Apa ridho dan berkah itu? 

Dikalangan para santri pasti tak asing lagi dengan kata ridho dan berkah. Keridhoan seorang guru sangatlah berpengaruh bagi murid, karena do’a dan ridhonya adalah kunci dari keberhasilan dan awal dari kesuksesan. 

Kesuksesan bukan semata-mata hanya karena seseorang pintar dalam semua mata pelajaran, cerdas dalam menghadapi segala permasalahan di meja pembelajaran, tetapi kesuksesan itu juga bisa didapat dengan mengagungkan ilmu dengan “ridho” dari seorang guru.

 Sedangkan kata “berkah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  mempunyai arti karunia tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Menurut Imam Al Ghazali berkah adalah ziyadatul Khair atau bertambahnya kebaikan.

Lalu apa hubungan ridho guru dan berkah ilmu itu?

Salah satu ajaran dalam pesantren yang diumatakan adalah mencari ridho dari para guru. Karena mendapat ridho guru menjadi penyebab keberkahan dalam  ilmu. Dapat dikatakan bahwa dengan mendapat berkah ilmu lewat ridho guru maka sudah dapat dipastikan bahwa kehidupan yang akan dilampaui mendapat tambahan kebaikan.

Dalam mencari ridho guru, berakhlak baik kepada guru adalah suatu kewajiban. Bahkan adab lebih utama dibanding ilmu. Poin penting dari adab seorang mencari ilmu yaitu menghormati guru. Salah satu kitab yang mempelajari tentang pentingnya ridho guru adalah Ta’limul Muta’alim karya syekh Az-Zarnuji. Dalam kitab ini membahas bagaimana perilaku sorang pencari ilmu mulai dari berniat, menjaga hingga mengamalkan ilmu.

Selain itu, kitab ini juga membahas cara menghormati ilmu yakni dengan menghormati ahli ilmunya, yaitu para guru.

وَتَوْقِيْرِهِ الاُسْتَاذِ تَعْظِيْمِ وَ وَاَهْلِهِ اْلعِلْمِ بِتَعْظِيْمِ اِلَّا بِهِ يَنْتَفِعُ وَلَا اْلعِلْمَ لاَيَنَالُ العِلْم طَالِبَ بِأَنَّ اِعْلَمْ،

“Ketahuilah, sesungguhnya orang yang mencari ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatanya, kecuali dengan memuliakan ilmu beserta ahlinya, dan menghormati guru.”

Maksudnya yaitu seorang pelajar atau murid tidak akan meraih ilmu dan manfaat ilmunya kecuali dengan menghormati ilmu dan ahli ilmunya serta menghormati gurunya.

Lalu bagaimana cara menghormati guru? 

Dalam kitab Ta’limul Muta’alim juga telah disebutkan beberapa cara menghormati guru diantaranya  jangan berjalan didepannya, duduk ditempatnya, memulai ngajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya.

cukuplah sabar dengan menanti diluar hingga beliau yang keluar dari rumah, telah disebutkan  memuliakan anak-anak serta keluarga beliau juga termasuk dalam menghormati guru.

Poin terpenting dalam menghormati guru yakni jangan sampai membuat sakit hati guru. Karena itu merupakan satu kesalahan yang fatal. Sangat berhati-hati dalam bertindak merupakan suatu  keharusan, meskipun melakukan kesalahan adalah sifat manusiawi. Jika terlanjur melakukan sebuah kesalahan maka hendaklah kita meminta maaf lalu meminta ridhonya.

Banyak cerita para ulama terdahulu mendapatkan barokah ilmu melalui ta’dzim kepada guru.

 Salah satu cerita singkat yakni seorang murid yang datang kepada gurunya untuk menuntut ilmu., namun oleh gurunya hanya disuruh membersihkan kamar mandi pasar, tapi setelah pulang murid tersebut mempunyai banyak pengetahuan. Apalagi yang bisa memunculkan pengetahuan tanpa pembelajaran? Tentu saja barokah ilmu. Barokah tersebut didapat melalui menjalankan perintah guru dengan ikhlas, dengan niat ta’dzim guru dan mencari ridhonya.

