Bersikap keras hati dan tergerusnya kelembutan dan kebijaksanaan dari masyarakat membuat kita tak mampu menangkap pesan cinta antarsatu sama lain. Akibatnya, awan gelap kebencian menyelimuti keseharian kita, menjauhkan kita dari relasi sosial yang penuh kedamaian dan kesukacitaan. 

Kebencian yang menakutkan tersebut tak butuh waktu lama mulai menghantui kebersamaan, membahayakan persatuan, dan bahkan yang sangat mengerikan adalah dapat saling menumpahkan darah karena kebencian yang keji. Begitulah yang terjadi jika saja kita tak saling menahan diri dalam melihat perbedaan yang ada.

Apalagi suhu politik yang mulai hangat (atau bahkan panas), diharapkan setiap kita—masyarakat luas dan para elite politik Indonesia—dapat menahan diri untuk tidak menyulut perbedaan yang ada sebagai alasan berpecah-belah. 

Sangat tak perlu mengorbankan Persatuan Indonesia atau saling membenci satu sama lain demi meraih kemenangan politik hanya untuk melayani nafsu kekuasaaan. Ini penting kembali sama-sama kita ingatkan, dalam menghadapi pesta demokrasi serentak pemilihan umum nasional DPR, DPD dan Presiden pada 17 April 2019 mendatang.

Di tengah suasana kompetisi politik dalam negeri yang makin hari makin mengerucut, kita dikabarkan berita duka kemanusiaan dari bangsa lain. Pada Jumat 15 Maret 2019 lalu di Selandia Baru, penembakan terjadi saat salat Jumat menewaskan 50 orang dan meninggalkan korban luka yang tak sedikit. Tak hanya luka secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka secara psikis. 

Ini adalah masalah kita bersama. Masalah kemanusiaan adalah masalah seluruh umat manusia. Wajar kejadian tersebut mengundang duka cita masyarakat dunia dan kutukan terhadap tindakan amoral itu, tentu karena alasan kemanusiaan.

Pembunuhan tersebut akibat dari sebab kebencian yang begitu mendalam. Merawat dan meneruskan kebencian sangat membahayakan kemanusiaan. 

Hari ini di Selandia Baru, mungkin di masa depan di Indonesia jika saja kebencian terus kita rawat bersama. Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa kebencian tak menghasilkan apa-apa selain hilangnya kedamaian hidup bersama.

"Kami adalah satu, mereka adalah kami," ungkap Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru pasca terjadi tindakan brutal tersebut. Tanggapan responsif wanita 38 tahun tersebut semua atas dasar karena cinta, cintanya pada kemanusiaan. 

Tak peduli siapa korbannya, dari mana asalnya, dan apa agamanya; jika kemanusiaan diinjak-injak, setiap manusia berkewajiban membelanya. Pesan cinta tersebut pun yang membangkitkan semangat persatuan dan kepedulian pada masyarakatnya. Melahirkan arus dukungan untuk saling menguatkan para korban dan saling mencintai antarsesama demi kedamaian hidup bersama.

Kebencian hanya menghasilkan perpecahan, sementara kecintaan menghadirkan kedamaian. Saling mencinta satu sama lain adalah usaha untuk saling mendamaikan satu sama lain pula. Karena sejatinya, setiap orang berkewajiban untuk saling mendamaikan. 

Itulah yang tampak terjadi pasca penembakan brutal tersebut. Masyarakat bahu-membahu menjaga dan memastikan salat Jumat berikutnya tak ada lagi tindakan brutal seperti sebelumnya.

Melihat perempuan yang satu ini, saya menaruh hormat pada usahanya meneguhkan persatuan dan pandangannya dalam melawan perpecahan. Pasca kejadian penembakan di dua Masjid di Christchurch Selandia Baru, banyak orang jatuh cinta pada beliau, termasuk saya, atas pelayanan dan pendampingan pemulihan trauma saudara-saudara muslim di sana. 

Perdana Menteri Jacinda Ardern, terima kasih. Kemanusiaan telah cukup menjadi alasan kita semua sama dan bersaudara.

Jacinda Ardern adalah wanita yang layak dicontoh wanita-wanita kita di Indonesia. Beliau tak hanya rumah cinta bagi keluarganya, tetapi juga mampu menjadi rumah cinta bagi negaranya. 

Wanita hebat yang layak mendapat apresiasi setiap kita, menjadi contoh bagi generasi kaum Hawa. Jacinda Ardern sudah membuktikan bahwa wanita juga bisa melakukan lebih, baik soal kepemimpinan maupun soal keteladanan.

Pesan cinta yang disampaikan Jacinda Ardern mampu membangkitkan semangat persatuan dan penegasan kesamaan pada warga negaranya. Bahwa kita satu, kita tak bisa dipisahkan oleh terorisme tersebut, kita sama warga negara, dan yang paling utama kita adalah sama dalam kemanusiaan.

Tak hanya kata-katanya, di setiap kesempatan pasca penembakan dan dalam suasana pemulihan (pada saat pemakaman korban penembakan misalnya), pilihan sikap Jacinda Ardern juga menyita perhatian warga dunia. Jacinda Ardern memakai tudung kepala (kerudung) untuk menghormati para korban dan juga berusaha menyembuhkan luka hati masyarakat muslim Selandia Baru. 

Pemandangan tersebut berhasil menggugah simpati masyarakat muslim dunia dan dukungan moral kepadanya. Yang paling penting adalah apa yang dilakukan Jacinda Ardern juga dalam rangka melawan islamofobia pada masyarakatnya.

Bangkitnya persatuan dan kesadaran kepedulian antarsesama warga di Selandia Baru hari ini adalah harga yang telah dibayar mahal dengan nyawa para korban. Mahalnya persatuan haruskah kita menyadarinya ketika nyawa telah berjatuhan? Mari kita renungkan bersama, apa yang terjadi di Selandia Baru mestinya tak menunggu nyawa berjatuhan kemudian baru kita semua menyadarinya. 

Semoga masyarakat Indonesia menyadari itu semua. Pelajaran yang penting bagi kita bahwa tak perlu ada nyawa lagi yang dikorbankan untuk kita menyadari pentingnya saling mencintai dan mahalnya persatuan.

Akhirnya, sesekali, cobalah lebih lembut dan bijak, engkau akan menemukan betapa banyak cinta yang berserakan di muka bumi ini" (Pena Cahaya).