Selain Demak menjadi tempat relegius di wilayah Jawa, dan tempat bersejarah sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa Indonesia, ada pula tempat wisata baru di Demak yang mulai berkembang, yaitu hasil tanam pohon mangrove yang indah dan asri. Tempat ini berada di perbatasan Demak dan Jepara.

Masyarakat Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah memanfaatkan area tempat dan limbah yang ada di tempat tersebut, diubah menjadi wisata yang unik dan menarik.

Mengapa dikatakan sebagai wisata unik? Sebab sebelum menjadi tempat wisata, hutan mangrove ini tidak bermanfaat. Banyak orang yang tidak menghiraukannya. Pandangan masyarakat lingkup di sana hanya mengira sebagai sampah laut yang tidak bermanfaat sama sekali. 

Seolah-olah hanya menyempitkan kawasan di tempat tersebut, serta dikelilingi oleh pohon mangrove yang tidak beraturan ke mana-mana.Akar yang menjulang serta sampah lingkungan warga yang menyebabkan daerah di tempat tersebut kumuh dan kotor. 

Kolam ikan yang berada di sekeliling pohon mangrove tersebut airnya keruh. Lebatnya pohon mangrove yang berjejeran di tempat itu mempersempit pemandangan dan tidak ada ruang kecil untuk masuk ke dalam, serta terlihat mistis oleh ranting pohonnya.

Namun atas kebersamaan dan partisipasi dari warga, muncul sebuah ide dan inspirasi dari pemuda-pemudi serta masyarakat setempat untuk menjadikan hutan mangrove tersebut sebagai wisata alam.

Atas bantuan masyarakat desa, satu demi satu pohon-pohon mangrove ditebangi. Tidak asal-asalan dalam penebangan pohon tersebut, namun penebangan diatur atas sedemikian baik dan rapi. 

Dibuatkan jalan masuk ke dalam hutan mangrove tersebut, agar dapat dijadikan jalannya pengunjung untuk menikmati indahnya panorama hutan mangrove. Dibuatkan pula tempat berbincang santai dengan kerabat sambil menikmati angin laut dan pemandangan alam. 

Selain itu, di sekelilingnya pula ada kolam ikan yang dirancang rapi dan terkesan menarik. Tidak ketinggalan pula, ada warung makan dengan makanan khas daerah sendiri di dalam area hutan mangrove tersebut, sebagai penambah objek istirahat bagi pengunjung dari luar kota. Menyediakan kebutuhan pengunjung ketika kelelahan dalam perjalanan.

Pengunjung luar kota biasanya berasal dari daerah pegunungan, atau daerah yang jauh dari pantai. Mereka sering bertanya-tanya akan ide yang muncul dari masyarakat Desa Kedungmutih, seperti "bagaimana dan cara menjadikan tempat ini menjadi wisata alam yang indah, padahal kebanyakan orang hanya memandang sebelah mata, jika tempat ini hanyalah sampah laut dan tidak ada manfaatnya sama sekali".

Pertanyaan seperti itu terbiasa muncul di telinga warga Desa Kedungmutih. Namun apa yang terjadi, masyarakat di sana menanggapi dengan bijak dan berpikir optimis, jika sesuatu hal yang dianggap sampah, justru berbuah manis dan bermanfaat, dan menjaga lingkungan guna untuk memanfaatkan karunia Allah SWT dengan sebaik mungkin.

Kemudian langkah demi langkah mereka rajut pohon mangrove tersebut dengan ketekunan dan kesabaran. Semua bahan yang dipergunakan dalam merancang tempat wisata, yaitu rajutan pohon mangrove dan bambu, sehingga tampak tradisional serta menarik. 

Tidak kalah dengan lainnya, mereka mendaur ulang limbah sampah menjadi pernak pernik yang cantik dan menarik, serta ada tempat khusus untuk selfie bersama keluarga dan kerabat.

Kemudian ada wisata yang baru berkembang pula, yaitu Wigamar (wisata garam dan mangrove). Wisata ini berada di Desa Kedungmutih. Hanya saja berbeda lokasi. Lokasi Wigamar berada di barat Desa Kedungmutih, tepatnya di ujung daratan desa.

Persamaan wisata hutan Mangrove dan Wigamar adalah objek wisatanya. Masyarakat setempat menggunakan pohon mangrove sebagai objek utama dalam pembuatan wisata. 

Perbedaannya ialah wisata Wigamar ada garam asli hasil petani garam, yang dikelola langsung di tempat Wigamar itu sendiri. Di sinilah keunikan Wigamar, dapat melihat laut dari jarak kejauhan, melihat para nelayan yang berangkat ke laut dan pulang dari laut, sehingga ketika senja hari dapat menikmati terbenamnya matahari beserta warna langit yang menakjubkan.

Hasil dari alam, khususnya hasil laut, dapat dikembangkan oleh masyarakat Desa Kedungmutih, dimanfaatkan untuk membuka usaha kecil di desa, seperti pembuatan ikan asin, terasi, dan makanan khas daerah sendiri. Sehingga dengan adanya wisata hutan Mangrove dan Wigamar tersebut, masyarakat desa dapat menjualnya kepada pengunjung yang berdatangan setiap harinya.

Tidak sia-sia ketika dari hal yang dianggap sampah lingkungan, ternyata menjelma menjadi tempat yang indah dan unik. Sebenarnya semua benda atau tempat yang tidak ada artinya bagi manusia, justru itu yang menjadi berharga bagi diri sendiri, masyarakat dan orang lain. 

Oleh karena itu, mengelola hasil alam sendiri lebih bermanfaat dan berkesan, dan dapat dirasakan oleh banyak orang atas keindahan serta keasriannya.

Wisata hutan Mangrove dan Wigamar merupakan ciri khas dari Desa Kedungmutih sebagai objek wisata di daerah pesisir pantai pulau Jawa.