Kulirik tempe goreng tipis yang bersalut tepung itu. Tampak dingin, sepertinya sudah lama diangkat dari penggorengan. Tanganku masih menimang-nimang sebotol kecil air mineral, masih ragu, pilih ini atau minuman soda yang merah menyala itu.

“Berapa, Pak?”

“Sepuluh ribu,” jawab Bapak tua dengan pandangan waspada, beberapa orang juga memandang sama di ruang remang-remang membeku itu.

Langsung saja tersentak nalarku. Namun, cepat-cepatlah kutarik segala prasangka buruk atas harga sebotol kecil ukuran 600 ml air mineral yang di atas rata-rata itu.

“Tambah dua bungkus yang ini,” telunjukku menyasar ke rentengan serbuk minuman bervitamin C yang tergantung bebas, menggoda liurku yang sedari tadi dikoyak oleh rasa mual yang berkepanjangan.

“Berapa semua, Pak?” nalar matematisku mulai menghitung probabilitas harga yang tentunya akan melangit, seperti yang sudah-sudah.

Tanganku merogoh kantong, jemari mulai menggesek-gesek lembaran, menghitung dari dalam kantong.

“Dua puluh ribu.”

“Hmmm……,” dehemku lemah sekali, beriring tarikan nafasku yang hampir habis terkuras perjalanan kaki 5 jam, telusuri trek panjang dan terjal.

Logika mengatakan: air sebotol kecil itu tentunya tak cukup bertahan sampai pos 3 yang berjarak hampir 5 kilometer itu. Ini bukan jalan kampung Bung!

Ini trek pegununungan yang berkontur curam, naik-turun, terjal-landai, dan segala komponen ekstrem lainnya. Setelah kusodorkan lembaran seratus ribuan, tampak si Bapak menerima dengan ragu, mungkin sambil menghitung kembaliannya di luar kepala.

Tidak ada kalkulator atau alat hitung lainnya di warung tertinggi se Indonesia itu. Sepertinya kesulitan juga, si Bapak tua terlihat mengernyitkan dahinya--berpikir keras melakukan operasi matematika--subtraksi bilangan kardinal--seratus ribu dikurangi dua puluh ribu.

Tangan si Bapak tua sibuk mengoyak box chasier-nya yang terbuat dari kaleng plastik kusam. Entah sebagai pengalihan kesulitan menghitung kembalian atau memang uang kecilnya kurang.

Kuangkat kepalaku, nakal mengintip beberapa lembaran menggiurkan di dalam kaleng plastik itu. Andai punya beberapa dari yang menggiurkan itu, kutraktir teman-teman makan soto hangat atau apapun yang hangat di atas tungku yang terlihat menyala di pojok warung.

Beberapa menit kemudian, tangan si Bapak tua menjulur, kusambut dengan hati-hati agar uang kembalian yang tergenggam berantakan di telapak si Bapak itu tidak semburat. Kuhitung saja, sebab, sepeserpun sangat berarti di wilayah dan zona tak nyaman ini.

Dan, benar perkiraanku, kembalian salah pilih satuan, ada uang logam seratus rupiah yang seharusnya seribu rupiah.

“Pak, ini seribu,” protesku tenang.

Huh, aku jarang sekali memperhatikan kembalian kalau bertransaksi di dataran rendah, bertransaksi di koloni masyarakat normal. Kini, bak seorang akuntan, sepeserpun harus diaudit ketat.

Tiba-tiba datanglah separuh baya mendekati si Bapak Tua tadi, mereka bercakap dalam bahasa yang kurang kumengerti. Mimik wajah mereka kaku, mungkin terbentuk dari karakter iklim dan cuaca kawasan puncak Hargo Dumilah yang beku.

Akhirnya si Saparuh baya mengganti logam seratus rupiah-ku menjadi logam seribu rupiah. Lengkap sudah bekalku untuk turun ke pos 3, di mana tenda-tenda kami menanti. Sinar matahari siang itu cukup terik. Tapi, tetap saja hawa dingin menusuk-nusuk tulang tanpa ampun di ketinggian 3000-an meter di atas permukaan air laut itu.

Anomali suhu pasti terjadi di ketinggian. Pada bilangan 3000-an meter di atas permukaan air laut, yang semestinya secara logika makin mendekati matahari, pasti lebih panas dari suhu dataran rendah. Nyatanya, bisa pada level 10 derajat celsius.

