Sebuah sore membingkai samudera yang tenang. Di atas batu-batu tepi laut hasil reklamasi, dia duduk menghadap ufuk barat. Sebentar lagi, dan ini yang dia tunggu, matahari akan terbenam. Dia akan memejamkan mata, merasakan angin laut menepuk-nepuk mimpi-mimpinya. 

Sementara menunggu, gumpalan awan putih berubah-ubah bentuk. Kadang seperti kepala singa, pipi gemuk bayi mungil menggemaskan, bahkan terkadang menjelma menjadi juluran tangan yang menggapai-gapai. Apapun jelmaan dari pergumulan antara awan dan angin, raut wajah itu tidak pernah benar-benar lenyap dari pandangannya, selalu ada.

Seberang jalan rumah kosan, di sebelah rumah makan kecil yang bergenggaman tangan dengan jongko sangat-sangat sederhana tempat dia membeli rokok ketengan, ada sebuah wartel. Iya, Warung telepon. Suatu tempat yang pada waktu menjelang akhir bulan memproduksi muka-muka murung mahasiswa perantauan, lunglai menelepon orang tua, meminta tambahan dana untuk hidup. Dia telah memperhitungkan waktu yang tepat untuk ke wartel tersebut, memprediksi kapan kiranya antrian di Wartel tidak terlalu panjang.

Setelah mengantri kurang lebih setengah jam, sisa satu orang lagi di depannya. Tak lama kemudian, giliran dia tiba. Dia masuk, ragu yang menjalar tiba-tiba mencegahnya. “Tidak apa-apa, kan hanya teman,” sebuah suara muncul di benaknya. “Jangan, tidak ada gunanya!” suara lain mencegah. Suara-suara yang berseberangan bergumul dalam pikirannya. Dia menoleh ke belakang. Di balik kaca, seseorang bersedekap gelisah menunggu. Dia tekan nomor yang baru dua hari sebelumnya dia dapat dari teman semasa SMA.

“Halo...” jantungnya berdebar-debar, bibirnya bergetar, kedua kakinya lemah lunglai mencoba untuk tegak berdiri. 

“Halo, siapa ini?” suara itu mewujud sedemikian rupa dalam pikirannya menjadi wajah itu, wajah yang selalu muncul dalam malam-malam panjang yang menggelisahkan. 

“ini Irfan, Delima ada?” susah payah dia melafalkan nama itu. 

“Hey, Irfan, apa kabar? Ya ini aku, Delima” ramah dan renyah sekaligus menakutkan. 

“Katanya mau menikah minggu depan, ya?” Irfan bertanya dan dalam hatinya membentuk jawaban yang diinginkan, entah itu satu kata singkat ”tidak” ataupun tertawa sembari berkata,”ah itu bohong, kabar lalu saja.” Sambil seperti biasa, mencibir, seperti dulu waktu masih satu kelas, mengisi hari dengan senda gurau.

“Iya,” lirih Delima dari sana. Hening, bergejolak. Meski payah, dia berupaya untuk tetap tenang. Kemudian senyap berkuasa.

Di sana tempat dia tadi meletakkan pandangannya, kegelapan mulai menutup-nutupi sinar matahari. Telepon genggamnya menggelepar, membunyikan suara azan yang memang sengaja diatur supaya tahu jadwal salat. Maghrib tiba. Dia membuka mata, menyerap suasana untuk terakhir kali, seolah-olah keindahan senja ini akan disimpan untuk menjadi bagian dalam tubuhnya pun pikirannya. 

Ia bergegas mencari musala. Bagaimanapun tebal rasa rindu akan wajah itu, bagaimana pun syahdu suasana senja di tepi pantai, kewajiban tetap saja kewajiban. Aku mendengar, aku taat.

Kemarin, di tengah bertubi-tubinya bunyi notifikasi dari berbagai grup WA -grup-grup ini seolah mewakili setiap episode hidupnya, ada grup teman SMP, teman kuliah, teman organisasi saat kuliah, teman satu jurusan fakultas, teman kerja, Dewan Kemakmuran Mesjid kampungnya dan seterusnya dan seterusnya-  Irfan mendapati dirinya ada grup WA baru di mana dia baru saja diundang. 

Tertera nama grup itu, Alumni SMA Kaguci. Ada malas mengingat telepon genggamnya sering hang. Tapi ada juga bohlam lampu menyala seterang-terangnya di atas kening dia. Beberapa kawan dekat yang pernah satu kelas sudah hadir di grup baru itu. Ada Wildan yang sekarang jadi pengusaha sukses padahal dulu tak pernah akur dengan guru ekonomi, Mulyani yang menjadi penulis padahal dulu matanya berurai air mata bila dihadapkan dengan buku-buku tebal, ada Redy yang sekarang merantau di Eropa sana. “Tapi, ah, apakah dia ada?” pikirnya.

Malu-malu bercampur penasaran, dia melihat photo profile masing-masing anggota grup. Jempolnya asyik men-scroll layar sentuh. Ada yang masih dia ingat, sebagian lupa, sebagian lagi photo profilenya berisi kata-kata bijak tentang hidup dan kehidupan. Dan, akhirnya... wajah itu ada. Senyumnya tetap sama, alis matanya masih tebal tanpa ikut campur pensil. Hanya ada sedikit kerut di kedua pojok matanya. Wajar, delapan belas tahun berlalu.

"Tuhan, apakah iya untukku, ya untukku, berpoligami itu boleh? Tentu saja boleh, empat, kan?” 

"Tapi kan syaratnya adil, bagaimana caranya coba?” 

"Ah, adil itu relatif, kalau semua pihak menerima, ya sudah, itu lebih dari cukup." 

"Huh, gayamu adil, salat aja bacaan suratmu hanya berutukar-tukar Qulhu sama An-nas doang.”

“Lha yang penting kan syarat terpenuhi.” 

"Eh dodol, kalau kamu masih SD Cuma dua surat doang itu wajar-wajar saja, tapi usia segini? Kamu tuh sudah ga adil untuk dirimu sendiri.” 

“Ah, berisik!!”

Delima, apa kabar?” Irfan mengirim pesan pribadi. Centang satu berubah menjadi dua. Matanya tajam mengawasi kedua centang itu. Dunia terasa berhenti berputar. Biru!! Sesaat kemudian, Delima is typing

Hey, bro. Bentar ya, Delima lagi ke warung depan, hapenya ketinggalan.” 

Irfan terkesiap. Delima is typing, lalu, ”Ini Bram, Kelas IPA, inget ga?”

Senyap.


Baca cerpen lainnya:

Sang Dewi
A Story of Unfaithful Lovers