Semua orang akan hafal, siapa yang setiap sore mengayuh sepeda melewati perumahan. Di antara hembusan angin sapu-sapu, seorang pemuda berbaju putih selalu melewati perkampungan mengendarai sepeda ontel. 

Sepeda ontel berkarat menjadi teman setianya dalam mengabdi pada kampungnya. Sudah dua puluh lima tahun ini pemuda itu belum memiliki teman hidup. Mungkin, hasrat pengabdiannya lebih utama daripada kehidupan pribadinya.

Setiap menjelang senja, Didik—sapaan akrab pemuda itu—selalu mengayuh sepeda ontelnya menuju surau. Hal itu dia lakukan setiap hari kecuali hari Jumat. Surau itu terletak di kampung Cindil, sebuah kampung kecil yang jauh dari peradaban. Letaknya sangat jauh dari kota. Tak hayal apabila masyarakatnya kekurangan tenaga pengajar, apalagi soal agama. 

Di antara sore dan senja ini, Didik tetap mengayuh sepedanya dengan cepat, berharap agar santrinya tak menunggu lama—tak seperti satu bulan yang lalu, di mana Didik harus telat satu jam gara-gara menerjang hujan lebat.

Ustaz kampung itu sungguh giat sekali mengajar. Dia hidup di rumah joglo yang sangat sederhana. Hasil jualan koran memang tak cukup baginya untuk merenovasi rumah. Tetapi, di sela-sela kesusahannya, dia tetap menyempatkan diri mengajar anak-anak kampung—yang menjadi santri Ustaz Didik—dengan ikhlas. 

Santri-santrinya begitu senang melihat sang ustaz mengajar. Ustaz Didik sama sekali tak pernah mengeluh, walaupun kadang anak-anak usia lima sampai sepuluh tahunan itu tak selalu memperhatikannya.

“Pak ustaz,” ucap salah satu warga kampung menyapa Ustaz Didik yang sedang mengendarai sepeda ontelnya.

“Iya, Pak. Selamat sore,” jawab Ustaz Didik sambil tersenyum.

Ustaz Didik sampai sebelum siluet hitam muncul dari depan surau. Santri-santrinya begitu antusias menerima kedatangan ustaz satu-satunya di kampung itu. Ayam kampung berkokok menyambutnya. Begitu pula dengan gemuruh santri-santri yang berkeliaran bagaikan kambing masuk dalam kandang. Salah satu santri paling kecil terjatuh saat masuk ke surau. Ustaz Didik dengan sigap membantunya bangun. Kebaikan hati Ustaz Didik seakan tak ada tandingannya.

Assalamu’alaikum, adik-adik,” sapa Ustaz Didik pada santri-santrinya.

Walaikum salam, Pak Ustaz,” jawab santri-santrinya. Suara mereka menggetarkan surau dan memanggil senja. Ini adalah salam kedua kali yang diucapkan oleh santri-santri Ustaz Didik. Begitu indah, seperti rembulan yang selalu mengingatkan sang ustaz akan waktunya mengayuh pedal.

Senja telah muncul dari sarangnya. Ustaz Didik dan santri-santrinya bergegas meninggalkan surau. Sepeda ontel yang diparkir di pinggir surau kembali dia kayuh. Kediaman santri-santri dan Ustaz Didik bagaikan langit dan bumi. Jarak tempuh yang begitu jauh tak pernah meruntuhkan niat baiknya. Rumah sang ustazlah yang berada paling jauh dari surau.

Kepulangan ustaz ke rumah tak ada yang menyambut. Berbanding terbalik saat dia datang ke surau. Kosongnya rumah juga berarti tiadanya nasi di ruang makan. Kehidupannya begitu menyedihkan. Biasanya, Ustaz Didik selalu mendapatkan kebaikan dari tetangganya. Kali ini, dia benar-benar harus mencari nasi sendirian. 

Sepeda ontel kembali dia kayuh. Semangatnya menyebar kebaikan harus diimbangi dengan asupan makanan yang cukup. Agaknya, pemuda alim itu sudah bosan dengan sakit mag yang kerap kali mengganggu—terutama saat matahari sudah terlelap di antara indahnya Andromeda.

Malam ini, keindahan sepeda ontel tak terlihat seperti siang hari. Lampu depan tak berfungsi dengan baik—terkalahkan oleh gemerlapnya lampu kuda besi jalanan. Suara klakson truk gandeng mengaung seperti singa. 

Ustaz muda harus keluar dari rumahnya menuju kota—hanya untuk mencari nasi—dan harus bertarung bersama pengendara ugal-ugalan. Rumah pelosok membuat perjuangannya lebih kompleks. Beruntung, pada hari ini masih bulan puasa. Ustaz Didik hanya perlu membeli keperluan berbuka dan saur.

Di setengah perjalanan menuju warung makan, Ustaz Didik berjumpa dengan laki-laki separuh baya. Topi lusuh warna cokelat menutupi muka si kakek, sehingga hanya terlihat hidung dan mulutnya. Merasa penasaran dengan kakek itu, sang ustaz turun dari sepeda ontel. Rasa iba memang selalu muncul dalam situasi apapun dan tak mengenal siapapun. Asalkan bisa membantu, pasti Ustaz Didik siap melakukannya.

Assalamu’alaikum, Kek,” sapa Ustaz Didik pada kakek itu.

Walaikum salam,” jawab si kakek. Kakek itu kaget setelah melihat sepeda ontel yang dikenadarai oleh Ustaz Didik. Matanya nampak besar. Urat-uratnya keluar jelas. Mulutnya terbuka, ada kalimat yang keluar dari bibirnya, “Kau dapatkan dari mana sepeda itu?”

“Sepeda ini warisan ayahku,” pungkas Ustaz Didik. Jawaban itu belum puas bagi si kakek. Kata-katanya belum sampai menggelar tikar. Belum menyirnakan segala rasa penasaran yang masih terus terbayang—si kakek masih penasaran dengan sepeda ontel antik yang sudah jarang beredar di jalan kota. Apalagi sepeda yang dikendarai oleh seorang pemuda, seperti Ustaz Didik. 

“Di mana ayahmu tinggal? Apakah aku bisa bertemu dengannya?”

“Di pinggir kampung Cindil. Maaf, ayahku sudah meninggal.”

“Sudah meninggal? Siapa nama ayahmu?”

“Sapardi,” jelas Ustaz Didik dengan rasa keheranan yang mulai memuncak. 

Si kakek tersenyum lembut. Dia mengambil sebungkus emas batangan dari saku celananya. Menyerahkannya pada pemuda alim itu. Mata Ustaz Didik terbelalak. Kaget membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Tanda tanya muncul di atas kepalanya. Bertanya-tanya tentang apa yang gerangan sedang terjadi. Si kakek seperti sudah menemukan apa yang selama ini dia cari.

Dalam keheningan malam, kakek itu berucap, “Kebaikan memang harus dibalas.”