Semua mata para hadirin di World Economic Forum di Davos, Swiss begitu memperhatikan setiap ucapan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Menurut kabar burung, ada gebrakan besar yang dilakukan oleh Jepang dalam menyambut ekonomi di masa depan. Mereka akan melakukan disrupsi besar di dunia teknologi dan humanisme yang saling berkaitan satu sama lain.

Terlontar sebuah konsep bernama Society 5.0 dari mulut Shinzo Abe. Konsep yang dinilai mengedepankan integrasikan antara dunia maya dengan ruang fisik tanpa batas. Peran manusia di dalamnya semakin dinamis seperti sebagai pusat kontrol (human-centered). Kesenjangan sosial antar manusia pun dihapuskan karena setiap manusia punya peran yang sama.

Mengulik ke belakang, ada banyak alasan Jepang menerapkan konsep Society 5.0 dalam tatanan hidup masyarakat. Jumlah penduduk mengalami penyusutan dalam beberapa dekade terakhir jadi satu dari sekian banyak penyebabnya. 

Ada lebih dari 5 juta penduduk Jepang yang berusia lebih dari 65 tahun, atau setara dengan 26% total penduduk. Jelas saja akan berpengaruh pada tatanan masyarakat modern, termasuk kekosongan sejumlah pekerjaan.

Bukan pemandangan yang asing atau mengejutkan saat melihat banyak orang tua yang masih bekerja di sejumlah pelayanan publik di Jepang. Hingga akhirnya pemerintah Jepang memutar otak menghadapi itu semua, dengan sumber daya manusia yang sedikit Jepang tetap jadi cahaya Asia.

Ada sejumlah faktor dimulai dari enggannya masyarakat Jepang menikah dan membina rumah tangga. Biaya hidup yang mahal dan harus komitmen setelah membina biduk rumah tangga menjadi satu dari sekian banyak alasan. 

Belum lagi budaya Hikikomori, budaya menghabiskan waktu di dalam kamar dan anti sosial. Berdampak pada obesitas dan kematian dini yang terjadi buat masyarakat di usia produktif.

Lalu budaya Hatabaraki Bachi membuat masyarakat Jepang rela bekerja melebihi jam kerja normal. Terakhir ialah faktor seperti bencana alam hingga tingkat kebahagiaan yang berpengaruh pada populasi masyarakat Jepang. 

Segudang masalah tersebut membulatkan tekad pemerintah dan masyarakat Jepang menerapkan Society 5.0 sekaligus memaksimalkan potensi setiap masyarakat yang ada.

Society 5.0 Terbentuk dari Kemajuan Digital

Awal mula dari perkembangan dari Society hadir dari kemajuan ilmu Artificial Intelligence yang dipelopori oleh John McCarthy. Salah seorang saintis matematika terkemuka dari California Institute of Technology. 

Ia memperkenalkan konsep awal AI di awal 80-an yaitu sebuah program komputer yang mampu melakukan sesuatu sulit manusia kerjakan. AI juga berperan penting dalam perkembangan industri digital yang menggantikan peran manusia jadi lebih baik, berkualitas, dan minim kesalahan.

Kemampuan dasar dari AI memiliki empat komponen penting yang terdiri atas kemampuan searching, reasoning, planning, dan learning. Sebagai bukti kekalahan manusia yaitu Garry Kasparov selaku grand master kenamaan catur oleh komputer bernama Deep Blue. 

Si komputer menggunakan pengembangan ilmu dari AI yakni Machine Learning yang mampu membaca 200 juta peluang posisi catur. Hingga akhirnya Garry Kasparov harus tertunduk lesu akibat kalah telak dari Deep Blue.

Memang Deep Blue tidak sepintar Kasparov si grand master catur dunia, namun ia punya kemampuan mumpuni yaitu kemampuan terus belajar hingga mampu mengalahkan eksistensi manusia. 

