Kekerasan seksual bukan kasus yang ecek-ecek. Kekerasan seksual adalah kasus besar yang sering kali terjadi di sekitar kita.

Tidak hanya sepuluh atau dua puluh kali, tapi sangat sering. Korban mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual, seperti pelecehan seksual, pencabulan, dan pemerkosaan.

Melihat konteks Indonesia, dalam sebulan saja kita mendengar banyak kasus kekerasan seksual, seperti kasus Agni, seorang mahasiswa di Yogyakarta. Meski kasusnya terjadi pada akhir 2017 lalu, namun sampai sekarang masih belum menemui titik terang. Kemudian ada BN, seorang guru yang mengalami pelecehan seksual di instansi pendidikan oleh atasannya sendiri di Nusa Tenggara Barat, bahkan berujung penjara.

Menurut Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Catahu Komnas Perempuan) 2018, tren kekerasan seksual dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Perkosaan, pencabulan, dan eksploitasi seksual menjadi tiga jenis kekerasan seksual yang paling banyak terjadi pada rentang 2016-2017. Tetap, mayoritas korban adalah perempuan.

Kita perlu menggarisbawahi bahwa data terkait kekerasan seksual yang ada dan tersebar hanyalah data berdasar laporan dari korban. Data tersebut belum mengakomodasi kemungkinan jumlah kasus kekerasan seksual lebih besar yang tidak dilaporkan karena berbagai sebab.

Kekerasan seksual tak hanya berdampak kepada korban saat itu juga. Ada banyak sekali efek jangka panjang bersifat snowball effect yang akan dialami oleh korban. 

Secara psikologis, korban akan mengalami trauma akibat kekerasan yang dia alami. Pun, kekerasan seksual terhadap perempuan juga akan menciptakan masalah baru seperti kehamilan yang tidak diinginkan, paparan penyakit kelamin, sampai pendidikan yang terbengkalai.

Meski data sudah berbicara dengan benderang bahwa korban kekerasan seksual tidak baik-baik saja, masih banyak masyarakat menganggap kekerasan seksual bukanlah kasus yang menjadi prioritas. Pun, masih banyak sekali masyarakat yang malah menyalahkan korban terkait kekerasan seksual yang dideritanya.

Victim Blaming, Salah Satu Penyebab Korban Enggan Melapor 

Jika kita cermati, setiap ada kasus kekerasan seksual yang blown up oleh media, selalu saja ada pihak yang menyalahkan korban. Ketika Lembaga Pers Mahasiswa Balairung Universitas Gadjah Mada memberitakan kasus kekerasan seksual yang dialami Agni, bahkan tak hanya masyarakat awam yang menyalahkan korban yang dianggap tak punya harga diri, namun pejabat kampus yang memiliki posisi strategis juga melakukan hal serupa. 

Pun, BN yang menjadi korban pelecehan seksual di instansi pendidikan oleh atasannya sendiri, justru dipenjarakan karena melapor.

Sikap masyarakat yang terus-menerus menyalahkan korban kekerasan seksual menjadi salah satu alasan korban enggan melaporkan kejadian yang menimpa dirinya, yang turut berkontribusi menyembunyikan berbagai kasus kekerasan seksual yang jumlahnya lebih besar. Korban akan berpikir berkali-kali untuk melapor kepada pihak berwajib. Bagaimana bisa leluasa melapor jika masih disalahkan dan kinerja pihak berwajib begitu lamban bak siput berjalan?

Pun, korban takut mendapat stigma negatif setelah melaporkan kekerasan seksual yang menimpanya. Masyarakat tetap akan melihat korban sebagai subjek yang ‘tidak utuh’ karena sudah diperkosa. Korban masih dianggap turut bertanggung jawab terhadap apa yang telah dia alami. 

Belum lagi ujaran yang meremehkan seperti “Kamu kok lebay, begini saja kok lapor”, “Makanya, hati-hati kalau jadi perempuan”, “Sudah tahu tidak aman, kok masih pulang malam?”, “Jangan mengumbar auratlah. Nanti laki-laki pada nafsu”.

Kekerasan seksual masih dianggap sebagai urusan pribadi yang tak boleh dicampuri. Menurut Susan Blackburn dalam buku Women and The State in Modern Indonesia (2004), masyarakat Indonesia masih bersikap ignorant terhadap kekerasan seksual yang terjadi. Mereka menganggap bahwa kekerasan seksual hanya ada di dunia Barat. Akibatnya, korban kekerasan seksual menginternalisasi masalahnya dan enggan menyebarkannya kepada publik.  

Selain itu, budaya patriarki juga turut memberi andil kepada pandangan masyarakat terhadap kekerasan seksual. Meminjam istilah De Beauvoir, perempuan dianggap bukan sebagai subjek yang dapat menentukan ‘kebebasan’ sendiri, namun perempuan adalah seorang ‘liyan’, berbeda dengan laki-laki yang dianggap sebagai subjek absolut. De Beauvoir menyebut status ‘liyan’ atau ‘other’ dari perempuanlah yang membuatnya mengalami penindasan.

Laki-laki yang Mengalami Insekuritas

Padahal, kekerasan seksual sama sekali tidak berhubungan dengan pakaian apa yang dipakai korban atau jam berapa dia keluar rumah. Kekerasan seksual terjadi karena adanya niat pelaku untuk berbuat jahat, dimulai dari otak di pelaku itu sendiri. Ketika praktik interaksi tidak by consent, maka di situlah kekerasan seksual tercipta.

Menurut Simone de Beauvoir dalam artikel Gadis Arivia berjudul Filsafat, Hasrat, Seks, dan Simone de Beauvoir yang dikompilasi dalam buku Subyek yang Dikekang (2013), laki-laki sebenarnya memiliki ketakutan terhadap perempuan. Bukan karena ketidakberdayaan, namun karena ketidakpercayaan dan juga rasa benci. Hal tersebut yang membuat laki-laki menjadi misoginis.

Budaya patriarki membuat laki-laki berusaha sekuat tenaga untuk terlihat lebih tinggi daripada perempuan. Laki-laki harus seorang sosok yang maskulin dan bisa menjadi teladan bagi perempuan. Jika ada perempuan yang ‘lebih’ daripada laki-laki, maka laki-laki kalah. Paradigma patriarki seperti itulah yang membuat laki-laki hanya memandang perempuan sebagai objek.

Sikap yang terus menyalahkan perempuan korban kekerasan seksual merupakan bentuk pembelaan diri dari insekuritas laki-laki. Menurut Felicia Pratto dan Angela Walker, legitimasi laki-laki sebagai pihak yang dominan menjadi salah satu faktor utama untuk melanggengkan ketidaksetaraan gender di masyarakat (The Psichology of Gender, 2004). Jika victim blaming masih terus dilakukan, saya takut wacana kesetaraan gender sulit dicapai dalam waktu dekat.