“Hudy mana?” tanyaku enteng.

Tak seorangpun menjawab. Ketiga temanku hanya duduk di bangku depan warung yang katannya tertinggi letaknya di Indonesia itu. Mereka baru saja menziarahi puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu. 

Kemudian terhenti di sini, di warung yang harganya selangit tadi. Hudy, temanku yang jago naik gunung dengan kecepatan tinggi itu, hari ini, cidera. Lutut kirinya sakit, hingga jalannya mendekati pincang.

Oleh karenanya, kami menunggu di sini, warung tak bernama. Tak seperti warung di sisi lain, Mbok Yem; warung tertinggi lainnya yang sudah viral di media sosial.

Terkenal dengan tampang pemiliknya yang sama dengan bapak tua tadi, kaku jarang senyum: Mbok Yem yang retorikanya dinilai sebagai pemarah oleh kebanyakan pendaki.  

“Ayo, kami duluan saja,” tawarku sambil menahan pedih di perut. Beberapa teguk oplosaan air mineral dan serbuk bervitamin C--tak mampu menjinakkan keroncong perut--tak mampu menghilangkan rasa mual--tak mampu memberi efek dopping.

“Ardy, ayo kita duluan!” seruku sudah tak tahan pemberhentian ini. Kulihat, Fauzan dan Arif diam saja. Mungkin mereka menyesali tidak membawa air cukup banyak, hingga sampai detik itu hanya menatap kosong pipa air yang separuh terpendam di tanah.

Haus mencekik, kerontang; sekering informasi awal--ada pasokan air di Hargo Dumilah. Namun, tak setetespun didapat gratis, harus beli.

Tinggal pilih. berbotol-botol yang terjejer rapi di warung itu dengan harganya yang selanagit; beli yang curah non segel yang tentuya lebih murah harganya.

Perkiraan nakalku, yang curah; pasti dari sumber air Sendang Drajat yang katanya kering tadi. Monopoli?

Bau kemenyan mengiringi pemberangkatan kami berdua. Ardy di depan melaju turun di trek yang masih mulus-mulus saja. Wajar, jalanan setapak yang terawat karena berpenghuni.

Beberapa warung dan tempat peribadatan ada di sekitar Hargo Dumilah. Semerbak kemenyan membawa ingatanku, tadi, beberapa jam sebelum ini; di puncak Gunung Lawu yang berjuluk Puncak Hargo Dumilah; kulihat orang bersemedi di depan dupa wangi yang menyala.

Tak ada aroma magis lagi di puncak sakral itu. Beberapa pendaki sibuk mengambil gambar dengan berbagai macam piranti. Inikah yang namanya Suroan? Hari sakral yang bertepatan tanggal 1 Muharam kalender Hijriyah.

“Ardy!” seruku sambil menahan kencing.

“Tunggu dulu ,” tak tahan, langsung saja kuselesaikan hajatku di sebuah rerimbun. Tak lupa baca doa-doa agar tidak terjadi yang tidak-tidak.

Di gunung, semua kemungkinan bisa terjadi. Apalagi ini gunung yang disakralkan; yang dipersembahi; yang diberi kurban; yang sering meminta korban.

Ardy sudah hilang dari pandanganku, sepertinya ngebut berjalan. Kulanjutkan saja sambil menyulut sigaret keretek. Nikmat nian, dalam kebekuan, mulut terhangatkan. Panas uap tembakau bercampur cengkih, berasa melonggarkan pernafasan. Ini mungkin dopping yang kutunggu-tunggu tadi.

Lima menit kemudian sampailah di lembahan terbuka, Pasar Dieng namanya. Dulu di sini, sang paranormal, Ki Prana Lewu hampir terserang hipotermia; sebuah kondisi di mana panas tubuh menurun drastis akibat suhu dingin yang ekstrem, kelelahan, kelaparan, atau sebab lainnya.

Termasuk ketakutan yang berlebihan bisa menyukut hipotermia. Penderita akan menggigil hebat, halusinasi, hingga hanya diam saja, menanti kematian.

Tak ada yang istimewa siang itu di Pasar Dieng yang terkenal mistis itu. Area bervegetasi serofita ini cukup menarik Ki Prana Lewu bersusah payah naik gunung, tertarik dengan hilang misteriusnya sang korban yang tak kunjung ditemukan.

