Kemajuan dan perkembangan teknologi saat ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat mengakses segala informasi yang ada. Dalam segala informasi dan berita yang telah didapatkan masyarakat pastinya memberikan dampak bagi masyarakat. Hal tersebut tentu memberikan pengaruh bagi daya pikir dan tindakan akan dilakukan oleh masyarakat tersebut. Semakin mudahnya masyarakat mengakses segala hal dengan segenggam tangan (gawai) memberikan dampak positif dan negatif.

Lebih berkelanjutan lagi, pengaruh tersebut seakan menjadi sebuah kebenaran mutlak yang dianut oleh masyarakat secara turun-temurun dari mulut ke mulut, tanpa mempertimbangkan kebenarannya secara lebih mendalam. Pengaruh yang paling sering ialah pengaruh pola pikir. Berita dan informasi yang terus-menerus mengalir ini tak jarang menimbulkan kesesatan dalam berpikir dan bertindak. Hal ini tentunya merupakan sebuah ironi tersendiri ketika khalayak ramai dipengaruhi pola pikirnya hanya dengan membaca sebuah berita yang belum terjamin kebenarannya. Tak hanya itu, kesesatan berpikir ini semakin membahayakan apabila turut mempengaruhi setiap tindakan dan keputusan seseorang, terlebih apabila hal tersebut memberikan dampak negatif terhadap orang lain.

Murid Dikeluarkan dari Sekolah Karena Tak Hormat Bendera 

Pada 2 Desember 2019 lalu warta harian media daring Tirto.id melansir sebuah berita berjudul Anak Tak Mau Hormat Bendera Mestinya Tak Dikeluarkan Dari Sekolah. Berita ini ditulis oleh Andrian Pratama Taher. Berita tersebut menceritakan bahwasanya ada 2 murid SMP kelas 8 dan kelas 9 tidak mau memberikan tanda penghormatan bendera merah putih dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya saat mengikuti upacara. Kedua murid tersebut langsung dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan atas perbuatannya itu. Keputusan pengeluaran 2 murid tersebut berdasarkan pertemuan pihak sekolah, Dinas Pendidikan Daerah, Perwakilan Polsek, dan Dewan Pendidikan. Alasannya ialah kedua murid tersebut yang masih berusia + 12 tahun melanggar peraturan negara dan dikhawatirkan mempengaruhi murid-murid lain di sekolah itu.

Menurut Direktur Riset Setara Institute, Halili Hasan, kedua murid tersebut menjadi korban 2 kali. Usia 11 sampai 12 tahun merupakan masa-masa labil, sehingga tindakannya tersebut tentu atas pengaruh dan bujukan dari pihak lain. Dapat dikatakan bahwa kedua murid tersebut merupakan korban pengaruh orang lain. Kesalahan kedua ialah ketika kedua murid tersebut mendapat sanksi dikeluarkan dari sekolah. Hal ini tentu memberikan dampak negatif bagi keadaan psikologis mereka. Tak hanya itu kedua murid tersebut juga tidak mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan yang layak setelah mereka dikeluarkan dari sekolah.

Halili juga mengungkapkan bahwa anak tersebut tak bisa disalahkan, sebab mereka masih dinilai belum dapat memutuskan tindakan sendiri. Halili beranggapan bahwa adanya campur tangan dan tekanan dari luar yang memungkinkan kedua anak tersebut melakukan tindakannya. Halili menuturkan bahwa sebaiknya sekolah memberikan bimbingan dan pembinaan untuk dapat meluruskan kesalahan sang murid, bukan malah mengeluarkannya dan tak bertanggung jawab lagi.

Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriawan Salim mengkritik tindakan Dinas Pendidikan Kota Batam yang mengeluarkan kedua murid tersebut. Satriawan menyarankan  kepada sekolah untuk turut melibatkan rohaniwan (pemuka agama kepercayaan Yehova) dalam perkara ini, sebab kedua murid menganut kepercayaan Yehova yang melarang jemaatnya untuk menghormati simbol-simbol negara. Satriawan menyarankan kepada pemerintah untuk menjamin hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak, seperti memperkenankan kedua murid tersebut untuk sekolah mandiri (homeschooling).

