Industri Sawit dan Kertas Merebut Lahan Hutan

Ekonomi Indonesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi yang terbesar di Asia Tenggara dan terbesar di Asia ketiga setelah Cina dan India. Ekonomi Indonesia juga menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-16 dunia yang artinya Indonesia juga merupakan anggota G-20. 

Sesungguhnya dari manakah kekuatan ekonomi Indonesia berasal?

Perekonomian Indonesia berkembang dengan pesat akibat beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah perindustrian. Kegiatan industri yang telah dilakukan, baik itu upaya dari pemerintah maupun pelaku usaha (swasta), memberikan kontribusi yang besar kepada perekonomian negara. 

Saat ini, salah satu industri yang menjadi kekuatan Indonesia adalah industri sawit dan kertas. Kedua industri tersebut juga memberikan pemasukan devisa negara serta melancarkan Indonesia dalam melakukan kegiatan ekspor.

Namun, permasalahan utamanya adalah makin menipisnya lahan hutan diakibatkan kegiatan industri sawit dan kertas. Lalu pertanyaannya, akan sampai kapan Indonesia seperti ini? Bagaimana nasib hutan Indonesia ke depannya? 

Pemerintah dapat mengetahui dengan jelas bahwa industri sawit dan kertas akan melahap banyak lahan di Indonesia dan mengurangi jumlah hutan. Namun, tidak ada kebijakan yang ampuh dalam mengatasi masalah ini.

Secara harfiah, industri kertas adalah industri yang mengolah kayu sebagai bahan dasar untuk memproduksi kertas, baik kertas kardus, karton, kertas tulis, dan sebagainya. Pengertian tersebut sangat kaku sehingga membatasi pola pikir kita mengenai bahan baku pembuatan kertas yang hanya berasal dari kayu.

Padahal apabila dilakukan sebuah penelitian pasti akan menemukan formula lain yang dapat dijadikan bahan baku kertas. Masalah inilah yang menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Kepentingan industri yang juga mengedepankan kelestarian lingkungan membuat pemerintah dilema akan hal tersebut.

Di sisi lain, pemerintah sangat merasakan dampak positif dari adanya industri kertas, yakni terpenuhinya kebutuhan dalam negeri dan dapat menjadi tambahan devisa negara. Sementara dampak negatif yang menjadi kekhawatiran adalah tentang bahan baku pembuatan kertas, yaitu kayu.

Penggunaan kayu secara terus-menerus sebagai bahan baku kertas dapat menimbulkan habisnya pohon di hutan apabila terjadi banyaknya permintaan akan produk kertas. Saat ini, hal tersebut telah terjadi secara nyata. Menurut laporan WWF Living Forest Report, ada lebih dari 170 hektare hutan akan hilang pada tahun 2010-2030.

Selain itu, data yang diperoleh dari Menteri Kehutanan pada tahun 2011 mengatakan bahwa deforestasi di Indonesia pada tahun 2000 - 2010 mencapai sekitar 1,3 juta hektare setiap tahunnya. Lalu, pada tahun 2016 - 2017, deforestasi di Indonesia sempat dikatakan mengalami penurunan.

Banyak orang berpikir bahwa produk kertas merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari sebagai alat dan fasilitas dalam belajar, bungkus peralatan atau kardus, dan lain sebagainya. Mengingat pentingnya peran kertas dalam kehidupan sehari-hari menjadikan sulitnya mengurangi penggunaan kayu sebagai bahan baku.

Di sisi lain, industri sawit juga turut berkontribusi terhadap pemasukan devisa negara. Bahkan bisa dikatakan bahwa para pengusaha Indonesia kebanyakan adalah para pengusaha dari industri kelapa sawit.

Industri sawit Indonesia berhasil menguasai pasar dunia. Berdasarkan data BBC Indonesia 2016, dari 59,6 juta ton produksi minyak sawit dunia pada 2014, sekitar 31,3 juta ton atau 52% dihasilkan dari Indonesia.

Sementara itu, industri kelapa sawit juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengingat terdapat sekitar 42 juta orang yang terlibat di dalam industri tersebut. 