Dari kejauhan terdengar suara Radio komunikasi Handy Talky yang dioperasikan oleh Ardy. Sangat mudah sekali mengenali suara-suara di sepi Pasar Dieng, selain angin membantu menghantarkan gelombang bunyi.

Sepertinya Ardy sedang berkomunikasi dengan si Hudy yang cedera tadi. Pikirku, Ardy tak terlalu jauh dari posisiku. Kegembiraan lainnya, si Hudy masih dalam jangkauan gelombang radio, artiya tak terlalu jauh juga.    

Kuperkirakan formasinya sebagai berikut: Ardy di depan dengan jarak 200 meter; Fauzan dan Aris berjarak 100 meter; si Hudy 200 meter. Sebuah formasi turun gunung yang aman dalam sebuah pendakian di siang hari.

Iseng, kukeluarkan saja sebuah teleskop murahan, tapi mereknya mendunia. Sambil menghisap senti terakhir batang rokok, kudekatkan mataku ke lensa okuler teleskop. Kusapu saja kawasan Pasar Dieng yang tak angker di siang hari dengan bidikan teleskop.

Terhenyak, mata minusku mampu melihat itu. Bedegub, itu apa.

Berkelebat-kelebat dominan merah. Ku kejar saja dengan sudut pandang blur dari lensa palsu ini.

Goyangan kanan-kiri makin meyiratkan kengerian. Bayang itu seakan tercabik sisi cembung lensa. Aku telah mematahkan tangannya, memisahkan kepalanya, dan lainnya yang lebih ngeri.

“Ah, pasti pendaki lain.” Gumamku setengah ngeri.

Hal biasa, tempat-tempat agak terpencil, dan rimbun; pendaki sering menuntaskan hajatnya; kencing atau berak.

Pikiranku sedikit tergoda untuk membidiknya lagi. Sepertinya konstruksi bayangan itu tak wajar. Lengan baju yang panjang itu, sepertinya bebas dimainkan oleh angin, tanpa isi!

Kuangkat lagi teleskop, dan benar, ia hanya berdiri mematung, kedua lengan bajunya tanpa isi!

“Seperti maneken saja,” kumulai menebak-nebak.

Ya, maneken si boneka pajang seukuran manusia, yang sering dijumpai di etalase penjual pakaian.

Jarak nya cukup jauh, sekitar 200 meter dariku. Rasa penasaran yang tinggi, ego yang tanpa kadar lagi, ku menuju sasaran. Tak peduli lagi terik yang aneh ini, sebentar berasa panas, sebentar dingin menusuk tulang.

Begitulah ketinggian di atas 2000 meter dari permukaan air laut. Kau dekat dengan matahari, namun udara mendingin tak karuan. Pastikan, kulit-kulit tak terlindung akan cepat gosong. Tidak seperti si manaken tadi, ia berlengan panjang, tapi tanpa isi!

“Hudy!!” teriakku menggema panggil satu kawanku itu yang muncul tiba-tiba di jalur Pasar Dieng. Tampak terburu, dengan langkah tak stabil, cedera.

Kulambaikan tangan, agar tahu persis posisiku. Tampak Hudy mengerti, dan bergegas lebih cepat dari langkah cederanya tadi. Mungkin pikirnya, aku perlu bantuan. Tak ada konfirmasi teriakan khas, seperti: “ada apa?” atau kalimat lainnya.

Memang dalam keadaan payah ini, semua lebih banyak motorik, melangkah dan melangkah yang kadang tanpa pikir panjang. Komunikasi verbal sangatlah melelahkan. Itupun dengan nada tinggi emosional jika terjadi.

Sesi turun gunung memang akan banyak mengubah psikologis pendaki. Berbeda dengan sesi naik yang penuh harap, walau trek menanjak. Namun, ketika turun, ya, seperti penjelasan di atas, ibarat robot yang meluncur turun saja tanpa banyak celoteh.

“Bagaimana Hud?”

“Kita kejar saja!”

“Siap?”

“Siap!!”

Setelah kujelaskan, tanpa banyak tawar, Hudy mengikuti ku kejar si maneken misterius tadi. Trek malah curam menurun tajam. Beberapa kali kami terguling. Bayangan si maneken memicuh kami untuk terus bertahan di trek yang tak terduga ini.

“Kok parah gini treknya?”

“Lanjut saja, nanggung!”

