"Nurse, Dokternya pria atau dokter wanita?" Pertanyaan ini sering saya temukan setiap bertemu pasien. Banyak pasien orang Arab cenderung lebih nyaman diperiksa oleh dokter wanita. Asal dokternya wanita, tidak peduli dari negara Mesir, Sudan, India, atau negara lain di luar Saudi. Mereka merasa lebih terjaga privasinya. Padahal dokter pria pun tidak akan berani berbuat macam-macam.

Saya adalah seorang bidan yang saat ini bekerja menjadi asisten dokter spesialis kandungan di Kota Mekkah, Saudi Arabia. Dahulu budaya patriarki begitu kental di Saudi Arabia. Tapi, akhir-akhir ini eksistensi perempuan di luar rumah sudah mulai dilonggarkan oleh pemerintah Saudi. Banyak pekerja perempuan baik orang Saudi asli ataupun ekspatriat yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. 

Meskipun masih didominasi oleh kaum adam, kaum hawa dari berbagai negara, suku, dan budaya ada di Saudi Arabia. Sekarang perempuan dan keberagaman di Saudi Arabia sudah hal yang biasa. Ini yang saya pelajari selama dua tahun bekerja di Saudi Arabia.

***

Dari zaman dulu hingga sekarang keberadaan wanita yang mendominasi aktivitas kaum pria masih banyak diperdebatkan banyak kalangan. Misalnya saja tentang ibu pekerja versus ibu rumah tangga. Label-label seperti ini marak disuarakan oleh kaum hawa itu sendiri. Kemudian didukung dengan pernyataan kaum adam yang merasa tersaingi bila wanita terjun di dunia kerja.

Apakah salah bila wanita tetap eksis di luar rumahnya? Apakah salah bila wanita berpendidikan, pintar, dan berpikir kritis?

Tidak pernah terdengar cuitan tentang suami pekerja versus suami rumah tangga. Sabodo amat sepertinya bagi kaum adam mengurusi masalah pria. Entah karena wanita yang didominasi perasaan dan pria didominasi oleh akal dan pikiran sehingga wanita mudah terbawa suasana.

Bayangkan saja apa jadinya kehidupan tanpa adanya wanita cerdas dan berpendidikan? Wanita dan peradaban tidak akan bisa dilepaskan. Entah ia eksis di tengah keluarganya maupun di tengah masyarakat. Pada dasarnya wanita ada untuk menjalankan peran utamanya mencetak generasi penerus dan pendidik dalam keluarga. Dari rahimnyalah lahir calon-calon anak bangsa yang akan mengukir sejarah peradaban manusia.

Ada banyak profesi yang membutuhkan wanita-wanita hebat, cerdas, berpendidikan, dan berpikir kritis. Mulai dari menjadi perawat, guru, designer, bidan, dokter, penulis, dan lain sebagainya. Tidak heran bila wanita yang berpenghasilan dan mandiri merasa tidak membutuhkan pria lagi. Beda dengan pria mereka cenderung tergoda untuk memiliki banyak wanita ketika harta dan tahta ada ditangannya.

Di Indonesia dari sabang sampai merauke terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, ras, dan agama. Banyak perempuan-perempuan hebat yang berdiri di garda terdepan memberikan kontribusi yang positif kepada bangsa. 

Bukankah pahlawan-pahlawan dahulu juga banyak yang dari kaum wanita seperti Cut Nyak Dien, Marta Cristina Tiahahu, Dewi Sartika, dan R.A Kartini yang menunjukkan bahwa perempuan dan keberagaman tidak bisa dilepaskan. Kebhinekaan tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan.

Patriarki identik dengan dominasi kekuasaan yang menempatkan laki-laki pada kasta tertinggi kepemimpinan. Hal inilah yang akhirnya menempatkan perempuan berada di bawah kuasa laki-laki. Banyak perempuan tertindas dan terkekang karena adanya kaum patriarkis ini. Entah dalam lingkup keluarga maupun lingkup kemasyarakatan.

