Kesepian adalah musuh terbesar saya.Ini perasaan destruktif yang sudah menggerogoti jiwa saya selama bertahun-tahun.Diri kanak-kanakku yang dulunya periang,percaya diri dan optimis berubah menjadi pemurung,tidak percaya diri dan pesimis seiring waktu berganti hingga saat ini.

Perubahan diriku ini bukan semata-mata salah dunia ini,saya pun turut ambil bagian dalam “memupuk” perasaan ini,kecerobohan saya dalam membina hubungan dengan orang lain adalah salah satu faktor terbesar dari muncul dan hidupnya perasaan kesepian ini.

Sebenarnya tidak baik kalau perasaan ini selalu kusalahkan,karena sejatinya kesepian ini adalah ciptaan Tuhan sama dengan perasaan-perasaan lain misalnya senang,namun dalam kasusku perasaan ini sudah melewati batasnya sehingga merebut “daya hidupku”.Rasanya setiap hari ada beban yang harus kupikul dalam menjalani hari hari saya.

Salah satu dampak yang paling kubenci dari perasaan ini adalah ia tak menampakkan tanda-tanda fisik,saya mungkin masih sosok periang yang senang tertawa di luar namun di dalam jiwa saya berteriak meminta pertolongan namun teriakan itu tidak bisa didengar oleh orang lain.

Dampak lain yang muncul adalah aku mulai menjauhkan diri dari orang lain bahkan orang terdekatku.Bukannya mencari bantuan saya malah membuat batas antara diriku dan orang-orang lain,salah satu penyebabnya karena orang-orang lain tidak dapat memberikan “pertolongan pertama” yang paling jiwa saya butuhkan yaitu telinga untuk mendengar.

Kita hidup di dunia dimana optimisme sangat dijunjung tinggi.Ini bukan hal yang salah namun jika berlebihan,efek samping dari hal ini akan muncul,orang-orang sulit untuk menerima “perasaan negatif”,ketika ini muncul kebanyakan orang langsung memilih untuk melenyapkannya dimana dalam tahap tertentu “perasaan negatif” ini tak dapat dilenyapkan begitu saja.

Alhasil ketika saya mencoba berbagi masalah ini ke orang terdekat saya dengan harapan mereka hanya akan duduk dan mendengarkanku dengan penuh perhatian,mereka justru memberiku jutaan solusi.Masalah saya bukan masalah politik dimana dibutuhkan solusi untuk menyelesaikannya,Masalah saya hanya butuh untuk diungkapkan untuk menyelesaikannya,sesederhana ini.

Untunglah aku bertemu seorang sahabat yang mengerti mengenai hal itu setelah saya mencoba memberinya pengertian,namun sayangnya dia pun tak dapat hadir setiap waktu untukku karena dia juga manusia yang punya kehidupannya sendiri yang tak bisa ditinggalkan. Tapi terlepas dari itu dia adalah salah satu hal terbaik dalam hidup saya.

Hikmah dari perasaan kesepian ini tetap ada,saya masih tetap bertahan sampai sekarang adalah sebuah mukjizat dari Tuhan,saya bertemu dengan sahabat saya yang mengerti bagaimana mendengarkan keluh kesahku adalah sebuah anugerah setelah sekian banyak hubungan pertemanan saya yang tidak berjalan baik.Kesepian masih hidup di dalam jiwaku namun mungkin aku akan baik-baik saja.