Hermeneutika berasal dari Bahasa Yunani Hermeneueien yang artinya menerjemahkan atau menafsirkan. Kata tersebut juga berarti membawa sesuatu dari kegelapan menuju tempat yang lebah terang. Membawa apa yang tidak diketahui menjadi diketahui. 

Hermeneutika juga berhubungan dengan Dewa Hermes yang bertugas untuk menyampaikan pesan dari dewa-dewa Olimpus kepada manusia.

Aristoteles memakai kata hermeneutika pada salah satu judul bukunya yang berbicara mengenai penafsiran. Ketika kita berbicara mengenai hermeneutika, kita bicara mengenai manusia sebagai animal symbolicum

Apa yang ada pada manusia sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu. Apa yang dilakukan manusia ingin mencari arti dari sesuau. Menurut Ponty, manusia itu condemned to meaning. Manusia tidak pernah lepas dari jerat makna.

Hermeneutika tidak hanya membahas mengenai kitab suci, kendati pada awalnya hermeneutika digunakan untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutika filosofis membahas prinsip-prinsip umum segala hal. Hermeneutika filosofis merupakan hasil pengerucutan dari metode tafsir dan metode ilmiah.

Apa yang ditafsirkan? Teks. Teks dalam Bahasa Latin berarti anyaman. Hal ini mau nenunjukkan bahwa teks adalah anyaman jaringan-jaringan makna. Manusia, karena tidak pernah lepas dari jerat makna, berusaha untuk terus mencari makna dan memaknai sesuatu. 

Manusia sendiri adalah makhluk yang penuh makna. Setiap gerak-gerik tingkah laku manusia mau mengungkapkan sesuatu. Cara bicara tertentu ingin mengungkapkan makna tertentu. Postur tubuh tertentu mengungkapkan makna tertentu. Dengan kata lain, makna tersirat dalam cara berada kita baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Schleiermacher dan Hermeneutika

Friedrich Schleiermacher (1768-1834) merupakan perintis hermeneutika romantik. Ia adalah perintis hermeneutika kontemporer yang nanti marak berkembang pada abad ke-20. 

Tujuan dari apa yang dilakukan oleh Schleiermacher adalah melakukan hermenutika untuk teks-teks kuno. Latar belakang pada masa Schleiermacher adalah romantisisme sebagi reaksi atas pencerahan.

Persoalan yang muncul saat ingin memahami teks-teks kuno adalah adanya kesenjangan antara pembaca dan teks yang ditulis oleh penulis dari masa lampau. Dengan hermeneutika, Schleiermacher mencoba memahami apa yang ada dalam konteks bahasa, apa yang diungkapkan oleh penulis dalam tulisan. Schleiermacher menyebut hermeneutika sebagai seni memahami.

Ada tiga macam seni, yaitu seni bicara (retorika), seni menulis, dan seni memahami. Hermeneutika tumbuh dari retorika, dialetika, dan logika yang menjadi spesifik dalam metode dan prinsip-prinsipnya. 

Seni bicara dan seni menulis adalah sisi luar manusia. Seni memahami adalah gerak ke dalam manusia. Target hermeneutika adalah dunia mental penulis, bukan tulisannya itu sendiri.

Ada dua proses yang berbeda dalam memahami. Pertama, proses menulis yang bergerak dari tulisan ke pikiran. Kedua, proses memahami tulisan yang bergerak dari tulisan ke pikiran.

Ada dua proses dalam hermeneutika. Pertama, interpretasi gramatis. Kedua, interpretasi psikologis atau dunia mental penulis.

Interpretasi gramatis mencoba mengamati pergeseran makna dalam kata. Contohnya adalah hospice yang awalnya berarti 'perang' atau 'lawan' menjadi 'orang asing'. Kata bonum awalnya berarti 'orang ningrat', menjadi 'baik' dalam arti etis. 

Setiap pergeseran makna harus diamati. Ini adalah sisi objektif dari teks. Interpretasi psikologis mencoba menanyakan apakah yang dipikirkan oleh penulis ketika menggunakan kata tersebut. 

Contohnya adalah mengapa R.A. Kartini memilih frasa "Habis Gelap Terbitlah Terang"? Di balik frasa tersebut, ia mau menunjukkan adanya unsur psikis tertentu dalam diri R.A. Kartini yang membuatnya memilik susunan kata seperti itu.

Target dari interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis adalah “mengalami kembali”. Penulis mencoba mentrasposisi diri sebagai pengarang. 

Bagi Schleiermacher, kita sangat mungkin memahami pikiran penulis seutuhnya. Sangat dimungkinkan bahwa kita memahami lebih baik maksud dari tulisan penulis daripada si penulis sendiri. 

Kita dapat memahami penulis lebih baik daripada si penulis itu sendiri memahami dirinya. Hal ini disebabkan karena penafsir mengetahui lebih banyak daripada penulis. 

Penulis telah mempelajari latar belakang penulis yang mungkin saja si penulis tidak menyadari hal ini. Dalam tahap ini, kita sampai pada objektivitas dalam melihat teks.

Antara interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis itu sama-sama penting. Ada korelasi timbal-balik antara keduanya. Dari sini muncullah lingkaran hermeneutis.

Kita pun diajak untuk membebaskan diri dari lingkaran setan untuk berdebat untuk mendalami mana yang lebih dahulu antara bagian-bagian dan keseluruhan. 

Memperdebatkan mana yang terdahulu dan mana yang menyusun berikutnya tidak akan membuahkan hasil. Ini seperti memperdebatkan mana yang terlebih dahulu antara ayam dan telur. Inilah yang dimaksud dengan lingkaran setan. Bagi Schleiermacher, kita harus memahami bagian dan keseluruhan sekaligus.

Apakah langkah-langkah hermeneutika Schleriermacher ini rumit dan menyusahkan penafsir? Bagi Schleiermacher, ini adalah sebuah seni. 

Sebagai sebuah seni, seorang penafsir tidak akan puas ketika 'hanya' mendapatkan satu makna. Ia akan terus mencari dan menggali, sehingga pemahaman yang didapatkan tentang maksud penulis menjadi makin lengkap.

Kontribusi Schleiermacher adalah melampaui literalisme. Kita tidak bisa memahami teks sebagaimana apa yang tertulis. Makna yang ingin diungkapkan berada di balik apa yang tertulis, yaitu konteks sosio-historisitas dan gramatikal pada waktu teks tersebut ditulis. 

Kita butuh menafsirkan apa yang tertulis untuk dapat memahami maksud penulis. Ada sesuatu yang lebih daripada apa yang tertulis.

Sumber:

Hardiman, Budi, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Kanisius, Yogyakarta, 2016.