Ia tidak bisa mengubah naskahnya, karena penulis skenarionya adalah Tuhan. Ia hanya si figuran tak penting yang kemudian menjalankan peran tak penting. Ia hanya sedikit sedih,  sedikit patah hati, dan sedikit galau. Namun sadar, perasaan metafora serupa sedih, patah hati, dan galau bisa demikian cepat membelah diri hingga kemudian memenuhi celah-celah kosong hati dan pikirannya.

Pernikahan adalah hal gila terakhir di dunia ini yang hanya akan dilakukannya jika benar-benar mendesak dan berurusan dengan nyawa. Ia tidak -atau mungkin belum-merasa butuh ikatan semacam itu. Selama masih ada lelaki bermata coklat itu menemani hari-hari absurdnya,  Ia merasa tak perlu memasuki institusi semacam pernikahan.

Kelak,  jika pernikahan benar-benar akan kejadian pada dirinya, hanya akan Ia lakukan dengan lelaki bermata coklat itu.  Lelaki itu adalah variabel mutlak. Tidak bisa diganggu gugat.

Namun semua planningnya amburadul, naskahnya berubah kacau, dan jalan ceritanya membelot. Pria bermata coklat itu,  satu-satunya variabel hal gilanya, satu-satunya opsi yang tersisa untuk melakukan hal gila itu, memilih menikahi gadis lain. Gadis itu biasa saja. Hanya terlihat sedikit cerdas tetapi menurut lelaki itu soleha. 'Soleha adalah faktor x yang penting' tambah lelaki bermata coklat itu. Ia menelan ludah. Sesuatu yang tidak Ia miliki. Bahkan hubungannya dengan Tuhan pun berjalan kurang akur, lantas bagaimana pula Ia mungkin mendapat predikat soleha.  

Undangan disebar. Kesibukan lelaki bermata coklat itu mengurus tetekbengek menjelang pernikahan membuat intensitas pertemuan mereka berkurang. Ia juga menerima undangan dalam bentuk digital. Dikirimkan ke semua inbox sosial medianya tanpa terkecuali. Lelaki itu juga menelepon, mengajak bertemu,  memberinya mandat menyebarkan undangan dalam bentuk cetak. Tidak cukupkah menyiksanya berkali-kali melalui inbox di semua sosial medianya?

Akhirnya, setelah lelah melawan ego, Ia mengamini pertemuan itu. Tigaratus lembar undangan dilungsurkan ketangannya,  untuk kemudian dibagikan kepada kenalan-kenalan mereka. Ia kemudian sadar satu hal lagi,  menyebar ratusan undangan ini bahkan lebih mudah berkali-kali lipat dibanding menata hatinya yang tak Ia duga bakal seberantakan ini. Ia tak pernah merasa jatuh hati pada lelaki itu. Eksistensi lelaki itu untuk selalu ada disisinya pada moment-moment krusial Ia anggap merupakan takdir yang telah ditetapkan Yang Mahakuasa untuknya. Sebuah kekeliruan fatal.  

Bumbu-bumbu kehancuran lainnya ialah reaksi-reaksi polos kenalannya yg kurang lebih sama ketika Ia memberikan undangan. 'Gue pikir, si mata coklat bakal nikah sama Lo' yang kemudian dibalasnya dengan senyum kecut.

Kesadaran berbuah penyesalan memang selalu menghampiri di saat-saat terakhir. Beberapa hari sebelum hari H, Ia memilih menemui lelaki bermata coklat itu. Mengemis sisa waktunya yg serba sedikit untuk mengobrol berdua saja seperti yang sudah-sudah. Moment yang dahulu sangat biasa sebentar lagi akan berubah langka. Pertemuan tersebut menyadarkannya akan satu dan lain hal. Mata coklat itu serupa rumah. Tempat ia pulang dari hingar bingar dunia yang sekarat. Dan kini ketika rumah itu tak lagi menjadi haknya,  Ia masih belum siap jadi tunawisma.

Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan satu kalimat pamungkas dari lelaki bermata coklat itu. Perihal  hati yang bukan tempat bebas untuk disinggahi ketika butuh, dan ditinggal pergi ketika sudah selesai urusannya. Hati harus memiliki tuan untuk menetap dan Ia mengerti maksudnya. Lelaki itu telah memilih tuannya dan Ia yang suka datang dan pergi sesuka hati, harus hengkang karena akan ada penghuni baru yang menetap. 

Hari H itu tiba juga. Tidak pernah Ia sangka kalau moment pernikahan yg begitu dipuja-puja sebagian besar umat manusia justru bakal seperti kiamat baginya. Saat seperti ini lah,  sekutu menjatuhkan bom atom yang fenomenal itu,  dan Ia adalah Hirosima atau Nagasaki yang menghitam dan tak lagi punya aroma kehidupan.

Ia sudah menangis semalam suntuk. Bukan tangisan kesedihan dan kehilangan melainkan tangisan kebingungan.   Bingung apakah saat inikah perayaan patah hati terhebat itu? Detik-detik ritual ijab qabul seolah penasbihan dirinya yang kehilangan si mata coklat. Seseorang yang selalu jadi objek pelampiasan cerita-cerita tak penting dan curhat absurdnya. Sangat tidak etis lagi, bercerita diwaktu-waktu gila tentang teori konspirasi dengan seorang pria beristri.  Ya, waktu-waktu si mata coklat untuknya resmi direnggut orang lain.

Ia memutuskan datang. Alangkah hebatnya menghadapi kiamat itu seorang diri. Ia tidak menyangka akan seberani ini. Melewati moment bersalaman, berfoto, menebar senyum palsu, bahkan mengucapkan 'semoga langgeng' kepada seseorang yang menghancurkan hatinya terasa demikian fantastis.  Selamat tinggal mata coklat. 

Awal September 2017

Fitriatee Koto