya doa kemenangan selalu dipanjatkan. Siapa tahu doa tersebut menjadi sebuah wasilah dalam mencapai kursi kekuasaan. 

Dalam ranah pesantren, satu suara dari pemimpin pesantren bisa mendulang seribu suara dari masyarakat. Begitulah iklim pesantren, di mana santri, alumni maupun masyarakat sekitar selalu tunduk apa kata kiai. 

Kalau kiai ngomong pilih A, maka kemungkinan besar mereka akan memilih A sebagai bentuk takdim pada kiai.

Pesantren dilarang dijadikan tempat berkampanye sebagaimana UU Nomor 7/2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) yang mana mengatur sejumlah tempat publik yang dilarang dijadikan tempat kampanye, salah satunya lembaga pendidikan, tak terkecuali pesantren. 

Lain cerita jika acara yang diselenggarakan berupa istigasah atau doa bersama tanpa embel-embel kampanye tapi intinya tetap saja mengarah pada politik mencari dukungan. Contoh konkretnya ya safari pesantren itu.  

Kecepatan informasi ternyata bisa mengalahkan kecepatan kereta cepat Jakarta-Bandung. Beberapa jam setelah revisi doa terjadi, dunia jagad maya sudah memviralkannya. Tagar #KyaiMaimoenDoakanPrabowo menjadi trending di Twitter. Cuplikan video setengah dan video full langsung bisa diakses oleh netizen.

Kehebohan netizen maha benar membuat apa saja yang heboh pasti menjadi viral. Ada yang mengatakan itu sebagai tanda alam untuk kemenangan Prabowo, ada pula yang mengatakan kalau arti doa yang sebenarnya justru mengarahkan untuk kekalahan Prabowo kedua kalinya. 

Baca Juga: Doa Politikus

Bagai susu dan kopi, tapi kalau diseruput, enak juga rasanya. Begitulah kiranya asupan internet sekarang: semakin ramai dibicarakan semakin enak dinikmati bersama.

Kubu petahana tentu merasa panik. Apalagi jejak digital tak bisa dikesampingkan di arena pilpres. Memang, manusia adalah gudang khilaf dan salah, termasuk kesalahan ucap. 

Usia Mbah Maimoen yang sudah sepuh membuatnya mudah lupa meskipun sudah jelas doa itu tertulis di atas secarik kertas yang dipegang ulama kebanggaan NU tersebut. 

Tak tinggal diam, Romy memposting video Jokowi bersama Mbah Maimoen di kamar sederhananya. Video yang banyak mendapatkan hujatan di IG Romy itu berisi ungkapan Mbah Maimoen yang mendukung Jokowi menjadi presiden lagi. 

Padahal Mbah Maimoen juga pernah berkata mendukung Prabowo ketika dirinya mengunjungi ulama karismatik Indonesia itu. Begitulah watak kiai, memuaskan para tamu yang bertandang, siapa pun orangnya.

Kubu oposisi merasa memiliki sebuah kesempatan emas. Kekhilafan Mbah Maimoen dijadikan celah kesempatan dalam kesempitan. Sudah pasti tagar #KyaiMaimoenDoakanPrabowo tak lepas dari peran oposisi.

Kemudian muncul cuplikan video lama ketika Mbah Maimoen sedang khusyuk mendoakan Prabowo (tanpa teks doa) yang kembali diangkat di dunia maya. Tujuannya jelas, untuk membandingkan video yang viral saat ini. 

Jari-jemari buzzer politik oposisi dipastikan siap siaga untuk mempertahankan keviralan tagar #KyaiMaimoenDoakanPrabowo. Terbukti tagar tersebut menduduki trending topik seharian penuh.

Benar-benar sudah gila pertarungan pilpres kali ini. Apa pun itu yang berbau agama, sangat rentan dijadikan alat mendulang suara atau menjatuhkan lawannya. Pilihannya ada dua, membunuh karakter sendiri atau dibunuh dengan karakter. 

Lihat saja beberapa paslon ingin menunjukkan kealiman dengan menghentikan pidatonya saat azan berkumandang, mendadak rajin salat berjemaah, mengaku pandai baca Quran, sampai menunjukkan ke publik tentang tulisan lafaz Allah di kening salah satu paslon.

Kalau tidak menunjukkan karakter islami, ujung-ujungnya akan diserang lawan main dengan karakter pula. Lihat saja video editan ucapan selamat natal dari salah satu paslon, salah satu paslon yang terbata-bata saat baca teks Arab, isu salah satu paslon merayakan natal, isu komunisme, isu dukungan LGBT, isu kriminalisasi ulama, dan beberapa isu sensitif lainnya dalam Islam.

Sepertinya, daripada sibuk urus urusan pilpres, ada baiknya jika dahulukan revisi skripsi. Siapa tahu bisa lulus di tahun ini kalau sudah direvisi. 

Tunggu dulu, kalau doanya sudah direvisi, apa bakal lulus juga?