Konflik menjadi sebuah kata yang terlanjur familiar karena berita-berita tentangnya kerap muncul di televisi. Bangsa ini sayangnya menjadi terlalu lekat dengan kata itu. Hampir semua daerah di Indonesia pernah merasakan konflik, baik dalam skala minor (kekerasan) maupun mayor (seperti di Papua, Aceh, Ambon, dan Poso). Dalam skala minor, di tahun 2014 saja terjadi 27.775 insiden kekerasan di seluruh Indonesia. Untuk itu, negara ini membutuhkan perdamaian sebagai counter peristiwa-peristiwa konflik tadi, demi menegakkan persatuan nasional.

Berita-berita tentang perdamaian memang sangat jarang diputar di televisi-televisi Indonesia, dibanding kejadian-kejadian yang berujung konflik massa besar. Akan tetapi, ada satu peristiwa yang selalu diliput besar-besaran oleh media, yaitu tim nasional sepakbola Indonesia. Selain itu, konflik antara PSSI dengan Menpora juga sedang panas-panasnya terjadi, sampai kita di-banned FIFA dan posisi Indonesia di ranking lembaga tertinggi sepakbola dunia itu semakin melorot.

Ini mengingatkan kita dengan konflik PSSI (IPL) vs KPSI (ISL) tahun 2011 lalu. Sekarang, PSSI dan Menpora menjadi trending topic dan selalu menghiasi layar kaca kita. Bukan karena prestasinya di lapangan hijau, tapi karena konflik tak berkesudahan.

Sepakbola Indonesia. Bicara sepakbola, olahraga ini memang bukan olahraga yang menghasilkan banyak prestasi dan mengharumkan nama Indonesia di dunia olahraga internasional. Olahraga ini masih kalah dari bulutangkis, catur, dan angkat besi yang sudah berpengalaman dalam memberikan gelar bagi bangsa. Akan tetapi, luar biasanya masyarakat kita tetap mencintai sepakbola.

Sepakbola memang selalu menjadi magnet bagi negeri berpenduduk 240 juta jiwa ini. Sayangnya, prestasi yang dicapai belum sesuai harapan, bahkan di tingkat regional sekalipun. Dalam turnamen terbesar di Asia Tenggara, Piala AFF, timnas masuk final empat kali, tetapi kalah di empat kesempatan tersebut. Medali emas Sea Games pun baru diraih dua kali. Dua Sea Games terakhir masuk final, walaupun kalah, tetapi tetap terhormat.

Harapan muncul ketika timnas U-19 juara AFF bulan September lalu. Dilanjutkan sebulan kemudian dengan lolos ke Putaran Final Piala Asia U-19 tahun 2014, dengan mengalahkan juara bertahan dari negeri Ginseng, Korea Selatan.

Walaupun banyak yang bilang gelar AFF ini sebagai pelipur lara selama 22 tahun Indonesia puasa gelar berskala internasional, sebenarnya di level junior timnas kita sudah sering juara. Sebut saja, timnas U-15 yang juara Piala Pelajar Asia di Thailand tahun 2011, timnas U-14 juara AFC Cup di Malaysia tahun 2012.

Selain itu, cikal bakal timnas U-19 asuhan Indra Syafri, ketika masih berstatus U-18, pernah menjadi juara dua kali (2012 dan 2013) di HKJC International Youth Invitational Tournament di Hongkong.

Perdamaian Demi Persatuan. Yang ingin penulis garis bawahi dalam tulisan ini sebenarnya adalah passion masyarakat yang sangat besar terhadap sepakbola. Potensi ini sangat memungkinkan untuk dijadikan energi positif dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, terutama banyaknya konflik vertikal maupun horisontal yang bermunculan di seantero nusantara.

Kita masih ingat Piala Asia tahun 2007, ketika Indonesia pertama kali menjadi tuan rumah. Dalam setiap kesempatan timnas kita bermain di Gelora Bung Karno, penonton selalu membludak. Kita pun masih ingat ketika euforia masyarakat membahana menyambut timnas U-23 masuk final Sea Games 2011 lalu di stadion yang sama. Terakhir, di Sidoarjo dan Senayan ketika timnas U-19 bertanding, serta di Myanmar ketika timnas U-23 kembali lolos ke final Sea Games. Ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap timnasnya, sekalipun kedewasaan tentunya harus diuji saat timnas gagal mewujudkan kemenangan.

