Bagian 1

Aku berjalan kaki saat sanja, melihat orang-orang berseliweran dengan aneka gaya dan warna.

Dari sini kutemui juga aneka ekspresi di wajah setiap yang berlalu lalang. Musik jalanan, pameran mini satwa, sapuan angin dan percakapan. Yang palig kusukai ialah memotret awan-awan di senja kala. Warna keemasan matahari terbenam bagai penerang malam menambah keindahan alam semesta. Warnanya ialah “lampu” kehidupan, cermin kemeriahan malam yang mengisi kesendirian.

Berganti malam, saat terbaik untuk mengapresiasi dalam leburan doa-doa malam yang syahdu.

Sungguh tak akan habis rasa terima kasih ku telah diberi kesempatan dinaungi oleh bumi-Mu 24 jam tanpa tidur.

Ditengah ragam kesibukan manusia, adakalanya rindu menyeruak, masih sempatkah aku menjadi saksi kebesaran-Mu? Aku rindu senja, apakah senja merindukanku juga?

Bagian 2

Semoga kerinduan ini membawaku pada kesyukuran.

Dari banyaknya pengagum senja juga diriku satu hal yang dipinta

Semoga senja menjadi pengantar insan kepada manisnya ketaatan

Bukan sebagai sesembahan!!

Bagian 3

Senja kini beralih ke malam.

Malam-malam seperti malam kemarin. Sesungguhnya tidak ada perayaan khusus tentangnya, entahlah mungkin hanya aku saja yang kegirangan menyambutnya.

Ku maknai perayaan malam ini kalau boleh dikata sebagai rasa syukurku atas nikmat yang amat dalam. Aku masih bernafas jariku masih lincah dan aku masih berbagi tawa dan orang-orang baik disekelilingku.

Sebab,setiap akhir menuju awal yang baru.

Disetiap masa, selama bumi berputar.

Bagian 4

Kebanyaakan manusia larut dalam kenikmatan tapi...

Lupa bersyukur dan menundukkan hati hanya untuk mengingat-Mu.

Jangan biarkan raga ini berpaling lalu menduakan-Mu.

Semoga senantiasa hati ini, tetap terjaga dalam keimanan.

Bagian 5

Dari kami sang pengagum keindahan, sudahkah kami mengagunkan-Mu?

Dari kami si perindu, sudahkah kami rindu sepenuh hati padamu di dalam  sujud?

Bagian 6

Dari balik jendela kamarku

Aku menengok awan menghitam..

Suranya yang gemuruh meleburkan keinginan langit..

Tanda kilat seolah mengisyaratkan tangis langit yang akan pecah..

Tangankupun gugup, tergesa-gesa menggenggam jemari sendiri..

Seraya berdoa dan semesta pun bertasbih dalam keharuan..

Bagian 7

Hari kian larut....

Senja kini bergani malam

Jejak-jejak rindu yang tersisa

Menyadarkanku pada satu hal

“Suatu hari kau pasti bisa meninggalkannya”

Tetap berpegang teguh di atas sabdanya.

Bagian 8

Dasar kau ini, main cinta-cinta melulu

Kau terlalu terpesona wajah tampan-ayu di dalam layar

Kau puja mereka  setinggi langit,  mencintai melebihi dirimu sendiri.

Sungguh ku heran padamu, karena mereka seluruh lagumu hanya lagu sendu melulu..

Cinta jenis apa itu!??

Bagian 9

Lekas tutup!

Jika usai ku mengenang hari lalu

Lekas tutup!

Untuk segala hal merusak!

Hentikan

Jika itu mengancam sendi kehidupanmu

Mau maju atau mundur?

Bagian 10

Semilir angin berhembus hingga menembus pori

Waktu kini meninggalkan jauh, menyadari makin tipis sempatku

Masihkah aku dibersamai-Nya?

Langkahku makin jauh, namun sering juga tertinggal

Helaan nafas ini, masih menghirup udara segar

Langkah kaki ini masih lincah bergerak

Namun aku tak tahu pasti, sudah benarkah langkah kakiku ini mengarah?

Mata batin ini, jika dipaksa jujur akan berkata keliru, walau setengah hati

Kepala ini, jika ingin dibuka memorinya, maka akan ditemukan sistem pemikiran tak teratur

Setengah hati aku membaca ke dalam diri, aku sedang dalam ketidakberaturan di hati dan pikiran.

Seakan melawan nurani bingung apa yang harus dibela

Nafsu atau akal?

Malam makin mendekat padaku

Semoga waktu mengizinkanku untuk mengejarnya atas apa yang telah terlewatkan bahkan terbuang percuma.

Bagian 11

Melintas jejak dengan dia yang mencuat dibatas kalbu

Mencoba mengurai rindu yang membelitku

Waktu kian singkat untuk merangkai bagaimana rindu ini tersampaikan

Dalam sunyi ini, mengecap dia dalam imaji.

Dia yang membuatku tersenyum setengah mampus

Kata orang, tidakkah kau tersiksa dalam sepi?

Sepi itu menyakitkan.

Namun bagiku, sepi itu indah, sepi tidak selamanya kelam.

Karena, dia mengisi ruang hati dan pikiran ini hingga menjadikannya berwarna.

Karena nya aku tak pernah merasa sepi membunuhku

Sebab dia adalah inspirasi kehidupan dan bersama dia sepi justru bernyawa dan benderang

Menggambarkan imajinasi akan sisi lain dari hidupku, hingga sunyi tiada daya menerpa.

Bagian 12

Demi masa

Sesungguhnya manusia dalam kerugian

Melainkan, mereka yang mampu menggenggam waktu

Dengan amalan kebaikan dan menjauhi perbuatan dosa.

Serta menggenapi kesabaran dalam hidup.

Bagian 13

Dasar hati

Inti organ yang peka

Katanya, jika diisi dengan hal baik, maka akan menjadi pribadi yang baik

Namun, jika diisi dengan hal buruk, akan buruklah pribadi diri.

Bagian 14

Apa definisi manusia? Makhluk ciptaan Allah yang diberi akal untuk berpikir

Sayangnya, bukannya memilah benar salah malah dipakai berbangga-banggaan akan kecerdasan seolah miliknya.

Manusia itu makhluk ciptaan Allah yang diberi jantung dan hati untuk merasakan kebesaran-Nya.

Sayangnya, dua organ itu justru disalahgunakan untuk membaperi yang tidak akan kekal, bahkan menjadi hujjah di kemudian hari.

Manusia.. makhluk dengan segala keunikan akal dan laku

Manusia...makhluk yang mudah berubah-ubah, sesuai perubahan peradaban dan masa dengan dalih adaptasi..

Catatan Akhir

Akhirnya, selamat memaknai senja mungkin kita beda persepsi dalam merayakan kebahagiaan namun saya yakin kadar syukur diri masing-masing tidak akan luntur. Selamat bersyukur jaga kewarasan cinta akal sehat.