Kini peran AI, Machine Learning, Deep Learning tugasnya makin kompleks untuk kebutuhan zaman. Bukan lagi mengalahkan manusia seperti bermain catur, akan tapi berkolaborasi dengan manusia selaku pusat kendali.

Society 5.0, Gebrakan Besar yang Jepang Perbuat

Society 5.0 memberikan peran manusia sebagai kontrol utama di dalam teknologi. Bila dulunya pekerjaan dilakukan secara all by oneself, di Society 5.0 mengarah pada network assisted. Selain itu pekerjaan yang sifatnya terlalu umum seakan mulai tergantikan dengan teknologi yang lebih aman. Semuanya terhubung dengan Internet of Things (IoT) yang mengontrol seluruh benda yang ada di sekitar kita.

Ada beragam sektor mengalami disrupsi yang menyesuaikan konsep Society 5.0. Bidang tersebut dimulai dari transportasi, kesehatan, logistik, pertanian, konstruksi, keuangan, hingga ketenagakerjaan. Semuanya akan memecahkan masalah manusia, menyatukan perbedaan, bersifat desentralisasi, dan ramah lingkungan.

Konsep dimulai dari rumah dengan adanya smart home, semua benda teknologi yang ada di dalam rumah akan terintegrasikan dengan IoT. Mulai dari lampu, keran air, CCTV, pendingin ruangan hingga peralatan dapur akan bekerja secara pintar dengan menggunakan perintah suara atau dari gadget pribadi.

Kemudian peran manusia pun di bidang pengantar logistik semakin minim dan tergantikan dengan drone. Nantinya drone menggantikan peran ini, ia akan mengetahui rumah pengirim dan akan memberikan sinyal saat datang ke rumah. Memastikan penggunanya keluar rumah dan mengambil pesanan. Drone akan melakukan scan terhadap, wajah bahwa barang yang dikirim sesuai dengan pemiliknya.

Meski begitu, penggunaan drone tidak semuanya menggantikan peran manusia. Misalnya saja pemesan tinggal di dalam apartemen yang tak punya akses keluar, akan ada kurir yang datang mengantarkan hingga di depan kediaman Anda. Drone akan mendarat pada lokasi terdekat dari lokasi pemesan.

Gebrakan Society 5.0 menghadirkan kendaraan autonom massal dan pribadi yang ramah lingkungan dan minim polusi suara. Kasus kecelakaan dan stres yang terjadi di jalan raya jadi hantu menakutkan pengguna, mulai. Dengan adanya penerapan kendaraan autonom jadi opsi, jumlah pekerja seperti sopir yang banyak berasal dari kaum tua mulai tergantikan dengan teknologi.

Cara kerjanya adalah dengan membaca semua objek bergerak atau diam saat mendekati kendaraan. Berkat ada puluhan sensor yang terpasang di dalam kendaraan tersebut. 

Selain itu pengemudi atau penumpang bisa menentukan rutenya sendiri. Mereka tak perlu fokus pada jalan karena kendaraan akan mengarahkan ke lokasi yang dituju. Konsep kendaraan autonom juga saling berinteraksi antar kendaraan lainnya, sehingga mengurangi kecelakaan di jalan. Serta ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil lagi.

Bidang lainnya yang mengalami disrupsi adalah bidang kesehatan. Jepang terkenal dengan jumlah angka harapan hidup yang tinggi. Di satu sisi itu tanda sebuah negara makmur, hanya saja jumlah masyarakat tua rentan terserang berbagai penyakit pasti tidak sedikit. 

Masyarakat yang berusia lanjut punya mobilitas yang terbatas, sangat sulit bagi mereka pergi ke klinik atau rumah sakit untuk berobat. Belum lagi administrasi yang berbelit-belit membuat banyak orang urung ke sana.

Adanya Society 5.0 pun membuat orang tua bisa berobat dengan mudah dari jarak jauh melalui perangkat komputer pada dokter yang ia tuju. Dokter pun punya semua data biometrik berbentuk Big Dasta milik si pasiennya, mulai dari riwayat penyakit hingga data kemungkinan penyakit yang dimiliki si pasien. Sehingga ia bisa mengetahui keluhan penyakit si pasien dengan cepat. 

