Kritik terhadap SINTA telah diutarakan sebelum, ketika, dan sesudah pemberian penghargaan SINTA. Penghargaan ini adalah salah satu bentuk pelembagaan kecurangan seperti yang dipaparkan tulisan sebelumnya

Bahkan para manipulator SINTA yang melakukan masturbasi publikasi dan ‘korupsitasi’ pun telah dipanggil oleh Kemenristekdikti untuk ditegur. Namun, hanya setelah tulisan di atas terbit, baru terlihat ada perubahan dalam SINTA.

Perubahannya adalah para manipulator SINTA yang menduduki posisi-posisi teratas dalam pemeringkatan SINTA secara tiba-tiba dihapus dari laman pemeringkatan SINTA. Bandingkan misalnya tangkapan layar yang menjadi gambar pembuka pada tulisan sebelumnya dan pada tulisan ini.

Penghapusan secara tiba-tiba ini merupakan contoh buruk dari pihak penanggung jawab SINTA, yang antara lain terdiri dari para pembuat dan pelaksana kebijakan jurnal ilmiah di Indonesia. 

Misalnya, untuk jurnal ilmiah, praktik lazim yang dilakukan ketika ditemukan kesalahan etika dan terkait dalam sebuah makalah ilmiah adalah melakukan penarikan atau retraksi terhadap makalah tersebut, dengan memberikan alasan-alasannya. Bukan menghapus makalah itu begitu saja dari jurnal tersebut

Namun, praktik yang kurang sesuai dengan etika dan kelaziman akademik ini memang telah dimulai sejak SINTA diluncurkan. Dalam situs SINTA, tidak terlihat satupun tulisan ilmiah yang menjadi landasan metodologi SINTA. 

Misalnya, tidak ada penjelasan mengapa harus ada pemeringkatan bagi ilmuwan yang tercakup dalam SINTA. Lebih mendasar lagi, kenapa pangkalan data sitasi Scopus yang diutamakan dalam pemeringkatan ini?

Dengan tindakan penghapusan tiba-tiba dalam pemeringkatan SINTA, pengutamaan bahkan penggunaan Scopus sebagai sumber data SINTA menjadi lebih terlihat masalahnya. 

Dalam peringkat 10 besar ilmuwan SINTA sejak tiga tahun terakhir, dapat ditemukan ilmuwan yang menerbitkan banyak makalah di jurnal bermasalah, walaupun terindeks Scopus. Ini merupakan salah satu bukti bahwa pangkalan data Scopus yang kononnya merupakan tolok ukur kualitas jurnal ilmiah tidak bisa dipercaya. 

Secara ilmiah, fenomena ini sebenarnya telah dibahas berulang kali, misalnya pada tulisan yang terbit pada 2016 ini.

Respon Scopus terhadap makalah di atas, dan keluhan-keluhan serupa terhadap kualitas indeksnya, adalah dengan menciptakan algoritme pendeteksi kecurangan jurnal yang dinamakan Radar pada akhir 2017. 

Namun algoritme ini sepertinya tidak berdaya menghadapi kecurangan-kecurangan seperti yang dikeluhkan dalam komentar-komentar terhadap jurnal bermasalah tersebut di Scimagojr.

Dalam rekam jejak Scimagojr juga, terlihat bahwa ada jurnal bermasalah lain yang ditemukan sudah dikeluarkan dari indeks Scopus pada tahun ini namun sekarang terdaftar lagi di indeks ini. Karena sifat Scopus sebagai pangkalan data komersial yang keputusannya tertutup, tidak dapat diketahui alasan di balik keputusan ini.

Berbeda dengan Scopus yang dimiliki oleh lembaga privat atau swasta (Elsevier), SINTA dimiliki oleh lembaga publik (Kemenristekdikti) yang seharusnya semua hal tentangnya diketahui publik. 

Namun, rekam jejak pengembangan SINTA sangat sedikit melibatkan publik, termasuk komunitas ilmuwan Indonesia sebagai salah satu pemangku kepentingan terpenting. 

Contoh paling jelas dari keterbatasan penglibatan komunitas ini adalah dari penamaan SINTA sendiri. Bias jelas terlihat ketika kepanjangan resmi SINTA adalah Science and Technology Index. Berapa ilmuwan sosial dan humaniora yang dilibatkan dalam pengembangan SINTA dibanding ilmuwan sains dan teknologi?

Dari segi pangkalan data publikasi dan sitasi, jika tetap ingin mempertahankan pemeringkatan, solusi untuk SINTA sepertinya ada dua. Satu, bekerja sama erat dengan Scopus, dengan segenap implikasi komersial dan ketertutupannya, untuk memperbarui data Scopus dan SINTA secara terus-menerus (real time) sehingga menghindari temuan peringkat bermasalah seperti sekarang.

Dua, menciptakan pangkalan data publikasi dan sitasi sendiri, sebagaimana yang tercetus di awal makalah ini, melalui kerja sama dengan Crossref, seperti yang dilakukan pendatang baru yang langsung menggebrak dalam dunia bibliometrik, Dimensions.

Untuk solusi kedua, masalahnya terletak pada ketertutupan pangkalan data publikasi dan sitasi komersial seperti Scopus. Di sinilah pemerintah Indonesia diwakili Kemenristekdikti perlu bekerja sama dengan Initiative 4 Open Citations untuk meminta Elsevier (pemilik Scopus dan penerbit banyak jurnal ilmiah) membuka data sitasi mereka agar dapat digunakan publik ilmiah secara luas. 

Sekarang, Elsevier merupakan salah satu penerbit yang paling sedikit membuka data sitasinya di Crossref.

Fenomena yang terjadi pada SINTA merupakan sebuah skandal tersendiri dalam dunia ilmiah nasional dan internasional. Terlihat bagaimana lembaga yang dimiliki privat (Scopus) dan publik (SINTA) dapat diperdaya oleh para manipulator dan koruptor ilmiah. 

Scopus sebagai lembaga milik privat mungkin tidak terjangkau publik, namun tidak dengan SINTA sebagai lembaga milik publik.

Tindakan penghapusan tiba-tiba tanpa alasan akademik dalam komunitas akademik tidaklah terpuji dan kemungkinan melanggar etika dan kelaziman akademik, sehingga siapa pun yang melakukan dan memerintahkannya perlu mempertanggungjawabkan perbuatan mereka secara akademik dan publik!

Juga, wajib ada implikasi akademik dan publik terhadap para ilmuwan yang tiba-tiba dihapus peringkatnya dari SINTA, apalagi kalau ada yang pernah mendapatkan penghargaan secara resmi dari lembaga publik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa peringkat-peringkat SINTA ini juga dijadikan alat untuk beriklan terhadap publik. 

Perlu pertimbangan serius yang melibatkan publik secara luas, termasuk ilmuwan sosial dan humaniora, tentang keberadaan pemeringkatan dalam SINTA, serta hal-hal mendasar lainnya, seperti metodologi dan komersialisasi akademik!