Adapun kisah inspiratif di zaman Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani , simak kisah berikut.

Ada seorang yang busuk hatinya, yang ingin memfitnah Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Lalu ia berupaya mencari jalan untuk memfitnahnya. Lalu, ia membuat lubang di dinding rumah Syekh Abdul Qadir untuk mengintipnya. Kebetulan ketika ia mengintipnya, Ia melihat Syekh Abdul Qadir sedang makan bersama muridnya.

Syekh Abdul Qadir menyukai makan ayam. Setiap kali beliau makan ayam dan makanan yang lainnya, beliau akan makan separuhnya saja, tidak di habiskan semua. Lebihnya makanan tersebut akan dibagikan kepada muridnya. Setelah orang itu melihat apa yang dilihatnya, maka orang  itu pergi kepada bapak dari murid Syekh Abdul Qadir tadi untuk menceritakan apa yang dilihatnya guna memfitnahnya.

“Bapak punya anak yang belajar sama Syekh Abdul Qadir?” Tanya orang itu kepada bapak murid tersebut.

“Ya, benar,” jawab bapak murid itu.

“Bapak tahu tidak, kalau anak bapak diperlakukan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani seperti seorang hamba sahaya dan kucing? Syekh Abdul Qadir hanya memberi lebihan sisa makanan pada anak bapak saat makan.”

Mendengar cerita orang tersebut, bapak itu langsung emosi dan tidak puas hatinya. Ia lalu beranjak ke rumah Syekh Abdul Qadir dengan penuh amarah.

“Wahai tuan Syekh, saya menitipkan anak saya kepada tuan Syekh bukan untuk jadi pembantu atau dilakukan seperti kucing. Saya hantar kepada Syekh, supaya anak saya menjadi alim ulama,” Ucap bapak murid itu dengan lantang.

“Kalau begitu ambillah anakmu,” jawab syekh dengan ringan.

Maka si bapak itu mengambil anaknya untuk pulang. Ketika keluar dari rumah Syekh menuju jalan pulang, bapak itu bertanya kepada anaknya beberapa hal mengenai hukum syariat. Ternyata anak itu dapat menjawabnya dengan benar.

Maka bapak itu berubah fikiran untuk mengembalikan anak itu kepada Syekh Abdul Qadir lagi. Lalu mereka berbalik arah kembali menuju rumah Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan Syekh, mohon maaf atas perlakuan saya, mohon terimalah anak saya kembali untuk belajar dengan tuan,” pintanya melas. “Tuan, didiklah anak saya, ternyata anak saya bukan seorang pembantu  dan juga diperlakukan seperti kucing, saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa bila bersamamu,” lanjutnya.

Namun, Syekh Abdul Qadir menolak.

“Maaf, bukan aku tidak mau menerimanya kembali, tetapi Allah sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ilmu dari saya. Allah sudah menutup futuhnya untuk mendapat keberkahan ilmu disebabkan seorang ayah yang tidak beradab kepada guru anak bapak.”

Begitulah adab dalam menuntut ilmu. Anak, ibu, ayah dan siapapun perlu menjaga adab kepada guru. Disamping mempunyai akhlak yang baik, mencari ilmu juga harus dengan sungguh. Apabila kita mencari ilmu dengan sungguh-sungguh maka keberkahan akan menyertainya. Untuk mendapatkan ilmu yang barokah kita harus mendapatkan ridho guru. Tanpa ridho guru apalah arti kesuksesan.

Semoga allah menjadikan kita orang yang beradab kepada makhluknya, terlebih kepada guru kita yang mengajarkan ilmu kepada kita. Sebagai mahasiswa, kita harus mencari ridho guru dan berkah ilmu dengan selalu menjaga adab kepada guru, demikian juga dengan orang tua kita.