Sering, ketika hendak membungkus kado, saya beserta istri saya membeli kertas pembungkus kado. Ada berbagai motif dari kertas kado tersebut. Ada bunga-bunga, batik, hingga pelangi, serta motif lainnya. Dari kertas kado itu pula, saya jadi memiliki memori tentang pernikahan, tentang kelahiran, tentang sesuatu yang specia. Dengan teman saya, pacar, hingga dengan anak-anak atau murid yang saya ajar.

Kertas pada akhirnya tak bisa dilepaskan dari kehidupan keseharianku. Di setiap bulan aku membeli tissue meski hanya beberapa. Aku membeli barang-barang yang dibungkus kertas seperti sabun, pepsodent, dan juga sabun. Tak hanya itu, buku tulis, paper bag, amplop, dan juga buku bacaanku.

Kertas, amat sangat dekat dengan kehidupanku. Melalui workshop Qureta (12-15 Desember 2017) kami belajar lebih lanjut tentang kertas. Kami diajak untuk mengunjungi perusahaan kertas terbesar di Indonesia Tjiwi Kimia.

Kami memasuki dunia pabrik. Dunia pabrik itu ketat, resmi, dan tentu saja diatur dengan peraturan yang rapi. Kami mendengar penjelasan panjang dari Pak Sugiyanto salah satu Kepala penanganan urusan tamu dari luar pabrik. Dulu, pabrik ini bermula dari pabrik kimia, baru di tahun 1978, enam tahun setelah pabrik kimia berdiri, berdirilah pabrik kertas Tjiwi Kimia.

Kami pun memasuki ruang pabrik yang luas, sistem bangunan yang tersusun rapi, terhubung dan terintegrasi antara pemadam otomatis, alat yang serba kompleks dan mesin yang bordering tak henti. Di depan mata saya muncullah ibu-ibu yang seperti naik sekuter ala Teletubis. Sekuter itu seperti mainan. Ibu-ibu itu seperti bermain kesana kemari, sembari lincah untuk menyusun buku-buku yang sudah dikemas sembari mengendarai sekuter ini kesana kemari, mondar-mandir.

Di saat saya berjalan, ada bapak petugas lengkap dengan helm seperti helm motor. Berpakaian biru, rapi, dan memakai sepatu. Sembari menerangkan kesana kemari, saya ikut serta dalam penjelajahan pabrik kertas terbesar di Indonesia ini.

Ekspor pabrik ini sudah menuju ke berbagai belahan dunia. Kini, karyawannya mencapai 7500. Jumlah yang cukup signifikan sekali. Setidaknya ribuan orang itu menggantungkan diri dari kerja di pabrik bersama Tjiwi Kimia.

Setelah mengamati para pekerja, sebenarnya saya hendak bersalaman dan ngobrol dengan penjaga mesin yang dilengkapi dengan alat pengaman pendengaran. Namun, waktu habis, dan para pekerja pun hampir istirahat.

Menjelang siang, kami diajak menuju Showroom. Di Show room ini pula terdapat berbagai contoh produk kertas yang diolah menjadi berbagai macam produk kertas seperti kuitansi bank, paper bag, kertas buku tebal, amplop, sampai dengan buku gambar dan berbagai jenis kertas yang digunakan sebagai pembungkus makanan. Ada peradaban yang saya lihat darisana. Hampir di setiap lini kehidupan, kertas tak bisa dipisahkan. Di kertas itu pula kita bisa menyimpan memori, dan biografi.

Memori dan Biografi

Kertas, sering mendekatkan kita pada aktifitas yang melingkupinya. Tapi jarang orang yang berfikir asal kertas itu. Karena itulah, orang sering lupa bahwa menanam pohon atau meruwat pohon sama dengan meruwat peradaban, menjaganya agar tetap lestari, dan berarti mensejahterakan pula bagi kita.

Kertas membawa kita pada memori masa kecil. Ingatan kita tentu tak bisa dilepaskan dari pendidikan, dari sekolah. Semenjak kita masuk di pendidikan taman kanak-kanak bahkan, kertas sudah dekat dengan kita. Kita dikenalkan untuk mencorat-coret sesuatu dengan kertas. Jauh sebelum kertas muncul, kita masih memakai tablet, memakai batu sebagai mediumnya. Kini, saat kehidupan kian modern, kertas, dunia percetakan, dan kawat kabel atau televise mengubah cara pandang, hingga kebiasaan hidup kita.

Kenangan atau catatan itu sering tak terawat. Kertas lebih berakhir sebagai sampah, bungkus makanan, bungkus bubur, atau dibakar. Aku jadi ingat waktu aku menolak ajakan ibuku untuk menjual semua buku catatanku di waktu SMP dan SMA. Katanya, kalau tak disingkirkan dari rumah, rumah terasa penuh dan sesak. Akhirnya, kertas pun jadi dijual ke tengkulak kertas bekas. Aku tak bisa memiliki cerita panjang tentang tulisanku di masa SMP dan SMAku. Meski punya cerita tentang sibuknya menyusun rangkuman pelajaran sejarah. Dari situ aku tak hanya belajar menulis bagus, tapi juga belajar mengingat melalui mencatat.

Para pekerja itu pun memiliki memori tentang kertas. Mereka ikut serta menggulung, menggunting, memotong, menata tumpukan kertas bagus. Mereka ikut mengepak, mengemas, menata jadi rapi gulungan itu menjadi buku-buku mahal. Barangkali mereka pun tak bisa menikmati hasil kerja mereka.

Kertas dibangun pula dari keringat orang, keringat manusia, keringat buruh. Saat saya mewawancarai buruh perempuan yang lihai melipat dan menggulung itu, wajahnya berkeringat. Ia bercerita bahwa ia dikenai target menyampul buku empat ribu biji dalam sehari. Jumlah yang cukup fantastis.

Di balik kertas bagus yang kita gunakan untuk mencatat, menulis hasil perbincangan di seminar-seminar, sampai dengan kertas kadoku yang menyimpan memori dan kenangan itu, ada tetes keringat para buruh itu. Aku lebih suka mengenal mereka, serta mengingat mereka, daripada mendengar soal penghasilan triliunan dan juga asset perusahaan. Karena jarang diingat itulah, aku merasa perlu mencatat mereka. Di kertas putih itu, keringat mereka basah, dan berjatuhan.