Pagiku menikmati kopi instan dan memandangi anggrek Cymbidium Golden Boy dirusak sebuah pesan di gawai. Bukan main-main, ini pesan dari orang penting.

"Mas, mau minta tolong. Bapak ingin ada wawancara beliau seputar pilpres. Ini terkait dengan temuan surat suara yang sudah dicoblos," pesan datang dari Opik, teman lama yang sekarang mengabdi kepada capres nomor 02.

"Jam berapa dan di mana?" tanyaku.

Dia lalu menyebutkan sebuah tempat dan jam. Hmm, sebuah tempat tersembunyi untuk ukuran kota Semarang. Orang tak menduga jika itu merupakan pusat perencanaan strategi pemenangan Pilpres.

"Kenapa harus saya? Saya lagi malas urusan dengan politik," jawabku.

"Karena bapak membaca tulisan Mas di Qureta. Bapak juga percaya dengan media itu, lebih daripada media lain," ia menjawab.

Ini jawaban khas penjilat agar permintaannya diluluskan. Tapi tak apa karena saya juga penasaran dengan apa yang hendak disampaikan.

Sejam sebelum waktu yang disepakati, saya sudah meluncur. Menyusuri kepadatan lalu lintas Semarang, hingga akhirnya saya membelok sebuah gang kecil. Tepat di ujung gang itulah rumah tujuan saya.

Sebuah rumah cukup besar dengan halaman luas dan pagar tertutup yang tingginya tiga kali tinggi badan saya. Pohon palem raja dan pucuk merah berselang-seling di kiri-kanan jalan dari gerbang menuju teras.

"Selamat pagi. Wah sudah tak tunggu, mas," sapa sosok berwibawa itu.

"Selamat pagi juga. Maaf saya telat, tadi harus ngurusi kucing-kucing liar yang rutin minta makan," jawabku.

"Nggak papa, mas. Santai saja. Kebetulan saya juga khusus menjadwalkan hari ini ketemu sampeyan, kok," jawabnya.

Sungguh ini Prabowo yang berbeda dengan yang saya bayangkan. Prabowo yang orasi sambil nggebrak podium, Prabowo yang sering dicitrakan pemarah. Ini sosok yang sangat ramah. Sesaat saya izin ke kamar kecil untuk tes apakah saya mimpi. Jika mimpi, pasti ada yang hangat karena ngompol.

Usai dari kamar kecil, saya tak merasakan kalau ngompol. Ah, jadi ini nyata. Segera saya hapus beberapa foto yang tak penting. Ini momen langka, saya akan berfoto dengan Prabowo.

"Baik, pak, langsung saja ke materi wawancara. Apa rencana bapak setelah ada temuan surat suara yang sudah dicoblos itu?" tanyaku.

"Ah, itu tak penting. Kita sarapan dulu saja. Saya punya menu spesial, nasi goreng dengan telur. Pak SBY saja sampai mengirim intelijen sekadar ingin tahu makanan favorit saya," katanya.

Prabowo berdiri. Kami lalu masuk ke ruang makan. Aroma cokelat pengharum ruangan membangkitkan selera makanku. Sambil makan, kami bercerita banyak.

"Saya tidak percaya kalau Pak Jokowi akan curang. Berkali-kali saya bilang, Pak Jokowi itu orang baik. Tapi sebagaimana watak kekuasaan, ia akan selalu dikelilingi orang-orang yang sarat kepentingan. Nah itu yang saya lawan," kata Prabowo.

"Sudah sempat telepon Pak Jokowi?" tanyaku hati-hati.

"Sudah. Justru begitu mendapat laporan, saya langsung menelepon beliau. Serius beliau ini orang baik. Kalau tak baik, mana mungkin ia saya dukung penuh dari Solo ke DKI," katanya.

"Terus, analisis Pak Prabowo apa?" tanyaku.

"Ya, saya menduga ini kompetisi para caleg dari dua partai berbeda saja. Saya tak mau berspekulasi, tapi sesungguhnya para caleg itu sedang membantu masyarakat di Malaysia. Jadi warga negara kita tak perlu repot mengirim pos, tak perlu repot menunggu TPS keliling. Mereka sudah dibantu mencoblos. Baik hati, bukan?" katanya.

Saya merasakan ini sebuah sindiran. Dengan berani saya menatap matanya untuk menangkap jika ada gurat-gurat kekecewaan. Tapi ketulusan yang terpancar di sana.

"Jangan tatap saya seperti itu. Saya serius. Bahkan akhirnya saya dan Pak Jokowi sepakat mendukung Davin Putra Kirana. Ini nggak main-main. Saya siap melepaskan sebagian kecil kekayaan saya untuk membiayai pencalonannya," kata Prabowo.

Ia menghela nafas panjang. Entah itu kode apa. Nasi goreng di depannya tinggal sedikit, tapi kuning telurnya masih utuh.