Berdasarkan hasil kasus yang telah dilansir oleh Tirto.id terdapat banyak kesesatan berpikir dalam menentukan keputusan dan tindakan. Hal ini tentu merupakan permasalahan tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Kesesatan berpikir inilah yang acapkali terjadi dan tanpa disadari oleh sebagian besar masyarakat pada umumnya. Pada bagian selanjutnya penulis akan memberikan pemaparan mengenai arti dari kesesatan berpikir, jenis-jenis kesesatan berpikir, dan analisa mengenai kesesatan-kesesatan berpikir yang terdapat pada kasus pengeluaran dua murid tersebut.

Puspa Ragam Kesesatan Berpikir

Kesesatan berpikir sering terjadi dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat. Hal ini tentu tak dapat dimungkiri lagi. Sebab munculnya kesesatan berpikir adalah lemahnya kebiasaan berpikir kritis dalam masyarakat. Kesesatan berpikir sering kita jumpai ketika seseorang menentukan prinsip-prinsip, keputusan, atau tindakan dengan cara memaksakan keputusan sendiri atau golongan tertentu. Sebenarnya apa arti dari sesat pikir atau kesesatan dalam berpikir?

Sesat pikir adalah proses penalaran dalam mengungkapkan argumentasi secara tidak logis, salah arah, dan menyesatkan. Gejala berpikir yang salah ini karena adanya pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa mempertimbangkan relevansinya. Meskipun demikian, kesesatan berpikir ini masih sering terjadi dalam masyarakat sekalipun dunia dan teknologi sudah berkembang pesat. Dalam kesesatan berpikir terdapat 12 jenis sesat pikir. Kedua belas jenis sesat pikir ini berdasarkan buku Dasar-Dasar Logika yang ditulis oleh E. Sumaryono.

Argumentum ad Baculum adalah kesesatan berpikir dengan nilai benar salahnya argumen tergantung kekuasaan atau jabatan. Argumentum ad Hominem (I) adalah kesesatan berpikir dengan kebenarannya tergantung dari penilaian terhadap seseorang yang mengatakan, bukan menitikberatkan pada argumennya. Argumentum ad Hominem (II) adalah kesesatan berpikir dengan kebenarannya tergantung dari latar belakang seseorang bukan dari argumennya. Argumentum ad Ignorantiam adalah kesesatan berpikir dengan kebenaran argumen tidak bisa dibuktikan dengan fakta dan kenyataan melainkan dari wangsit, penampakan, penerawangan, pengandaian, atau penglihatan.

Argumentum ad Misericordiam adalah argumen yang didasarkan atas perasaan belas kasihan sehingga orang mau menerima atau membenarkan argumentasinya. Argumentum ad Populum adalah argumen yang tergantung dari pandangan khalayak ramai tanpa memperhatikan kebenaran dan kesalahan yang sebenarnya dari argumentasi tersebut. Argumentum ad Verecundiam adalah argumentasi yang nilai benar salahnya tergantung dari kata para ahli atau orang terkenal. Accident adalah argumen yang benar salahnya tergantung pada satu atau beberapa peristiwa saja. Converse Accident adalah argumen yang benar salahnya tergantung pada kebiasaan atau ciri-ciri yang dimiliki oleh orang yang berargumentasi.

Petitio Principii adalah argumen yang benar atau salahnya tergantung dari petisi atau gugatan yang dianggap paling benar. Complex Question adalah argumen yang benar salahnya tidak bisa ditentukan secara tegas karena pertanyaan-pertanyaan. False Cause  adalah argumen yang didasarkan pada penelusuran atas sebab-sebab yang dangkal dan kurang mendalam. Ignoratio Elenchi  adalah suatu argumen yang tergantung pada kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak relevan.