Tiba-tiba dari belakang ada yang menerjang keras. Kami berdua ambruk, berguling hingga tersangkut koloni cantigi. Sesaat mataku berkunang, sepertinya membentur batu pelipisku, berdarah.

“Hudy????”

Tak ada jawaban, ah, dimana dia. Perlahan ku banhgkit, duduk melemas sambil usap sisa darah di pelipis.

“Merunduk!!”

Suara itu kukenal jelas, setengah berbisik tapi cukup terdengar telingaku yang ikut berdenging akibat benturan tadi.

“Merunduk!!!”

Hudy, ya, itu suaranya. Kuturuti saja, merunduk tanpa sebab dan alasan yang tak kuketahui. Ya, merunduk, seperti di film-film aksi itu, merapatkan tubuh serapat-rapatnya ke tanah.

Mataku menyapu pelan, huh, sialan, apa itu. Sekitar dua meter ada tulang kepala binatang, entah karnivora atau herbivora. Tampak sudah lama tergeletak, tulangnya putih bersih dari sisa-sia dagingnya.

Pada sapuan di putaran 90 derajat, kulihat sekilas Hudy duduk di rimbunan koloni cantigi. Begitu rapat koloninya, hingga yang kukenali warna baju si Hudy.

“Jangan bergerak!”

Ah, ada apa ini, Hudy menyuruhku diam tak bergerak. Perintahnya serius sekali. Ini bukan main-main, pikirku.

Tak lama kemudian, terdengar beberapa orang bercakap-cakap dengan nada tinggi. Kulihat tiga orang berpostur militer, bergegas menuruni trek curam tadi. Satu di depan menenteng senapan, duanya lagi, tampak terhuyung-huyung menggotong kantong mayat.

“Pesanan yang kita kirim sudah dibayar?”

“Sudah, total 40 juta!”

“Bagus!”

“Permintaan meningkat, broker fakultas itu makin gila saja.”

“Yang penting siapkan jebakan yang banyak saja.”

“Siap, bos!”

“Jangan lupa, tetap tunggangi operasi SAR mereka!”

“Siap, bos!”

Kucoba pahami alur percakapan yang makin menghilang suaranya itu. Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah. Sebuah batu andesit besar menghalangi pandanganku.

“Sini, merayap pelan!”

Ah suara itu lagi, kuturuti saja menuju kepadanya dengan merayap pelan bak latihan doppering ala militer. Sialan, serpihan beberapa tulang tajam hewan yang kepalanya kulihat tadi menggores lengan.

Dan begitu tersentaknya aku, ketika sudah dekat dengan rerimbun koloni cantigi itu, si Hudy duduk bersama si maneken tadi, dan sial, apa yang dipangku si maneken itu. Bungkusan yang sama dengan yang digotong orang-orang tadi!

“Mayat.”

“Apa?”

“Iya, itu mayat.”

Maneken itu tampak terisak, kini lengan bajunya sudah berisi. Tampak dipilin setengah, hingga terlihat kulit halusnya. Kini ku yakin ia manusia.

“Ada apa ini?”

“Nanti saja ceritanya, kita harus cepat bergerak keluar dari sini.”

Si maneken ternyata seorang perempuan, tepatnya pendaki cewek yang sudah tak karuan kondisinya. Beberapa bagian celana kargonya sobek, rambutnya kusam, dikuncir sekenanya.

Benar-benar tak tenang pikiranku, mayat, harga 40 juta, broker fakultas, senapan, operasi SAR, semua berkecamuk. Belum sempat melanjutkan analisis dan kalkulasi daya jelajah menggotong mayat yang dipangku si manaken tadi, sebuah pukulan mendarat tepat di belakang kepalaku. Dan, gelap……..

                                              ***************

Sierra - Romeo SRU 2 ganti/
Tango- Alpha SMC masuk, ganti/
Sierra - Romeo melapor Tim Lawu, ganti/
Dikopi Tango-Alpha lanjutkan, ganti/
Posisi dan koordinat  7º35’25” S 112º36’17”E, ganti/
Dikopi ,ganti!/
Sierra-Romeo out!/

Sayup-sayup kudengar komunikasi khas itu, remang-remang bayangan lampu bergoyang-goyang menggantung di atas kepalaku. Kulirik, beberapa sosok berseragam parakomando hilir mudik dengan tentengan senapan taktis.

Mana Hudy, mana si maneken, mana si mayat tadi? Pening sekali.........