Indahnya kebersamaan dan keragaman ternyata merasuk kedalam urat nadi dan sendi-sendi kehidupan di kota ku, yang notabenya terkenal sebagai kota santri, Jombang kota santri yang memiliki ikon podok-pondok besar di tengah kota dan di plosok-plosok desa, ternyata tidak diragukan lagi jika tak terkesan angker dan menakutkan, karena memang tak ada genjatan senjata, dan tak pernah terdengar pula isu pengeboman dan terurisme.

Ternyata penduduk Jombang penuh dengan kebergaman, baik itu segi sosial ekonmi dan agama, berbagai latar belakang dan ras serta suku bangsa bisa hidup di Jombang dengan rasa aman, dan mereka di berikan rasa tenang dalam kehidupan beragama, agama di Jombang yang paling banyak di anut masyarakat adalah agama Islam, tetapi tak menutup kemungkinan masyrakat dapat hidup rukun dan berinteraksi dengan indah dalam keberagaman agama.

Agama Islam, tak saling mengejek dan memperolok agama lain yang hidup bertetangga dengan agama, Kristen, Hindu, Budha, ternyata kota ini yang memiliki makna simbol Jombang, adalah Ijo dan Abang, Ijo melambangkan kaum santri yaitu kaum agamis, dan abang melambangkan kaum abangan yaitu kaum nasionalis atau kejawen.

 Akronim kata Bahasa jawa Ijo dan Abang ini ternyata sudah lama ada dan menandakan keselarasan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat, berbagai alkulturasi kebudayaan juga banyak terlahir dari kota Jombang seperti lagu-lagu siar agama Cak Ainun Najib, yang terkenal sebagai Kiai Kanjeng, dan budaya bermain petasan ketika bulan Romadhon, dan Idul fitri juga sejenis Alkurturasi Budaya Tiong Hoa Cina dan Jawa islam.

Pagi tadi adalah kebangkitan dan hari dimana refleksi setelah hari kelahiran Pancasila pada tanggal 1  Juni 2017 kemarin dan di lanjutkan Hari ini Jum’at tanggal 2 Juni 2017 telah di kibarkan bendera ASEAN yang dihadiri dari utusan beberapa negara ASEAN, bendera di kibarkan di bagian selatan Ringin Contong, dan ditetapkan sebagai Taman ASEAN.

Jombang sangat mendukung sekali terhadap keharmonisan hidup beragama, dan banyak sekali para negarawan dan orang-orang yang terkenal lahir di Jombang, bahkan seorang Presiden juga terlahir di Jombang yaitu Presiden Gusdur, budayawan kondang dan negarawan Nur Cholis Madjid dan Cak Nun, pejuang terkenal dan pembesar NU juga dari Jombang yaitu Kiyai H. Hasyim Asyari.

Santri Jombang dan ASEAN, terkesan sekali kalau ASEAN dan santri tak mengharapkan adanya terorisme dan pembantaian masal meskipun dengan isu SARAH. Demikianlah cerminan hidup dan kehidupan Jombang dengan segala daya tariknya. Sunguh tertegun ketika di kibarkan bendera ASEAN pagi ini, di depan masyarakat Umum dan para tamu undangan.

Keberagaman hidup yang serasi dan selaras adalah bentuk integrasi kedaerahan, dan integrasi bangsa yang perlu untuk di jaga, sikap warga Jombang yang bersifat terbuka dan ramah menjadikan pesona kelembutan kota cantik bersimbol ijo dana bang, ini bisa terlihat banyak santri yang dari luar negeri yang menuntut ilmu di kota Jombang bahkan mereka yang tidak biasa di negaranya mengunakan sarung dan Peci di Jombang Mereka mau mengunakan pakain ciri Khas santri Jombang.

Gereja dan masjid dikota Jombang bisa di bangun tidak jauh jaraknya, tetapi tidak pernah dikenal dan terdengar ketegangan pengeboman dan genjatan senjata, dan baku hantam dan Khutbah tak pernah menyinggung umat beragama, memang selayaknyalah jika Jombang mendapatkan momen yang berharga ini dikibarkan bendera ASEAN di Kota ADIPURA.

ADIPURA juga di peroleh kota santri ini sebagai kota yang bersih, indah dan nyaman, ternyata ke arifan lokal di Jombang ini juga masih ada yang mempertahankan, misalnya budaya saling sapa, santun, dan saying, juga terjaganya beberapa tempat bersejarah seperti bangunan pendopo Kota Jombang yang terkesan Jawa, Bangunan Pesantren yang berkesankan ke arifan, bangunan Gereja dan Pure serta Kelenteng, tetep berdiri dan tidak dirusak.

Taman – taman kota yang sekarang sedang di bangun oleh perintah kota Jombang sebagai sarana dan prasarana tempat hiduran, dan tempat berinteraksi antara masyarakat dari berbagai golongan, dan melepas lelah dan ketegangan-ketegangan dalam keluarga dan pekerjaanya, sehingga ketegangan dapat di netralisirkan dengan berjalan-jalan dan makan bersama di sekitar taman kota sebagai tempat rekreasi.

Andong tak di pingirkan sebagai alat transsportasi dan hiburan bersama keluarga dan anak anak ternyata bisa memunculkan budaya Jawa terlihat dari keretanya, dan adanya keharmonisan yang indah karena transportasi mobil tak mengeser mereka dalam mencari makan yaitu kusir andong, dan memunculkan semangat persatuan dan kesatuan juga dengan andong karena mereka bisa naik andong bersama – sama baik yang kaya yang miskin yang berbeda agama juga demikian dan terjadilah saling mengobrol dan menetralkan suasana.

Andong ini salah satu transportasi yang menarik di Jombang kota santri dan terletak di beberapa taman kota di Jombang, yaitu taman Kebon Rojo, Alun-Alun Jombang, ternyata ciri khas yang paling indah di Jombang ini adalah kebersamaan dan di tempat alun-alun masyarakat bisa berkumpul dan mengadakan silaturahmi.

Harmonisasi menghilangkan perbedaan dan konflik ketegangan perlu untuk di jadikan rujukan dalam mengatasi isu anti terorisme, dan pengeboman, yang memalukan sebagai bangsa bermartabat. ASEAN akan menjadi ikon yang tak mudah dihapus dari kota santri.