Sementara itu, seperti yang kita tahu bahwa dalam membuka lahan kelapa sawit untuk kegiatan industri, diperlukan pembukaan lahan hutan. Hal ini menjadi perdebatan yang selalu muncul dalam masyarakat tentang bagaimana nasib hutan Indonesia apabila hutan selalu menjadi korban untuk perindustrian kelapa sawit.

Mengapa Hutan Masih Dipertimbangkan?

Hutan Indonesia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Kalimantan dan Papua. Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan.

Ini merupakan satu prestasi membanggakan mengingat hutan merupakan salah satu pendukung yang sangat penting bagi keseimbangan alam. Hutan tropis di Indonesia juga menyimpan banyak potensi energi mikrobiologi yang sangat diperlukan dunia.

Indonesia dikaruniai banyak hutan tropis yang sangat luas dan beragam keanekaragaman hayatinya. Puluhan juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup dan mata pencahariannya dari hutan, baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka atau bekerja pada sektor industri pengolahan kayu.

Di sisi lain, hutan tropis ini juga merupakan habitat flora dan fauna yang kelimpahannya tidak tertandingi oleh negara lain dengan ukuran luas yang sama. Bahkan, sampai sekarang, hampir setiap ekspedisi ilmiah yang dilakukan di hutan tropis Indonesia selalu menghasilkan penemuan spesies baru.

Indonesia merasa sangat bangga atas kekayaan hutan yang dimiliki. Namun, industri juga sangat penting untuk perekonomian. Bagi pemerintah, kontribusi industri sawit dan kertas tentunya lebih menguntungkan dibandingkan Indonesia yang hanya mengandalkan hutan saja.

Begitu pun sebaliknya, pemerintah juga tak bisa terus-menerus merusak hutan demi kemajuan industri negara. Pemerintah benar-benar dilanda dilema.

Sebuah Alternatif Baru Telah Muncul

Untuk mengatasi permasalahan ini, banyak generasi muda dan para peneliti mulai mencari sumber lain dalam pembuatan kertas selain dari kayu. Maka, untuk menyikapi hal tersebut, diperlukan sebuah bahan yang memiliki fungsi sama dan memiliki dampak yang lebih sedikit mengenai kerusakan lingkungan.

Solusi atau bisa dikatakan inovasi tersebut sudah ditemukan, yaitu dengan menggunakan nata de coco dari air kelapa, nata de soya dari limbah produksi tahu dari kedelai, atau nata de pina dari limbah nanas sebagai bahan baku kertas. Penelitian tersebut telah dilakukan oleh peneliti bioteknologi Institut Pertanian Bogor (Kompas, 1 Oktober 2011).

Alternatif lainnya, yaitu bambu. Bambu bisa dijadikan salah satu bahan alternatif pengganti kayu. Bambu disinyalir sebagai bahan ramah lingkungan karena mudah ditanam, terurai, efisien, ramah lingkungan, dan dapat memproduksi kertas yang cukup halus, lebih halus daripada kertas daur ulang.

Keberadaan bambu sebagai bahan baku pengganti kayu juga dipercaya dapat menghemat sekitar 27.000 penebangan kayu di hutan. Sangat keren, bukan?

Selain kedua hal tersebut, saat ini pemerintah juga mulai mengembangkan tandan kosong sawit untuk digunakan sebagai bahan pembuatan kertas. Kementerian Perindustrian telah melakukan penelitian dan pengembangan potensi tandan kosong sawit sebagai bahan baku mendukung industri pulp dan kertas.

Kementwrian Perindustrian juga mengungkapkan bahwa daya saing industri pulp dan kertas Indonesia di kancah internasional cukup terkemuka, di mana industri pulp menempati peringkat ke- 10 dan industri kertas di posisi ke-6 dunia, sementara di Asia menduduki tangga ke-3 untuk industri pulp dan kertas.

Oleh karenanya, inovasi-inovasi harus terus dikembangkan agar mempertahankan pencapaian Indonesia di kancah internasional, baik dalam segi perekonomian maupun kelestarian lingkungan. 

Apabila Indonesia bisa menerapkan inovasi-inovasi tersebut, Indonesia akan mampu memajukan perekonomian di bidang sawit dan kertas tanpa harus mengurangi dan merusak hutan.

Referensi