Proses analisa penyakit si pasien dilakukan dengan Deep Learning dan Machine Learning  untuk proses diagnosis lebih cepat dan tepat.

Bila butuh penanganan lebih lanjut, barulah akan ada kendaraan autonom yang akan menjemput pasien secara mandiri hingga ke rumah sakit. Obat dari resep dokter akan dikirimkan via drone setelah pasien tiba di rumah. 

Bagi pasien yang ingin berkonsultasi atau bahkan proses operasi akan melibatkan Virtual Reality. Cara ini dinilai lebih tepat dalam mendiagnosa bagian yang perlu dioperasi oleh dokter. Kemudian pasien tidak perlu kebingungan lagi saat menunggu resep yang akan diantarkan langsung ke rumah via drone.

Bidang pertanian adalah sentra unggulan di Jepang khususnya dalam pemenuhan pangan dan pencaharian masyarakat pedesaan. Jepang pun tidak punya banyak anak muda yang menggarap lahan pertanian. Sedangkan orang tua sudah terlalu uzur dalam mengoperasikan traktor dan berpeluh keringat di dalam terik matahari yang menyengat kulit.

Di Society 5.0, Jepang membangun smart agriculture yang terkoneksi dengan IoT dan machine learning. Jepang pun mencetus konsep smart agriculture, mengolah lahan pertanian tak harus berpeluh keringat karena sudah terkoneksi dengan gadget. 

Sejumlah peralatan seperti traktor akan membajak sawah sendiri sesuai alur yang ia inginkan. Pekerjaan ini bisa dilakukan secara jarak jauh, termasuk memantau perubahan cuaca hingga hama pengganggu di lahan milik pribadi.  

Di mulai dari sistem pengoptimalan irigasi yang bertugas mengairi lahan pertanian. Traktor yang bertugas membajak lahan menggunakan komponen robotik yang dapat dikontrol secara jarak jauh melalui gadget. 

Traktor akan mengetahui areal mana yang akan dibajak sesuai arahan pemiliknya. Bukan hanya itu saja, ada rangkaian sensor yang mampu mendeteksi cahaya, kelembaban, suhu, hingga gangguan hama.

Di bidang finansial, pengguna tidak lagi memerlukan uang kertas karena menggunakan cloud accounting. Proses pembayaran khas Fintech (finansial teknologi) yang mengusung konsep peer to peer yang cepat dan transparan. 

Sebelumnya proses transfer butuh waktu yang lama, harus ke bank dan antre cukup lama. Paling cepat adalah transfer dengan jumlah terbatas dengan potong yang besar. Fintech mampu melakukan transaksi antar benua dalam hitungan detik, potongannya pun sangat kecil dan efisien.

Di dunia konstruksi hal yang paling dipertimbangkan adalah keselamatan pekerjanya. Ada banyak risiko yang bisa terjadi dan mengancam nyawa pekerja. Pembangunan gedung dan jembatan salah satunya, risiko bangunan runtuh atau terjatuh dari tempat tinggi. Nyawa pekerja akan menyisakan tangisan anak dan istri di rumah.

Salah satunya adalah penerapan IoT dalam kontrol bangunan, pekerja tidak perlu lagi turun ke lapangan yang punya risiko tinggi. Saat pembangunan pun akan banyak robot yang bekerja untuk beberapa pekerjaan dinilai cukup riskan. Petugas hanya akan datang ke lokasi yang mengalami gangguan berdasarkan info dari IoT. Bahkan proses perbaikan melibatkan robot dengan kontrol menggunakan Virtual Reality.

Kemudian ada banyak pekerjaan tak manusia yang mau tak mau harus manusia jalani untuk menyambung hidup. Seperti para pembersih kaca gedung tinggi, tim SAR di lokasi bencana, hingga pembersih gorong-gorong. 

