Semesta mengundang suara dan nada untuk bercerita di senja yang kini mulai datang membayang di kota kecil kesayangan. Bertutur dalm tiap alur dan berjalan melalui jalur yang membuat kisah tentang pengamen jalanan yang babak belur. 

Suara diiringi angin yang mulai mendetingkan setiap nada pada jam dinding. Semesta hanya ingin bercengkerama lewat sukma yang kadang berujar lama. Kini senja hari membayangi ufuk bagian barat di suatu tempat yang penuh bangunan riwayat yang cukup menyayat. 

Suara kini ikut prihatin. Bagaimana tidak, semesta mengundangku di tempat yang sunyi dan sepi sekali? Bangunan tinggi menjulang dipenuhi kelipan bintang=bintang yang melayang. Indah sekali memang. 

Tapi, tak ada suara tak ada nada yang ada hanya duka dan nestapa. Dibalik menjulangnnya tiang-tiang masih terlihat kesedihan diantara gubuk-gubuk dengan kayu dan rumbaian lapuk sebagai kasur empuk. 

Ke mana perginya suara mereka? Tak terdengar hanya diam yang terasa. Kala senja menyapa diantara penghujung waktu mulai tergantikan bintang dan rembulan. Suara datang bertanya pada keduanya. 

Ada apa dengan kota ini, sejak aku datang tak satupun suara-suara ataupun nada terdengar menggelegar? Bintang dan rembulan yang berkedudukan di antara awan malam itu hanya saling berpandangan. Tak tahu apa yang harus dikatakan. Mereka hanya terdiam tak bisa memberikan jawaban. 

Suara kian penasaran ia hanya bisa berfikir dan terus berfikir hingga tiba ia ingin mendatangi langit. Wahai langit yang tinggi, sudikah kiranya engkau menjawab atas pertanyaan yang datang dalam pikiranku ini?

Langit sedari tadi sibuk mengatur pergantian hari mulai pagi hingga malam datang menhampiri untuk segara hadir menggnatikan posisi. Langit sebenarnya agak kesal karena kerjanya menjadi kian asal. Tak fokus atas apa yang menjadi tugas. Tapi, langit berusaha bijak karena suara juga berhak untuk mengutarakan pertanyaan. pertanyaan seperti apa suara? 

Ujaran mulai terdengar. Jika aku mampu menjawab aku akan menjawab sesuai pemahaman yang aku ketahui. Suara mulai agak lega. Sudah tiba saatnya ia mengutarakan cerita di kota dengan tiang-tiangnya yang tinggi. Kau pasti mengenal lebih jauh tentang kota ini, bukan? 

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan kota ini semenjak subuh hingga petang hari. Aku tak mendengar satupun suara dibalik bangunan-bangunan maupun manusia-manusianya, ada apa sebenarnya? 

Kini langit mulai menghentikan pekerjaannya. Mulai terdiam, merenung, dan berfikir. Ia tahu benar apa yang sedang terjadi di kota ini. Sudah beberapa tahun yang lalu melanda kebisuan massal di tiap lini kehidupan. 

Entah, mengapa dan sampai sekarang masih tak terdengar satu suara semut pun yang beradu udara. Jika tragedi itu tak terjadi pasti keceriaan kota dengan berbagai elemennya pasti akan riuh dan terpancar rasa kebahagiaan. 

Kini kota indah terlihat murung. Seolah bangunan tinggi itu tak bisa membendung mendung yang merundung. Tragedi suara dan nada bercekcok atas kemampuan yang sudah digariskan.

Langit menoleh, bukankah kau berasal dari keluarga suara, seharusnya kakek dan nenekmu bercerita agar tak mewariskan kisah yang menyedihkan di kota ini? Tentunya kau lebih tahu bagaimana mencari solusi terbaik agar kota ini tidak terlihat mati. 

Bagaimana hubunganmu dengan nada, apakah sudah membaik? Pertanyaan itu malah membuat suara kian penasaran. Memang benar dari dulu suara dan nada tak bisa bersatu meskipun satu marga. Perebutan warisan kian memtuskan ikatan yang dulu pernah terjalin. Tentu pasti belum membaik.

Bukankah sudah sedari dulu kami tidak bisa berdamai karena masalah tertentu yang masih belum selesai. Langit menghela nafas panjang. Itulah kenapa semesta mengajakmu berdialog bersama dengan nada di pertemua kali ini. Pertemuan di kota yang kelihatannya berseri namun sejatinya mati. 

Tentu ada andil besar jika kalian tidak mempertuhankan nafsu hingga kota dengan bangunan indah itu menjadi korban atas apa yang kalian sumpahkan. Tunggulah sebentar lagi, nada dan semesta akan datang. Pertanda kabar baik untuk kota ini menjadi bersuara dan bernada kembali.

Suara hanya bisa menghela nafas Panjang mengiring setiap tebaran bintang yang kini datang menyapa. Semesta dan nada berjalan beriringan berdiskusi hebat. Entahlah apa yang sedang dibicarakan. Suara hanya tersadar akan sebuah kebijaksanaan. 

Kini dia harus bertransformasi menjadi diri yang lebih menghargai tentang cerita dan kisah yang tak berkesudahan. Tentu dia dan nada harus bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tanpa harus peduli dengan kisah leluhur yang menghancurkan tali yang agung. 

Persaudaraan harus bisa kembali. Kembali untuk menenangkan kepahitan yang kini menghantui. Berbagi kasih seperti dulu lagi adalah cara terbaik. angin bintang aquarius meliukkan daun-daun kejora yang gemerlapan. Bersenandungkan zaman.