Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyadari bahwa frasa "Wrong person at the wrong time", "Wrong person at the right time", bahkan "Right person at the wrong time" dalam sebuah hubungan adalah konsep yang keliru dan menyesatkan.

Kita (saya dan juga Anda, kalau perlu ditekankan) terlalu fokus pada kebahagiaan dan keberadaan diri kita sendiri, sehingga dengan mudah kita memberikan label bahwa si N bukan orang yang tepat, si J orang yang tepat tapi saat ini bukan saat yang tepat untuk berurusan dengan dia, sehingga pada akhirnya kita sibuk mencari yang kita sebut dengan orang yang tepat.

Kita sibuk memilah-milah mana disebut sebagai orang yang tepat, mana yang disebut sebagai saat yang tepat. Hingga akhirnya kita melewatkan banyak kesempatan yang sebenarnya memperkaya hidup kita. Tulisan tentang ini sebenarnya sudah buanyak sekali, tapi izinkanlah saya mengoceh sedikit tentang ini.

Dalam urusan pertemanan dan percintaan, kita punya kriteria-kriteria tertentu tentang siapa saja yang boleh hadir dalam lingkaran pergaulan dan lingkaran hidup kita. Kadang-kadang malah kita mendasarkan keputusan kita mengenai apakah orang tersebut bisa tetap berada dalam hidup kita hanya karena perasaan "klik" ketika pertama kali kita berinteraksi dengannya.

Apakah itu salah? Tentu tidak, itu sah-sah saja. Kecocokan karakter dan kesesuaian cara berpikir adalah hal-hal yang membuat kita tertarik dengan seseorang dan akhirnya membuat kita ingin mengenali orang tersebut lebih dalam lagi. Entah itu sekedar menjadi teman atau mungkin bisa berlanjut menjadi calon pasangan.

Yang kemudian saya pikir 'keliru' adalah ketika kita mulai mengotak-ngotakkan apa yang terjadi dalam hidup kita. Terhadap mantan pacar yang mengecewakan hati, kita akan mengatakan bahwa dia adalah orang yang salah yang datang pada waktu yang salah. Lah, yang dulu nyuruh kamu pacaran sama dia siapa? Mbah dukun? Kan tidak, kan kamu sendiri yang dengan sukarela mengiyakan ajakannya untuk pacaran (atau untuk menikah).

Terhadap gebetan yang muncul ketika kita sudah menjalin hubungan dengan orang lain, kita akan mengatakan bahwa si gebetan ini adalah orang yang tepat yang datang di saat yang tidak tepat. Si gebetan yang tidak tepat, atau kamu yang tidak tepat karena masih kebelet menggebet orang lain saat sedang menjalani hubungan dengan orang lain?

Atau, jangan-jangan,

Tidak ada yang salah sama sekali. Tak ada yang keliru. Semuanya tepat. Orangnya maupun kesempatannya.

Bagaimana mungkin itu terjadi?

Setelah melakukan perenungan yang cukup lama sambil gogoleran di kasur kesayangan, saya sampai pada satu kesimpulan. Bahwa semua orang yang kita temui adalah orang yang tepat. Setiap waktu yang kita jalani adalah saat yang tepat. Lalu yang tidak tepat apa dong? Tidak ada.

Contoh nih, misalnya kita kecopetan, ya itu juga orang yang tepat di saat yang tepat. Malingnya kan orang yang tepat, yang bisa dengan cepat mengambil dompet. Saat kita kecopetan juga saat yang tepat, karena kita sedang lengah, karena kita tidak meletakkan barang berharga dalam posisi yang aman.

Kalau kita bertemu dengan orang yang memiliki 8 dari 10 kriteria calon pacar yang kita idamkan, tapi pada saat yang sama kita sedang berpacaran dengan orang lain yang memiliki 7 dari 10 kriteria tadi, apakah berarti kita bertemu orang yang tepat di saat yang tidak tepat? Oh, tidak!

Si orang 8 dari 10 kriteria tadi adalah orang yang tepat, karena kita jadi mengetahui bahwa ada toh ternyata orang yang memenuhi mayoritas kriteria yang kita buat. Apakah saatnya tidak tepat? Justru saatnya sangat tepat! Lho, kok?

Lha, iya! Ketika kita yang ceritanya sedang menjalani suatu hubungan kemudian bertemu dengan orang lain yang ternyata lebih memikat, maka itulah saat yang tepat untuk memikirkan lagi hubungan kita, kan? Apakah akan bertahan dengan yang sedang dijalani? Ataukah lari ke pelukan si pendatang baru? Atau malah karena tidak betul-betul yakin dengan si pendatang baru, kita tetap mempertahankan yang sudah ada, tapi sambil icip-icip dengan yang baru menghampiri?

Semua yang hadir dan singgah dalam hidup kita adalah orang yang tepat. Setiap waktu yang kita jalani adalah saat yang tepat. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita bersikap terhadap orang yang tepat ini, pada saat yang tepat ini.

Apakah kita akan mengedepankan ego narsistik kita, bahwa semua yang ada di dunia ini haruslah memberikan kebahagiaan pada diri kita? Atau bahwa semua orang yang hadir dalam hidup kita, semua kejadian yang terjadi berpusat pada keberadaan diri kita? Dan bila tidak terjadi seperti itu, apakah hal tersebut, orang itu adalah kesalahan? Atau saat yang dimaksud adalah saat yang tidak tepat? Atau bersediakah kita mencoba berdiam diri sejenak, dan memikirkannya sedikit lebih lama?

Memahami konsep bahwa semua orang yang hadir dalam kehidupan saya adalah orang yang tepat, dan setiap saat, setiap kejadian yang saya alami adalah juga saat yang tepat, membuat saya sedikit bisa bernapas lega. Setidaknya saya tidak terlalu mumet merasa dicurangi oleh hidup. Setidaknya saya tidak terjerumus dalam penistaan diri karena saya merasa bego sekali pernah berkenalan dengan Si A, menjalani hubungan dengan si K, dan berteman dengan si G.

Semua yang hadir membuat kita belajar tentang sesuatu, tentang hidup, tentang diri kita, tentang bagaimana kita bereaksi dan mengambil keputusan. Setiap saat yang kita jalani memberikan pengalaman yang berbeda. Ada yang menyenangkan, yang akan kita ingat dalam jangka waktu lama. Ada yang menyebalkan, yang juga akan kita ingat agar tidak terjebak melakukan hal yang sama.

Semuanya tepat. Sama seperti kamu. Ya, kamu. Yang jatuh cinta dan patah hati berkali-kali, tapi selalu berhasil bangkit berdiri. Kamu juga orang yang tepat, datang di saat yang tepat untuk mengajari saya agar mampu mengenali diri. Terima kasih dan sampai berjumpa lagi.