"Semalam saya diskusi panjang dengan Pak Jokowi. Dan kami sampai pada sikap yang sama, yang akan kami sampaikan saat debat terakhir capres nanti, sebagai closing statement," katanya.

"Jika tak keberatan, bolehkah saya mendengar bocorannya?" tanya saya kemudian menyeruput cokelat hangat yang disajikan.

Prabowo bangkit. Ia menutup pintu dan jendela ruangan. Mengambil sebuah remote control dan mematikan entah apa. Yang jelas hanya ada bunyi-bunyi tuts...tuts...setelah remote control itu dipencet.

Ia kembali duduk di depan saya, mematikan lampu ruangan juga dengan remote. Rumah ini, meski di gang sempit sudut Kota Semarang, ternyata perangkatnya sangat elektronis dan canggih. Inilah smart home.

"Saya dan Pak Jokowi akan mundur dari pencalonan presiden. Kami berdua malu dengan perilaku pendukung-pendukung kami di tingkat elite. Mereka mengadu domba rakyat, menebar fitnah, bahkan sudah sistematis. Surat suara yang sudah dicobolos itu sebenarnya fitnah untuk kami berdua," kata Prabowo bisik-bisik.

Suasana sangat gelap, saya tak bisa melihat ekspresinya. Tapi nada suara dan timbre suaranya jelas berubah.

"Fitnah gimana?" tanyaku bisik-bisik pula.

"Jelas. Jika itu sampai ke publik, nanti elite pendukung Pak Jokowi akan menjilat Pak Jokowi dengan menyebutkan bahwa itu ulah tim 02 untuk mendeligitimasi pemilu. Sementara pendukung saya juga akan langsung menuding bahwa itu atas perintah Pak Jokowi. Padahal kami berdua baik-baik saja. Makanya, daripada saya dan Pak Jokowi benar-benar putus persaudaraan, kami berdua memilih mundur. Bukan begitu, Pak Jokowi?" bisknya.

Terdengar langkah kaki mendekat. Setelah dekat, ada suara yang menyerupai bisik juga.

"Benar, mas. Saya akan mundur dari pencapresan. Saya dan Pak Prabowo sepakat tidak ingin mencederai demokrasi karena ulah elite pendukung-pendukung kami," suara bisik ini sangat mirip dengan suara Jokowi.

"Lalu bagaimana dengan kampanye emosional Pak Prabowo, gaya merakyat Pak Jokowi selama ini?" tanya saya.

"Itu, kan, cuma akting. Masyarakat kita ini butuh hiburan. Makanya kami berdua menawarkan hiburan dengan karakter berbeda. Kami sepakat Pak Jokowi memerankan yang populis rendah hati dan saya memerankan karakter populis yang emosional. Sebenarnya kami berdua sedang saling menyindir orang-orang di sekitar kami," bisik Prabowo.

"Lalu pilpres, apa akan gagal?" tanya saya.

"Nggak. Nggak seperti itu. Kami berdua hendak mendesak KPU mengganti capres dengan calon tunggal. Davin Putra Kirana. Ia, kan, sangat milenial. Wajahnya saja mirip artis Korea. Bapaknya juga kaya," bisik Prabowo.

"Benar. Saya merasa sia-sia tampil ala Dilan, jadi vlogger. Kalah jauh sama Davin. Jadi biarlah kami yang tua-tua ini ngalah," bisik Jokowi.

Secara bergantian, mereka berdua kemudian menjelaskan bahwa nanti Davin Kirana akan menjadi calon tunggal pilpres. Lawannya adalah kotak kosong. Surat suara yang sudah telanjur dicetak akan diusahakan dimanfaatkan.

Jokowi siap menanggung biaya operasional KPU untuk pilpres dadakan ini. Prabowo siap menanggung pencetakan superkilat beserta distribusi surat suaranya. Sedangkan elite-elite pendukung keduanya akan diberi pekerjaan baru.

Elite pendukung Jokowi menyiapkan pidato kemenangan Davin; elite pendukung Prabowo menyiapkan pidato kemenangan kotak kosong jika Davin kalah.

Kepalaku pusing. Ini sudah tak masuk akal.

"Nanti tulis saja apa adanya, mas. Kami tak keberatan," bisik suara yang mirip Jokowi.

Byar. Lampu menyala. Kupandangi dua sosok di depanku. Satu bertubuh gempal dengan aura pensiunan seorang jenderal. Satunya bertubuh ceking dengan baju lengan panjang.

Kepalaku pusing. Tercium bau busuk luar biasa. Kuraba hidungku.

"Kurang ajar. Cicak berak sembarangan," dampratku.

Rupanya aku benar mimpi. Tapi kok nggak ngompol, ya? Jangan-jangan...... ah sudahlah.