Ingar bingar tahun politik sudah semakin terasa di penghujung tahun ini. Berbagai media, baik cetak maupun elektronik, berbondong-bondong memberikan pemberitaan terkait isu pilpres yang semakin dekat. Bahkan intensitasnya bisa seperti waktu makan kita, tiga kali sehari. Sungguh luar biasa.

Keseruan aroma politik memang sejak jaman dahulu. Ketika saya masih kecil pun sudah sangat ramai. Sejak kecil saya sudah familiar dengan nama-nama beken macam Gus Dur, Wiranto, Soeharto, Megawati, SBY, Habibie, dan masih banyak lagi, hingga bermuara pada dua capres yang bertarung tahun ini, Prabowo dan Jokowi.

Jika ditarik mundur ke belakang, mayoritas bahkan hampir semua politisi yang sibuk wira-wiri di arena ini adalah beliau-beliau yang berusia di atas 35 tahun. Cukup senior sekali dibandingkan sebagian besar warga negara Indonesia yang notabene adalah para generasi muda.

Lantas apakah bisa sejalan segala pemikiran beliau dalam mengambil sebuah kebijakan dengan pemikiran generasi muda di era modern ini? Mungkin memang ada beberapa politisi yang masih memperhitungkan itu dan bisa "menjadi muda" kembali untuk merangkul milenial. Selebihnya, sudah tidak bisa relevan dengan pemikiran generasi muda bangsa ini.

Memang tidak bisa dimungkiri, orang-orang yang berkecimpung dalam dunia politik mayoritas memang mereka yang sudah berumur dan malang melintang dengan segudang pengalaman. Politik negara ini yang memang terkesan kurang kondusif mungkin menjadi salah satu ketidakmauan para pemuda terjun ke ranah tersebut.

Milenial akan lebih memilih menyibukkan diri untuk fokus menyusun kehidupan yang baik dan jauh dari bidang politik. Mereka lebih memilih jalan sebagai dokter, entrepreneur, entertain, dan banyak profesi lain ketimbang menjadi politisi sebuah parpol, misalnya. Apakah seburuk itu citra politik dalam pandangan milenial?

Tidak dapat kita mungkiri bahwa memang dalam kancah politik ini ada anggapan bahwa anak muda kurang mampu bicara banyak di bidang politik dari generasi tua yang sudah duluan menjamahi dunia politik Indonesia. Namun apakah tidak mungkin para pemuda lebih baik daripada beliau-beliau yang sudah berumur dan berpengalaman? Bukankah muda-mudi bangsa ini memiliki jutaan ide kreatif dan semangat luar biasa juga untuk memajukan Indonesia tercinta ini?

Namun pada pilpres kali ini, para pemuda banyak diberikan kesempatan untuk ikut andil dalam kancah politik. Banyak politisi muda yang memiliki semangat tinggi dan berpikiran cerdas, lugas, serta inovatif. Salah satunya adalah Tsamara Amany Alatas. Sebagai salah satu pentolan PSI, yang katanya partai anak muda, Tsamara membawa angin segar dalam dunia politik Indonesia.

Tentu saja tidak hanya Tsamara saja, banyak bermunculan politisi muda yang tak kalah hebat dan memiliki kualitas dan masa depan cerah untuk memajukan bangsa kita ini. Namun kenapa saya memilih Tsamara? Siapa sih Tsamara? Yang jelas bukan karena sosoknya yang menawan sebagai seorang wanita modern yang cerdas dan cakap dalam berbicara.

Sentilan remeh-temeh senior politik di Indonesia, bahkan masyarakat luas, tidak sedikit yang menyentil Tsamara sebagai anak muda yang sok-sokan berpolitik tanpa jam terbang tinggi. Tahu apa sih dia? Begitulah kira-kira pandangan yang mengerdilkan peran salah satu generasi penerus bangsa ini. Sungguh bukan hal yang bijak jika kita menilai kemampuan seseorang tidak capable dalam bidang politik hanya karena dia masih berusia 22 tahun dan masih bau kencur di kancah politik.

Tsamara ini cukup berani dalam mengeluarkan statement dan kritikan-kritikan pedas untuk kubu paslon Prabowo-Sandi. Dia wanita yang tidak memiliki rasa takut. Tuturnya lugas, nada bicaranya tegas, tanpa keraguan dan penuh dengan keyakinan. Statement yang dia berikan, argumen-argumen yang ia lontarkan, sangat menunjukkan kualitas dia sebagai pemuda yang cerdas dan berpikiran maju.

Sosok Tsamara mau tak mau sudah menjadi properti panas untuk para pemburu berita di tengah ingar-bingar pilpres 2019 ini. Namanya kerap kali menghiasi kolom-kolom berita di media cetak maupun elektronik. Bahkan bisa dibilang Tsamara adalah cara baru dan oase di tengah gersangnya politik di negara ini. Sosok idola baru yang menginspirasi kaum milenial untuk turut andil menggeser senior yang mungkin sudah saatnya "pensiun".

Tsamara merupakan jalan para pemuda untuk mengikuti langkahnya yang mendobrak kemapanan politisi senior yang saya rasa memang sudah saatnya untuk pensiun. Kali ini, kamilah pemuda Indonesia yang meneruskan perjuangan-perjuangan mereka.

Munculnya Tsamara dan beberapa politisi muda lainnya seakan menghilangkan stigma bahwa pemuda Indonesia antipolitik. Sudah saatnya kita dukung Tsamara dan politisi-politisi muda lain untuk memajukan bangsa kita. Mereka masih berkobar, mereka masih terbakar, mereka bersih, mereka pantang menyerah. 

Jadi, sudah saatnya panggung politik kita isi dengan pemeran-pemeran muda bangsa. Dan bukan tidak mungkin, 2-3 tahun ke depan, ada Tsamara-Tsamara baru yang muncul dan menjadi masa depan cerah Republik Indonesia.