Pekerjaan model tersebut sangat rentan dan nyawa jadi taruhan kapan pun andai saja lengah. Adanya teknologi seakan membuat peran manusia tergantikan, sekaligus menghargai peran mulia manusia sebagai pusat kontrol.

Terakhir penerapan Society 5.0 di bidang literasi dan seni, Jepang sudah memulai beberapa tahun yang lalu. Salah satu buktinya keberhasilan novel sastra buatan AI berjudul The Day a Computer Writes a Novel masuk dalam nominasi Nikkei Hoshi Shinichi Literacy Award. Penghargaan ini sendiri diambil dari nama novelis ternama Nikkei Hoshi Shinichi yang banyak menghasilkan banyak karya di bidang fiksi ilmiah.

Kegaduhan ini ternyata dilakukan oleh seorang Profesor di Future Hakodate University bernama Hitoshi Mitsubara mencoba mengembangkan novel ilmiah karya dengan menggunakan AI-nya. Meskipun gagal memenangi penghargaan, tapi itu sangat mengejutkan dunia literasi. 

Menurut pendapat para juri karena karakter tokoh yang ditanamkan kurang kuat sehingga masih terlihat kabur. Meski begitu, ini jadi awal baru AI bisa berbuat banyak di dunia literasi.

AI yang Siap Mengganggu Eksistensi Penulis dan Musisi

Kehadiran AI yang mampu berpikir secara Deep Learning khas manusia jelas membuat nasib penulis dan musisi ada di ujung tanduk. Tapi tak perlu khawatir karena AI malah memudahkan dan meningkatkan kreativitas para konten kreator. 

Apalagi konsep yang diterapkan pada AI komputer milik Hitoshi Mitsubara adalah berbasis Machine Learning dan Deep Learning. Sehingga ia akan mencarikan bahan yang kita mau dan meringkasnya dalam waktu singkat.

Singkat cerita manusia punya kontrol lebih di era Society 5.0, ia bak seorang kepala koki di sebuah restoran ternama. Tugasnya adalah memasak menu terbaik yang sudah dipesan pelanggan, urusan belakang layar itu urusan kaki tangannya. 

Mereka yang membeli bahan, peralatan dapur hingga mengatur suhu oven di kondisi optimal. Tugas si koki adalah menghasilkan cita rasa masakan yang pas di lidah dan memanjakan pelanggan di meja makan.

Gambaran seperti itulah tugas penulis dan musisi di era Society 5.0, ia tidak perlu harus melakukan riset panjang dan mahal yang menghabiskan banyak waktu. Biaya bisa dipangkas dan jumlah karya yang dihasilkan jadi lebih banyak. 

Tugasnya hanya fokus menulis dan berkarya, bahan yang ia inginkan sudah dicarikan dan dipelajari oleh Machine Learning dan Deep Learning. Tidak ada alasan lagi bermalas-malasan dalam berkarya karena teknologi sudah menyediakan segala yang kita butuh.

Bagi mereka yang punya kemampuan terbatas, kedatangan teknologi yang datang bak sebuah ancaman yang merebut pekerjaan dan eksistensinya. Namun begitu, anggap saja teknologi yang datang bukan sebagai pesaing tetapi sebagai kolaborasi dalam menghasilkan pekerjaan yang lebih efisien. 

Jangan takut perubahan dan disrupsi sebagai sebuah ancaman. Tapi anggaplah segala perubahan besar sebagai peluang dan kesempatan berkolaborasi di dalamnya.

Jepang kini memulai langkah baru itu dan tak tertutup kemungkinan sejumlah negara lain yang punya masalah serupa meniru langkahnya. Masalah penduduk yang mulai terbatas mampu diatasi dengan gebrakan Society 5.0. Memberikan nuansa baru hidup yang harmoni dan seimbang antara manusia dan teknologi. 

Konsep kolaborasi buat Jepang jadi terdepan dalam perubahan menyambut masa depan. Bagaimana, siapkah kita menyambut perubahan masa depan?

Semua tulisan ini menginspirasi dan memberikan edukasi pada kita semua.