Sebagai seorang istri yang meyakini bahwa suami adalah imam rumah tangga, apa yang Anda lakukan ketika impian masa kecil Anda berbenturan dengan kepentingan suami? Sebagai muslimah, apa yang akan Anda lakukan saat agama dan teman-teman seagama Anda menghadapi tantangan stigma? Film  Hanum dan Rangga: Faith &The City (H&R) menawarkan jawaban pada pertanyaan itu.

Hanum (Acha Septriasa) sejak kecil menyimpan mimpi bekerja di stasiun televisi di kota New York. Salah satu jurnalis idola Hanum adalah Andy Cooper (Arifin Putra). Andy kini sedang berada di puncak karier memimpin GNTV.

Setelah berpamitan dengan Azima Husein (Titi Kamal) dan putrinya Sara Husein (Ciara Nadine Brosnan), Hanum berniat menemani suaminya Rangga (Rio Dewanto) pergi ke Vienna, Austria. Rangga akan menyelesaikan disertasinya di sana. Semua tampak lancar, hingga Samantha (Alex Abbad) datang ke rumah Rangga dan Hanum.

Sam mengabarkan Andy Cooper berminat menawarkan magang di GNTV selama tiga minggu pada Hanum. Hanum bimbang antara kewajiban menemani Rangga atau mengejar hasratnya sebagai jurnalis di stasiun televisi ternama.

Rangga pun galau melihat kesedihan istrinya harus mengubur mimpi bila terus mengikutinya ke Vienna. Akhirnya, mereka berdua pun sepakat untuk tinggal di New York selama periode magang Hanum, tiga minggu.

Di GNTV, Hanum dihantam oleh fakta bahwa Andy Cooper ternyata tidak seideal yang dibayangkan selama ini. Andy memaksa Hanum untuk mengeksploitasi emosi narasumber demi rating televisi. Demi rating, Andy menghalalkan segala cara.

Sementara, rumah tangga Hanum dan Rangga pun mengalami masalah. Kedekatan Rangga dan Azima menimbulkan kecemburuan Hanum. Demikian pula intensitas hubungan Hanum dan Andy Cooper menyulut rasa cemburu Rangga.

Kuantitas dan kualitas pertemuan Rangga dan Hanum yang makin berkurang makin memperparah hubungan mereka. Hingga pada satu titik, Hanum diharuskan memilih pergi mengikuti Rangga menuju Vienna atau meneruskan karirnya di New York.

Premis dasar H&R sebenarnya benar-benar bermutu. Film ini ingin menghadirkan friksi antara karier seorang muslimah dan relasi rumah tangga dengan suami  Isu peran gender tentu sangat menarik untuk diceritakan. Dialog peradaban untuk mengatasi stigma juga menjadi fokus cerita H&R.

Hanya saja, premis menarik tersebut digarap dengan sangat buruk. Alur cerita irasional bertebaran di mana-mana. Misalnya, mungkinkah ada perusahaan yang menawarkan magang hanya berjangka waktu tiga minggu?

Kemudian, wajarkah seorang pegawai ditawari kontrak seumur hidup hanya berdasarkan evaluasi kerja selama tiga minggu? Bagaimana profesionalisme seorang jurnalis yang mewawancarai narasumber tanpa riset yang cukup lebih dulu? Disertasi apa yang sedang dikerjakan Rangga?

Penggunaan bahasa Indonesia yang berlebihan juga menjadi kejanggalan mutlak H&R. Film ini berlatar belakang di kota New York. Namun, secara umum, hidup Hanum dan Rangga dikelilingi oleh orang-orang yang fasih berbahasa Indonesia.

Celakanya, acara televisi GNTV New York pun menggunakan bahasa Indonesia. Sebenarnya, sutradara Benni Setiawan bisa menggunakan dialog berbahasa Inggris yang dilengkapi takarir (subtitle) bahasa Indonesia.

Penggunaan takarir dalam film-film Indonesia sudah jamak dilakukan. Entah mengapa hal itu tidak dilakukan. Sehingga memperparah kontradiksi latar belakang tempat film dengan bahasa yang digunakan.

Beberapa konflik yang meletus hanyalah dramatisasi berlebihan atas persoalan-persoalan miskomunikasi. Bagi sepasang suami istri yang dicitrakan cerdas, masalah miskomunikasi semacam itu, sewajarnya, bisa diselesaikan dengan negosiasi kepala dingin. Dari premis yang cukup berbobot, film ini jatuh menjadi seperti jalan cerita sinetron televisi biasa. Namun sinetron tersebut ditampilkan dalam format layar lebar  

Bagi penonton yang memiliki sensitivitas gender, film ini akan sangat mengganggu. Beberapa adegan dan dialog mengisyaratkan rasa tidak aman khas pria patriarki. Ditambah relasi subordinat antara suami dan istri. Perempuan Berkalung Sorban (2009) karya Hanung Bramantyo jauh lebih menggigit dan menyegarkan dalam menampilkan isu peran serta relasi gender dalam Islam.

Pertanyaan menantang, "Would the world be better without Islam?", yang diajukan Andy Cooper dan membayangi perjalanan Hanum dalam film ini hanya diselesaikan lewat lingkaran relasi personal Hanum, Andy, dan teman-temannya. Pertanyaan berbobot yang mengandung dialog peradaban tersebut dijawab dengan penyelesaian yang lemah sekali.

Padahal pertanyaan "Would the world be better without Islam?" bisa dijawab dengan mengeksplorasi buku berjudul A World Without Islam (2010) karangan Graham E. Fuller. Namun, tampaknya, sutradara dan penulis skenario (Benni Setiawan, Hanum Salsabiela, dan Rangga Almahendra) tidak berminat mengangkat argumen-argumen dalam buku tersebut ke dalam dialog film ini.

H&R hanyalah dramatisasi kisah cinta personal yang dipenuhi irasionalitas. Bagi penonton yang menyukai drama cinta yang manis dan ringan, film ini akan membayar lunas tiket bioskop Anda. Namun, bagi penonton yang menginginkan kedalaman sebuah cerita dengan alur yang logis, kesabaran akal sehat Anda akan diuji selama kurang lebih 90 menit.

Cukup mengherankan juga bila drama cinta seringan ini gagal mencapai box office. Mengingat film-film drama cinta ringan seperti Dilan 1990 (2017) dan Eifel, I’m In Love (2003), misalnya, berhasil ditonton lebih dari satu juta penonton. (D)

Cuplikan Resmi Hanum dan Rangga: Faith & The City (2018)