Ketika orang berpikir bahwa sang fajar adalah awal dari keberuntungan dan harapan mereka tidak pernah menyadari kalau di belahan dunia yang lain banyak orang seakan tak mau melihat terbitnya mentari karena ingin tetap berada dalam malam yang mencekam. Mereka tidak mau melihat cahaya baru yang hanya memperpanjang penindasan dan penderitaan.

Senja telah merenggut kebahagiaan mereka. Bencana kemanusiaan justru hadir di saat kehidupan seharusnya beristirahat layaknya senja yang akan mengantar malam memasuki tubuh-tubuh yang lelah. Ketidakadilan dalam sejarah dunia ibarat membaca tentang sepotong senja karya Seno Gumira Adjidarma. Senja yang hanya mendatangkan bencana dan tidak menyisakan sedikit pun harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Sedikit waktu lagi tahun yang lama akan berakhir. Di penghujung setiap tahun selalu ditandai dengan seruan perdamaian di seluruh dunia yang konon bersumber dari sebuah kota kecil di Betlehem Efrata. Kota yang terkecil di antara kaum Yehuda itu seperti dalam nubuatan nabi Mikha tentang kelahiran Yesus Kristus dalam Mikha 5 yang ditulis di Yehuda ± 777-717 S.M akan menjadi saksi lahirnya seorang tokoh terbesar sepanjang masa dan berpengaruh pada peradaban dunia ribuan tahun kemudian. Perdamaian sejati menjadi tema akan kehadiran sang raja damai yang dinanti-nantikan.

Bahkan dalam buku Mikha digambarkan betapa indahnya perdamaian yang akan dibawa oleh sang raja:

“ Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, mereka tidak akan lagi belajar perang”. Mikha 4:3.

Menurut kisah nubuatan dalam buku Mikha; sebelum masa damai itu datang maka bangsa Israel yang murtad dan tidak setia harus dimusnahkan lebih dahulu oleh bangsa-bangsa kafir disekitar mereka. Hal ini terbukti pada tahun 740 S.M sewaktu Samaria yang merupakan ibu kota Israel sepuluh suku di sebelah utara dihancurkan oleh orang Asyur dibawah raja Sargon dan terus mengalami kemunduran sampai masa penaklukan Aleksander Agung pada abad keempat S.M - menurut the new Westminster dictionary of bible 1970, kota samaria mengalami penghancuran terakhir pada abad kedua S.M dimasa John Hyrcanus I. Sedangkan untuk Yerusalem yang merupakan ibu kota Yehuda Israel dimusnahkan oleh Babilonia pada tahun 607 S.M dan berlanjut sampai penaklukkan tentara Romawi pada tahun 70 M.

Setelah peristiwa-peristiwa “senja” itu maka muncullah sosok mesias yang dijanjikan  ditengah-tengah bangsa Israel, namun sayang raja damai yang dinubuatkan itu ditolak bahkan dibunuh oleh bangsanya sendiri. setelah peristiwa itu senja seolah tak pernah hilang di langit Yerusalem. Sampai saat ini tanah tiga agama samawi itu terus bergejolak dan berdarah. Konflik dan penindasan terus terjadi sampai saling klaim sebagai pemilik sah dari tanah yang konon adalah tanah perjanjian yang diberikan YAHWE/YEHOVAH kepada umatNya.

Yerusalem sendiri dalam bahasa Ibrani mengandung arti “kedamaian ganda” atau “kota damai”. Namun apa yang kita lihat dari sejarah kota tersebut sejak penaklukan Romawi pada tahun 70 M sampai sekarang tidak menggambarkan suasana yang damai seperti yang tersirat dalam namanya. Bahkan konflik Israel-Palestina telah melebar ke seluruh dunia dengan munculnya aksi-aksi solidaritas antara Negara-negara yang mendukung Israel dan yang mendukung Palestina. Benih-benih kebencian melahirkan gerakan-gerakan terorisme dan menumbuhkan fundamentalisme agama yang mengancam perdamaian dunia. sungguh ironis di saat umat Kristen di seluruh dunia sedang memasuki masa advent (penantian) menyambut natal-kabar “senja” telah dikirimkan dari Washington oleh presiden Donald Trump yang berisi: pengakuan Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Senja yang dikirimkan itu sebenarnya adalah senja terindah dari Trump kepada sekutunya Israel namun ia tak menyadari atau bahkan pura-pura lupa kalau senja itu adalah bencana bagi bangsa Palestina dan perdamaian dunia pada umumnya. Akankah nubuatan-nubuatan mengerikan dari kitab para nabi akan digenapi? Namun bagaimana dengan nubuatan tentang perdamaian antar bangsa? Kita hanyalah produk dari sejarah. Kita tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan melihat sejarah terjadi. Benar memang kalau sejarah lahir dari siapa yang menang dan berkuasa-tapi kita adalah manusia bebas yang punya hak akan sejarah itu sendiri jadi mengapa kita harus diam?

Aksi mengecam lewat konferensi-konferensi antar negara memang sangat diperlukan untuk melawan narasi tunggal barat mengenai Israel dan Palestina. Namun kecaman sepertinya hanya akan menjadi angin lalu jikalau tak ada aksi nyata untuk menjalankan segala resolusi atau pun keputusan tentang penyelesaian konflik Israel-Palestina. Solusi dua Negara telah menjadi senja yang tak pernah berakhir di langit tanah perjanjian. Langit yang terus menerus menerima doa-doa dari balik tembok ratapan, dari dalam masjid al-aqsa dan dari gema pujian dalam gereja makam Kristus-Dari Tempat ribuan peziarah rohani selalu berdatangan setiap tahun ternyata tak sanggup mendatangkan perdamaian yang dinanti-nantikan.

Setiap hari fajar akan selalu menyingsing di langit tanah perjanjian, namun fajar itu tak jauh berbeda dengan senja yang mereka lihat pada sore harinya. Senja yang tidak pernah berubah warna selama tidak ada kerendahan hati dari mereka yang berkonflik untuk menerima perdamaian dan kenyataan bahwa sejarah berubah seiring dengan kehendak Tuhan yang berubah untuk tanah perjanjian. Ia tidak lagi memaksakan satu bangsa untuk satu wilayah karena Ia adalah Tuhan atas segala bangsa yang berduyun-duyun menuju kota yang takkan pernah lagi melihat senja untuk selama-lamanya. Pada saat itu ia akan disebut Yerusalem yang sebenarnya kota dengan perdamaian ganda; kota damai.

15 desember 2017