Sesat Pikir dalam Kasus Murid yang Dikeluarkan dari Sekolah

Kasus dikeluarkannya dua orang murid kelas 8 dan 9 SMP dari sekolah karena tidak mau memberi hormat kepada bendera merah putih dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya merupakan kasus yang menarik. Peristiwa tersebut menarik perhatian penulis untuk menganalisa kesesatan berpikir yang ada dalam memutuskan keputusan tersebut. Berdasarkan berita yang diperoleh oleh penulis dan jenis sesat pikir yang penulis peroleh, penulis menemukan beberapa sesat pikir dalam kasus tersebut. Sesat pikir atau kekeliruan relevansi dalam menentukan keputusan atau argumentasi yang terdapat dalam kasus tersebut ialah argumentum ad baculum, argumentum ad hominem, argumentum ad verecundiam, dan argumentum ad ignorantiam.

Argumentum ad baculum yang terdapat dalam dalam kasus tersebut ialah keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan yang bersikeras untuk mengeluarkan dua murid SMP kelas 8 dan 9. Alasan Hendri Arulan mengeluarkan mereka karena tidak mau memberi hormat kepada bendera merah putih dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tak hanya itu, Hendri juga menambahkan alasan lainnya yakni khawatir kedua murid tersebut mempengaruhi murid lainnya dan murid tersebut dinilai sudah melanggar hukum negara.

Argumentum ad hominem yang terdapat dalam kasus tersebut ada 2 bagian. Pertama, Direktur Riset Setara Institut berpendapat bahwa anak tidak bisa disalahkan. Meskipun berdasarkan aturan hukum negara kedua murid tersebut bersalah, kedua murid tersebut pasti mendapat pengaruh dari orang yang lebih berkuasa darinya. Hal tersebutlah yang menjadi landasan dasar argumentasi dari Direktur Riset Setara Institut. Kedua, keputusan dikeluarkannya kedua anak tersebut bersalah menganut kepercayaan Yehova yang dalam ajarannya tak menghormati simbol negara. Keputusan dikeluarkannya kedua murid tersebut dilihat dari latar belakang murid yang menganut aliran Yehova. Hal ini tentu kurang masuk akal sebab keputusan dilihat dari latar belakang seseorang bukan dari argumentasi sang murid melakukan tindakan tersebut.

Argumentum ad verecundiam yang terdapat dalam kasus ini ialah saran Wasekjen FSGI untuk melibatkan rohaniwan (pemuka agama aliran Yehova) dalam mengusut kasus tersebut. Keterlibatan rohaniwan tersebut dinilai penting sebab rohaniwan merupakan pakar yang tahu perihal permasalahan tersebut, khususnya permalasahan ajaran Yehova yang melarang pengikutnya untuk menghormati simbol-simbol negara.

Argumentum ad ignorantiam yang ada dalam kasus ini ialah alasan Dinas Pendidikan Kota Batam mengeluarkan kedua murid dari sekolah. Alasan kedua murid dikeluarkan bukan hanya karena melanggar aturan negara, namun juga dikhawatirkan kedua murid tersebut mempengaruhi murid lainnya untuk tidak mau menghormati bendera merah putih dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini tentu aneh, karena pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan tidak mengarahkan pada ajaran yang benar namun langsung memberikan keputusan dengan langsung mengeluarkan kedua anak tersebut. Argumentasi ini masih belum ada bukti dan fakta terkait kalau kedua murid menghasut murid lainnya. Argumentasi Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam ini masih pada tahap penglihatan dan perasaan saja.

Kesimpulan

Kesesatan berpikir yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat seakan seperti roh yang menyatu dan mendarah daging namun kerap tak disadari. Hal ini nampak berkembang ketika seseorang menentukan sebuah keputusan dan tindakan dengan pelbagai alasannya. Kesesatan berpikir ini memang acapkali tak kelihatan, namun hal ini akan berdampak serius apabila tidak disadari dan tidak dikritisi dengan baik oleh masyarakat.

Informasi dan berita terus-menerus mengalir ketika kita berselancar di media daring. Hal ini tentu memberikan dampak tersendiri bagi masyarakat. Hal tersebutlah yang disinyalir menggerus daya kritis masyarakat untuk dapat lebih memilah dan mendalami setiap informasi yang terus datang silih berganti. Maka sangatlah penting bagi segenap masyarakat untuk hati-hati dan lebih kritis dalam berpikir dan menentukan sebuah keputusan dan tindakan dengan pelbagai informasi dan pengetahuan yang telah didapatkan.