Tidak perlu jauh-jauh berkaca dari isu pelecehan seksual pada Pilwalkot Tangsel 2020. Lagi-lagi menempatkan wanita pada posisi sulit seolah-olah eksistensi wanita hanya untuk pemuas birahi kaum pria. 

Meskipun tidak spesifik menyebutkan nama, publik menyadari kepada siapa cuitan yang ramai di jagad twitter itu ditujukan karena Rahayu Saraswati, satu-satunya calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan yang berjenis kelamin perempuan. Inilah salahsatu contoh prodak patriarki yang merendahkan kaum wanita.

Saya bersyukur memiliki Bapak yang tidak menganut paham patriarki. Padahal profesi Bapak terkenal dengan didikan yang keras, tegas, dan disiplin. Beliau juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih menjadi wanita karir atau fokus menjadi ibu rumah tangga. 

Bapak mengijinkan saya bekerja menjadi tenaga kesehatan di Saudi adalah suatu bentuk kepeduliannya kepada masa depan anaknya. Mungkin tidak banyak orang tua seperti Bapak saya. Tapi, setiap orang punya hak untuk berpendapat dan memilih jalan hidupnya.

Dalam lingkup terkecil masyarakat, yang mudahnya kita sebut dengan keluarga. Ibu adalah seorang wanita dan juga seorang istri. Pendidikan awal seorang anak didapatkan dari seorang ibu. Segala macam perawatan anak dan suami serta makanan yang bergizi tidak terlepas dari peran seorang ibu. Dukungan besar untuk suami juga didapatkan dari sang istri. Baik wanita maupun pria saling membutuhkan satu sama lain. Inilah kesetaraan yang sebenarnya.

Menjadi kaya tentu saja keinginan banyak orang. Punya banyak uang dapat membeli apa saja termasuk membeli wanita. Tapi, wanita berpendidikan dan cerdas serta memiliki adab tidak akan mudah dibeli dengan uang. Mereka punya pilihan dan idealismenya sendiri. Tidak akan terjajah oleh kaum adam.

Belajar dari ibu Ainun, istri mendiang mantan presiden BJ Habibi. Apakah pak Habibi menyesal memiliki istri yang pintar dan berpendidikan? Justru ia merasa kehilangan pujaan hatinya ketika ibu Ainun meninggal dunia terlebih dahulu. Semua orang pasti tahu sejarah kisah cinta pasangan suami istri ini.

Pengorbanan besar dilakukan ibu Ainun dengan meninggalkan karirnya yang cemerlang demi fokus menjadi ibu rumah tangga menemani pak Habibi. Hebatnya, ibu Ainun terus membersamai dan mendukung karir suaminya. Menguatkan suami ketika berada pada titik lemahnya. Dibalik suksesnya seorang pria, ada wanita hebat yang menemani dan mendoakan, entah itu istri ataupun ibunya.

Apakah dari kisah Ibu Ainun dan Pak Habibi itu terlihat bahwa Ibu Ainun yang cerdas bisa membodoh-bodohi suaminya? Tentu tidak kan!

Kecerdasan kaum hawa di tengah masyarakat maupun di dalam keluarganya bukan untuk membodoh-bodohi pria. Sampai kapanpun eksistensi wanita akan terus dibutuhkan disetiap lini masa kehidupan. Bukankah sejarah awal permulaan manusia wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sebagai pendamping dan teman hidup?

Kesetaraan wanita dengan pria dalam kehidupan bukan menjadi bumerang untuk kaum kapitalis-liberalis mengeksploitasi wanita. Begitupun dengan para suami, sekalipun mereka punya andil besar atas hidup istrinya bukan berarti ia menjadi otoriter dan sewenang-wenang. 

Menjadi wanita cerdas dan berpendidikan patut diutamakan karena pendidikan utama seorang anak didapatkan dari ibunya. Bukan zamannya lagi wanita dijajah pria. Wanita dan Keberagaman saling mengikat satu sama lain mewarnai keindahan kehidupan berbangsa dan bertanah air.