Perjalanan panjang yang kulalui ternyata tak semudah yang kubayangkan, tapi aku masih mampu bertahan melewati semua lika liku kehidupan, dan harapanku padamu hingga saat ini. Semua itu tidak sia-sia, bahkan kudapatkan banyak pelajaran yang bisa menjadi motivasi untuk tetap melangkah.

Aku masih mampu melihatmu dari kejauhan. Setiap hari kau disibukkan dengan urusan pekerjaan dan permasalahan dalam keluarga yang tampak sudah kau nikmati. Kesibukanmu itu juga menjadi masalahmu dengan lelaki yang masih bersama denganmu sekarang. Ingin sekali kutulis namanya dalam tulisanku, tapi bagimu itu hal yang tidak perlu kucantumkan.

Dia adalah lelaki yang sangat beruntung, yang masih direstui oleh semesta. Satu-satunya lelaki yang mematahkan komitmenmu, hingga mendapatkan kesempatan yang kedua dan ketiga, mungkin akan ada kesempatan berikutnya darimu. 

Aku beberapa kali melihat kemesraanmu dengannya, kau terlihat bahagia ketika berada disampingnya. Walaupun kau lelah dengan segala urusan pekerjaan dan masalah dalam keluarga, tapi semua lelah itu hilang terbayar ketika berada disampingnya. 

Aku bisa merasakan ketika kau tersakiti atau memiliki banyak beban kehidupan yang kau pikul. Semua itu tergambar pada raut wajahmu yang kusam dan cemberut. Kau diam dan tak ingin bersuara, seakan-akan kau sembunyikan rasamu dari semesta, tapi kau tak bisa sembunyikan semua itu dariku. 

Aku sudah lama mengenalmu, bahkan lebih lama dari lelaki yang menjadi pujaanmu. Dia memang mampu meluluhkanmu dengan sikap dan kasih sayangnya, serta perhatian yang dia berikan padamu. Tapi dia belum tentu bisa bertahan selama sembilan tahun memberimu kasih sayang dan perhatian, tanpa menuntut balas. Sepertiku yang masih bertahan dengan harapan dan kenangan kita.

Sudah lebih dari sembilan tahun kujaga harapan ini. Memberikanmu perhatian dan kasih sayang tanpa menuntut balas darimu, merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Melihatmu bahagia membuatku senang, tapi mengapa kau selalu menyembunyikan kesedihanmu dariku? Seakan-akan kau lupa bahwa aku bisa membedakan kapan kau marah, senang dan sedih.

Aku tahu saat itu kau sedang memikul beban yang terlalu banyak, entah dari urusan pekerjaanmu atau dari permasalahan dalam keluargamu. Sehingga membuatku harus memancing emosimu untuk menceritakan semua keluh kesahmu.

Saat itu hari semakin gelap, aku melihat jam di smartphone yang kugenggam menunjukkan pukul 00.15. Kita masih saling berbagi cerita hingga kau tertidur lelap, sehingga harus kita lanjutkan pembahasan itu pada esok hari. Padahal kau belum belum menceritakan semua permasalahanmu, dan begitu juga denganku yang masih ingin berbagi cerita denganmu. Sehingga kita harus mengakhiri pembahasan itu dimalam kedua.

Seperti itulah hidup, akan selalu ada hal baik dan buruk yang akan kita hadapi. Kita harus bisa menentukan langkah untuk memilih, jangan ada ragu ketika kau sudah berani melangkah, dan kau harus berani bertanggung jawab dari setiap langkah yang kau pilih.

Sakit, senang, sedih dan bahagia sudah menjadi hal yang lumrah oleh setiap manusia. Semua tergantung pada kita yang menjalaninya dengan cara mengeluh atau menikmati setiap perjalanan itu. Aku tahu sangat berat permasalahan yang membuat pikiranmu berkecamuk. Sehingga kau sempat berfikir untuk pergi menjauh dari rumah, tapi jangan sekali-kali kau berani lakukan itu.

Saat kau memiliki banyak permasalahan dalam hidupmu, beranilah mengahadapi masalah dan jangan pernah kau mencoba untuk lari dari semua masalah yang kau hadapi. Saat kau tak berani melawan, akan banyak masalah baru yang bermunculan dan menumpuk. Cobalah berani seperti yang kau ajarkan padaku dahulu.

Aku ingat ketika kau mencoba lari dari masalah yang sudah menumpuk. Kau mengirimkan pesan disalah satu media sosial yang sering kita gunakan untuk berkomunikasi "Kak dimana? Apakah Karin boleh tidur dirumah kak Zayn?" Pesanmu ini membuatku sedikit emosi, aku ingin sekali memarahimu. Kau tak perlu lari dari masalah, kau bukan wanita yang lemah.

Sekarang kau sudah dewasa, mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik untukmu. Jika kau butuh tempat untuk mengeluh, aku akan selalu siap menampung keluhanmu dan berusaha mencarikan solusi disetiap permasalahan yang kau hadapi. Jika tidak ingin berbagi keluh kesahmu juga bukan masalah bagiku, karena berbagi cerita denganku atau tidak adalah hak pribadimu.

Setiap pertanyaanmu saat itu, telah kujawab dengan jujur, larena aku tidak mungkin mengatakan hal yang tidak mampu kulakukan. Aku jujur dan serius saat menjawab semua pertanyaanmu, karena pertanyaan itu merupakan salah satu bagian dari harapan yang masih kugenggam. 

Setelah sembilan tahun kau masih mengizinkanku untuk memberi perhatian padamu, dengan harapan yang masih kugenggam, itu sudah lebih dari cukup. Aku yakin kau tahu mana yang terbaik untukmu, yang mampu menuntunmu pada kebaikan, bertahan disampingmu disetiap kondisi tanpa berniat meninggalkanmu, menerima setiap kekurangan dan kelebihanmu, dan menjadikanmu satu-satunya wanita yang diperjuangkan hingga masa tua.

Kita berdua sudah dewasa, aku tidak pernah berfikir untuk merebutmu dari lelaki pujaanmu, aku bahkan mendukung setiap pilihan yang membuatmu bahagia. Sembilan tahun bertahan dengan harapanku padamu merupakan hal yang pantas aku lakukan, demi membayar satu kesalahan yang menjadi penyesalan bagiku. Yaitu meninggalkanmu tanpa memberikan alasan disaat hubungan kita berakhir.