Kata koperasi berasal dari Bahasa Inggris yaitu Co dan Operation. Co berarti bersama, Operation berarti usaha. Kalau kedua kata itu di rangkai, maka menjadi usaha bersama. Padahal di luar negeri tidak ada badan usaha seperti koperasi. Kalaupun ada, mungkin hanya sejenis.

Mengapa hanya ada di Indonesia? Karena landasan Koperasi adalah Pancasila dan UUD 1945 yang tidak di miliki oleh negara lain.

Pada dasarnya, koperasi ada di sekolah-sekolah adalah salah satu usaha untuk menumbuh kembangkan jiwa kerja sama kepada siswa dan siswi yang kelak akan menjadi penerus pembangunan bangsa dan negara.

Koperasi di sekolah juga menjadi sarana bagi siswa untuk melihat secara nyata ilmu dan pengetahuan koperasi khususnya dan ekonomi umumnya, dan penerapannya di kehidupan sehari-hari.

Koperasi sekolah tak berbeda dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS. Sering di plesetkan dengan ISIS) yang menjadi sarana untuk belajar berorganisasi, menumbuhkan toleransi, dan menyuburkan rasa kekeluargaan.

Katanya menyuburkan rasa kekeluargaan, tapi kok harga barang di koperasi rata-rata lebih mahal? Kalo keluarga, harga jualnya jadi murah dong! Eits. Koperasi itu merupakan penerapan ilmu ekonomi yang salah satu teorinya berkata “Bisnis ya bisnis, keluarga ya keluarga.” Bukannya mengenal McQueen ya Queen.

Seharusnya keluarga itu mendukung bisnis kerabatnya, bukan malah merugikan kerabatnya. Harga barang yang seharusnya Rp 10.000 mejadi Rp. 20.000 tanpa minta kembalian keluarga harus saling membantu, bukan?

Bung Hatta sebagai bapak koperasi menyebut koperasi adalah badan usaha yang cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Mengapa demikian? Mengapa Bung Hatta tidak menyebut bentuk perseroan terbatas (PT) sebagai badan usaha yang cocok untuk bangsa Indonesia?

Berbeda dengan PT yang terdiri atas dasar perkumpulan modal, koperasi didirikan atas perkumpulan anggota. Jadi, pada bentuk PT besar kecilnya modal yang di setorkan ke dalam perusahaan akan berpengaruh terhadap peran seseorang dalam perusahaan itu. Sebaliknya dalam koperasi, jasa dan peral rill anggotalah yang memegang peran penting.

Di dalam koperasi tidak mengenal kaya dan miskinnya seseorang sesama Ia mau bekerja karena Indonesia itu membutuhkan orang yang seperti itu. Percuma kaya toh pemalas. Harta tak akan bertahan selamanya, but attitude kita bawa sampai mati. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan kulit.

Perbedaan prinsip ini juga terlihat jelas pada rapat umum untuk menentukan kebijakan perusahaan. Pada PT, kita mengenal Rapat Umum Pemegang Saham. Dalam RUPS, besar kecilnya suara pemegang saham dalam penentuan kebijakan di tentukan oleh besar kecilnya modal yang disetorkan.

Lalu dengan koperasi? Pada koperasi kita mengenal rapat anggota. Dalam rapat anggota, setiap individu memiliki satu suara, tanpa memandang besar kecilnya modal yang disetorkan.

Dari sini kita belajar bahwa kita semua memilki kesempatan, tak peduli latar belakang kita, berasal dari suku, agama, dan ras yang mana, kita punya kesempatan. Dengan cara yang berbeda-beda tentunya.

Dari cara pengambilkan suara juga, kita seharusnya belajar bahwa berjalannya organisasi itu tidak perlu banyak orang pintar (yang memiliki uang yang banyak), melainkan orang-orang yang sepikiran dan seperasaan (musyarawah untuk mufakat).

Coba bayangkan kalau di suatu rapat di penuhi oleh orang-orang pintar, yang terjadi malahan debat yang akan memakan waktu yang sangat panjang untuk menemukan titik temu antar logika. Menguruas jasmani, juga rohani.

Karena pada nyatanya sifat manusia itu tidak mau kalah. Otaknya keras, hatinya bebal. Tidak ingin di koreksi oleh orang yang lebih mudah.

Koperasi di sekolah dapat memupuk rasa cinta pada sekolah. Hal ini disebabkan apa yang dijual oleh koperasi tersebut. Bisa jadi apa yang dijual tersebut merupakan makanan atau pun minuman yang menjadi ciri khas sekolah tersebut.

Karena hal yang bikin seseorang senang ke sekolah itu suasana kelasnya. Pacar atau temannya, juga makanan dan minumannya. Benarkah seperti itu? Seperti kata Milea, terserah apa katamu, aku tidak peduli.

Namun, yang jadi permasalahan pada koperasi di sekolah pada saat ini adalah yang menjadi pengurus koperasi di dominasi oleh guru-guru yang boleh di katakan kurang gaji kalau sudah begini, bagaimana dapat mengembangkan potensi diri siswa?

Yang lebih tidak adil lagi adalah ketika guru yang menjalankan koperasi tersebut adalah guru yang tidak menyukai anak-anak IPS. Padahal koperasi itu penerapan ilmu ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

Alangkah baiknya koperasi di operasikan oleh anak-anak dari jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial untuk menunjukkan bahwa anak IPS itu bukan anak buangan. Anak IPS bisa membanggakan sekolah melalui makanan dan minuman yang alangkah lebih bagus menjadi ikon sekolah tersebut.

Sudah saatnya anak IPS tidak menjadi bahan bully an saat memilih jurusan. Sudah saatnya koperasi menjadi sarana baik untuk mengembangkan potensi para siswa. Semoga.