Walaup begitu, dalam beberapa kesempatan timnas bermain, di level apapun, baik senior, U-23, sampai U-19, masyarakat kita seperti tersihir oleh magisnya kekuatan sepakbola. Sebuah kekuatan dahsyat yang menyatukan orang Papua, Aceh, Jawa, Kristen, Islam, Syiah, Ahmadiyah, miskin, kaya, pengangguran, sarjana, profesor, sampai pengamen jalanan untuk memakai baju merah (sekalipun tidak harus jersey timnas. Asal merah!) dan bersama-sama bernyanyi Indonesia Raya sesaat sebelum pertandingan dimulai.

Tanpa dikomandoi, selama kurang lebih 2 jam, masyarakat terbuai oleh fanatisme dukungan yang tak henti kepada timnas kita. Politik, pemilu, korupsi, ekonomi, debat, kemiskinan, sampai konflik (yang biasanya menghiasi pemberitaan di media-media kita) sunyi senyap, hilang tak berbekas.

Semua seperti sepakat untuk melepas baju perbedaan, lalu sama-sama mengenakan kaos persatuan dengan lambang Garuda di dada. Semua bersatu padu demi 11 pemain yang ada di lapangan. Semua bersatu padu demi berjayanya merah putih. Dan semua bersatu padu demi sepakbola, tak peduli kalah atau menang.

Apa yang terjadi? Mengapa sepakbola mampu menyatukan bangsa ini di saat politik dan reformasi berjalan tertatih-tatih? Jawabnya sederhana, sepakbola menyentuh nurani kita sebagai sebuah bangsa yang satu. Timnas menggunakan simbol Burung Garuda, dengan jersey merah, dikenakan oleh anak-anak bangsa dari ujung timur sampai ujung barat. Setiap orang Indonesia merasa memiliki timnas, dari mana pun ia berasal. Timnas menjadi simbol persatuan, sekaligus pelampiasan. Inilah budaya damai yang kita perlukan.

Persatuan yang mampu menjembatani bermacam-macamnya identitas orang Indonesia (suku, agama, bahasa, domisili, dll). Dengan semangat persatuan itu, sejenak kita mampu melupakan semua masalah yang ada. Masyarakat mampu mengonversi penderitaan dan kesulitan sehari-hari ke dalam energi positif, yang disalurkan secara positif pula. Sementara selama ini energi yang dihasilkan masyarakat adalah energi negatif, yang berujung tindak kekerasan dan konflik.

Pelampiasan model ini menjadi positif untuk semangat perdamaian di Indonesia, karena ia tidak bersifat liar. Tidak terkotak-kotak, dan pastinya tidak membawa maut. Semua pelampiasan masyarakat ini disimpan dalam sebuah wadah besar yang bernama timnas Indonesia, dan digunakan sebesar-besarnya untuk mendukung mereka.

Konflik terjadi karena ada kebutuhan yang tidak dipenuhi. Untuk itu butuh penyaluran agar kebutuhannya tetap didapatkan. Kita tidak butuh suguhan gontok-gontokan ala Menpora vs PSSI. Masyarakat butuh isu pemersatu.

Sepakbola adalah penyaluran yang tepat bagi masyarakat Indonesia, dimana pun, yang mengalami penindasan, ketidakadilan, penganiayaan, dan tekanan. Menurut Johan Galtung, damai harus terjadi secara positif, yaitu ketika kebutuhannya terpenuhi.

Jadi, damai bukan berarti absennya perang saja (damai negatif), tetapi juga berlakunya aturan hukum yang adil dan proporsional, yang semuanya membutuhkan semangat persatuan terlebih dulu. Semangat yang bisa mulai dipupuk dari sepakbola. Sepakbola harus dikembangkan sebagai budaya damai yang mempersatukan bangsa, di tengah banyaknya persoalan (konflik) di negara ini.